
Thalia menutup kedua wajahnya dengan tangan,sambil menggeleng gelengkan kepala.Jein merasa bersalah,Dia sudah berjanji akan melindunginya,
" Nona,Aku akan membantu nona,tapi berjanjilah nona akan mendengarkan aku" jein membuka tangan yg menutup wajah thalia.
"Berjanjilah Nona akan menuruti semua yg ku katakan" jein menatap thalia berusaha menegaskan perkataannya.
" Kau...mau membantu Ku?,kau mau melawan papa dan paman david?," pelan thalia bertanya.
" Nona,...Aku tak mungkin melawan Tuan Bernards,apalagi David," jein menggeleng gelengkan kepalanya.
" Bagaimana kau membantuKu?,Aku .asih bingung jein?" thalia masih tdk bisa memahami maksud jein.
" Satu satunya cara,jangan sampai mereka tau hubungan nona dengan tuan reynhard, kita akan merahasiakan semua yg terjadi,nona harus pura lura tdk mengenal tuan muda,saat ertemu jika didepan ayah nona dan David.jein menjelaskan panjang lebar.
" bagaimana kalau Aku rindu padanya jein" thalia bertanya dengan polosnya.
Nona....nona mengapa anda terlalu polos? mungkin karena kau kehilangan kasih sayang sejak kecil,bathin jein.
" Aku akan mengatur semuanya,nona percaya khan padaku? jein menatapnya.
Thalia mengangguk khan kepalanya dan tersenyum
" Trimakasih jein"
" Baiklah nona sekarang,kita pikirkan rencana kita selanjutnya terhadap Doni keparat itu".
nein sudah berdiri didepan thalia.
" Astaga aku hampir lupa,besok pagi kita akan kelokasi,baru mengurus Doni."Thalia menepuk jidatnya.
" Oh ya jein mana arsip proyek itu,?"
" ada dikamar Alex nona."
" Kamu belum menelpon paman David khan?"thlia bertanya.
" tidak nona,tadi saya hanya kembali ketempat kejadian,melihat mungkin masih ada mobil kita disana,atau barang barang nona," jawab jein
"truss"
" sayangnya semua sudah tidak ada,di jalanan itu sudah di bersihkan seperti tidak ada kejadian apapun,tmpknya Doni sudah membereskan semuanya,Maaf nona barang barang nona pun sudah tak ada.wajah jein muram,memikirkan tak ada barang thalia yg bisa di ambil.
" jangan kuatir nona,Tadi aku mampir ke markas dikota ini,saya sudah mengambil beberapa amunisi,"
" nona,maaf tapi kita akan pergi diam diam besok pagi pagi sekali,saya harap nona bersiap jangan sampai tuan reynhard tau." jein berbisi pelan di telinga thalia.
" bagaimana,caranya" thalia mengernyitkan dahinya.
jein berbisik di telinga Thalia,tampaknya gadis itu menyetujuinya.Dan kembali memandang jein.
" yakin tak apa apa khan'?
jein hanya menggelengkan kepalanya,
" Baiklah"
Setelah berkata,Thalia melangkah mendekati piano yg ada di sudut ruangan itu, memandang,piano itu dalam dalam, Dia sempat membayangkan ibunya,yg selalu mengajari nya bermain saxaphone,dan piano.
puas membayangkan ibunya,thalia duduk dan membuka tutup piano itu..emandang jein yg menatapnya.
" Jein apa papa sayang thalia ?"
" tentu saja nona"
jein mendekati thalia memandang wajah sendu thalia.
" lalu kenapa papa marah kalua aku mencintai
rey." mata thalia menatap kosong
' Tuan Bernards punya alasan, Dan belum saatnya nona tau"kata jein
" "Berarti jein tau ya "
" Saya tidak berani memberitahu nona".
Thalia terlihat sedih,ada sesuatu yg dipikirkannya,beberapa pertanyaan yg dia tak tau siapa yg bisa menjawabnya.tanpa sadar,
tangan nya sudah menekan tuts tuts di depan nya,sebuah alunan melodi terdengar di seluruh ruangan ini bahkan sampai keluar apartemen.
Melodi yg begitu merdu tapi,menyayat hati,sepertinya yg memainkan sedang merasa kehilangan yg dalam,sampai sampai orang yg mendengar alunan melodi ini turut hanyut dalam kesedihan.