Thalia

Thalia
episode 31



Thalia melangkahkan kakinya,saat melewati ruang keluarga dia melihat marck dan edward yg tertidur pulas,ada senyum di bibirnya dan kemudian melangkahkan kakinya membuka kamar yg ditempati Alex.


Alaex dan jein melihat ke arah thalia yg masuk kekamar,


" Alex kau sudah baikan?" thalia melihat kearahnya.


" sudah nona,"


Jein mendekati thalia,menyerahkan dua pucuk senjata,thalia mengambilnya,di selipkannya di balik punggungnya,jein pun melakukan hal yg sama.


"Maafkan Aku nona hanya ini yg bisa kudapatkan," jein berkata.


"ini sudah cukup,apa semuanya beres?"


" sudah nona,"kta jein setelah mengambil arsip dan menyerahkan dompet kecil thalia,yg berisi semua kartu kartu atm dan tanda pengenal thalia.


" ayo,....nona sebelum mereka bangun".


Thalia mengangguk dan melangkah keluar diikuti jein dan alaex,mereka berhenti didepan pintu,setelah menguncinya dari luar,diambilnya kunci itu disisipkan kembali ke celah yg dbawah pintu,didorongnya kembali kedalam ruangan.


Taklama kemudian .mereka sudah melaju di jalanan yg masih sepi,kali ini jein yg mengemudi.


" berapa jam perjalanan ke lokasi jein?" thalia bertanya.


" sekitar 4 jam stengah nona,untung jalanan masih sepi,hingga kita bisa tepat waktu." jein menjawab


"hmmm."


setelah menempuh perjalanan yg cukup melelahkan,akhirnya mereka tiba dilokasi.


desa ini tidak terlalu padat,masih banyak lahan kosong,dan jarak antara satu rumah dgn rumah lainnya berjauhan.


lahan penduduk terlihat tidak di garap, dibiarkan di tumbuhi ilalang,mungkin karena tanah di area ini tidak subur.


Thalia memandang sekitar,tidak banyak aktifitas orang di desa ini.


" kemana penduduk desa ini?"thalia bertanya.


" mereka pasti ada di bukit batu yg di ujung desa,tempat mereka mencari nafkah." jawab Alex


setelah bertanya pada seoarang anak yg sedang membawa rantang,mungkin bekal untuk orang tuanya yg sedang bekerja.


jein terus menjalankan mobilnya perlahan,dan berhenti tepat di depan kantor desa.


mereka bertiga melangkah turun, thalia melihat tempat itu,tidak ada aktifitas,bahkan kantornya masih tutup.


",ah...ini masih pagi jein,kantor ini masih tutup"


" kita akan ke rumah itu,"jein menunjuk rumah disamping kantor desa.


' Anak itu bilang lurah mereka tinggal dekat kantor desa." setelah berkata jein berjalan menuju rumah yg terlihat sepi.


" selamat pagi" jein memberi salam sambil mengetuk pintu


terdengar ada langkah kaki mendekat, seorang wanita paroh baya,muncul di depan jein.


" pagi bu,! kami mencari pak lurah." jein berkata sopan.


" pagi...,tunggu sebentar bapak sedang mandi,ayo silahkan duduk." ibu itu .menjawab sopan dan menyuruh mereka duduk.


" trimakasih ..' serentak mereka bertiga menjawab.


mendengar kekompakkan mereka,ibu itu tersenyum dan menatap ke arah thalia yg susudah duduk di kursi rotan.


" Gadis itu cantik sekali,.terlihat masih belia,mungkin anak ibu ini."pikir istri kepala desa itu sambil menatap thalia.dan kembali masuk kedalam.


Tak lama kemudian Dia sudah kembali,membawa tiga buah cangkir berisi teh,piring berisi gorengan.diletakkannya di meja.


" mari silahkan ,maaf hanya teh dan gorengan ini." Istri kepala desa tersenyum,dan duduk di depan thalia.


" trimakasih bu",thalia menjawab sambil tersenyum manis.


" duh senyum nya manis sekali,kalau saja anakku belum menikah,pasti kusuruh mengejar gadis ini." Istri kepala desa senyum senyum sendiri memikirkan semua itu.


Mereka bertiga menatap bingung ke arah wanita paroh baya itu yg senyum senyum sendiri memandang thalia,sadar mereka memperhatikannya,ibu itu salah tinggkah untung suaminya muncul.