Thalia

Thalia
episode 3 (kehilangan ibu parth III)



Saat itu Nyonya Wulan yang terkenal dalam memainkan alat musik saxaphone,akan mengadakan Show tunggalnya yg Bertajuk amal,


karena hasil dari show nya ini akan disumbangkan, ke yayasan peduli anak anak yg berkebutuhan khusus.


pertunjukkan solonya ini yg terakhir ,karena suaminya sudah tidak mengijinkannya lagi untuk meniti karirnya,dan akan fokus menjaga putri mereka Thalia.


"Jein...mana Thalia".


'' Thalia bersama mbok Rhum Nyonya" sambil melirik Thalia yg sedang Bermain bersama pengasuh nya.


Wulan melirik kearah Thalia yg berada di sudut lain ruangan gantinya.


"Kuharap kamu menjaga dan menyanyangi nya Jein."


"pasti nyonya,saya akan menjaga nona dan nyonya."


"jangan pedulikan aku,fokus saja pada Thalia,jika sesuatu terjadi padaku,kamu harus terus bersamanya, Berjanjilah." nyonya Wulan memegang tangannya sambil menatap nya.


Jein kaget saat nyonya Wulan memegang tangan nya,


"apa yang anda katakan nyonya,? tidak akan terjadi sesuatu pada anda," jein menatap nyonya wulan .


"Ah. .,tentu saja tidak akan terjadi sesuatu padaku,Suamiku itu pasti akan selalu melindungiku,Aku hanya ingin kamu Berjanji Jein".nyonya wulan melepaskan tangan nya dan kembali sibuk dengan penampilan nya.


"Saya berjanji nyonya." Jein menjawab. entah apa yg ada dipikiran mu nyonya,tapi saya pasti akan menepati janjiku batin jein.


Dan itulah pesan terakhir nyonya wulan padanya, saat sedang pentas, meniupkan saxaphone nya dengan irama yg syahdu, membuat semua penonton terpukau,tiba tiba nyonya wulan jatuh ambruk kelantai.


penonton berteriak kaget melihat tubuh nyonya wulan terkapar di lantai,jein yg berada di belakang tirai langsun berlari merangkul nyonya wulan,


"Apa,.a..pa yg terjadi nyonya" jein mengangkat nyonya wulan,


dan seditik kemudian Tuan Bernads yg sudah berlari dari kursi penonton datang, langsung mengangkat tubuh nyonya wulan,sambil berteiak teriak memanggil nama Wulan,


Dia berlari menuju mobil yg sudah disiapkan David.


David dengan sigap memacu mobil degan kecepatan penuh menembus jalanan yg tidak terlalu ramai.


"Wulan, wulan... apa yg terjadi,buka matamu," Tuan Bernards tampak gugup memeriksa tubuh istrinya jika ada sesuatu yg mencurigakan.


"Sayang,.....,"lirih nyonya wulan memanggil suaminya,matanya menatap Tuan bernards yg sudah menitikkan airmata.


"ada sesuatu yg menusuk dadaku," pelan suara nyonya wulan berusaha mengangkat tangannya menunjuk dada sebelah kirinya yg terasa nyeri.


dengan sigap Tuan bernards membuka kancing baju wulan,memeriksa dada kiri istrinya,dan matanya melihat ada sebuah jarum yg sepanjang jari kelingking menancap di dada istrinya.


dengan tangan gemetar Dia mengambil saputangan nya mencabut jarum itu,dan memberikan pada jein.


" Tidak apa apa,...Wulan kamu akan baik baik saja," berusaha menenangkan nya.


"Sayang,....Aku tau tak bisa bertahan, berjanjilah untuk menjaga Thalia untukKu." ada air mata yg mengalir di pipinya yg pucat pasi.


"Tenanglah kamu pasti selamat,"Tuan bernards menggenggam tangan istrinya menciumnya dengan lembut.


Senyum terukir di bibirnya,wulan tau Suaminya berusaha menenangkannya,


"sayang....putri mama,' Wulan menatap thalia berusaha memegang tangan kecil Thalia,akhirnya dengan bantuan Tuan bernards Wulan dapat menggenggam tangan putrinya.


""jangan menangis,...Thalia janji sama mama ya,..harus jadi anak yg baik,kuat,dan harus patuh sama papa,Putri mama enggak boleh cengeng, hem..mmm." sebuah senyuman yg dipaksakan hadir di bibir Wulan yg sudah membiru.


"" Sayang,....Aku ..a...ku mencin...taiMu",setelah itu Wulan terkulai,tanganya yg ada dalam gengaman Thalia dan Tuan bernards sudah lemas , Nyonya Wulan menghembuskan napas terakhirnya,dengan sebuah senyuman di bibirnya.


Tuan bernards memeluk erat tubuh Istrinya,cukup lama dia membenamkan kepala Wulan di dadanya yg bidang,airmata terus menetes keluar dari pipinya,beberapa kali dia memanggil nama Wulan,sambil terus mencium istrinya berharap nyonya wulan bisa kembali membuka matanya .


Seekor cecak jatuh di tangan Jein, membuatnya tersadar dari lamunannya. Jein melirik jam yang ada di dinding kamarnya,pukul 02 pagi.


setelah melirik sebentar cecak yg sudah kembali merayap ke dinding,jein naik keranjang dia ingin melepaskan penatnya setelah seharian mengikuti proses pemakaman nyonya wulan.