
Edward mengusap kepalanya,sambil terseyum Dia menutup kembali pintu itu,dan kembali bertanya dari balik pintu.
" Apa kau memerlukan sesuatu Reynhard?"
" Pergilah.......!!! teriakkan itu sudah bisa membuat edward segera pergi dari sana,karena Dia tau reynhard sudah berada di puncak kemarahannya.
Thalia sedilit bingung menatap pria didepannya ini,yg dipandang terlihat serba salah,setelah selesai memberi obat merah dia melepaskan tangan itu.
" Berbaringlah,Aku akan menjagamu."
" Tidak,tidak mau,aku tidak mau disini,yg ada aku malah terus kau cium." Thalia bergerak mau turun dari ranjang.
" kau ini,apa kau tidak lelah,dan lagi kau menyukai ciumanku khan,"
" Ap a maksudmu,aku khan elum pernah dicium laki laki jadi aku kagetlah." suara thalia terbata,wajahnya sudah memerah.
Reynhards menatapnya lembut meraih tangannya,
" Akupun baru 2Kali mencium wanita,itupun wanita yg sama,jadi mulai saat ini aku tidak akan mencium wanita lain,dan kaupun tidak boleh menerima ciuman laki laki,selain Aku."
" Aku tidak suka dicium,dan apa kau yakin aku akan membiarkanMu mencium ku lagi".
" Apa kau mau bertaruh?" Reynhard mengedipkan matanya.
" ah....sudahlah, Aku lapar" jein menatapnya.
" astaga Aku sampai lua,Ayo kita turun,mungkin marck sudah memesan makanan.
Dan kemudian keduanya melangkah keluar dari kamar turun kebawah sambil berpegangan tangan.Marck yg sedang duduk santai di sofa melihat keduanya sedang menuruni tangga,langsung berdiri dan berbalik.
Edward yg melihat tingkah marck,hanya tersenyum dan matanya sudah melihat ke tangga.
" oh..rupanya mereka sudah turun.pantas saja tingkah aneh marck mincul." edward berkata dalam hati.
Saat melihat Marck,Thalia bermaksud mendekatinya,tapi langkah nya terhenti karena Reynhard yg memegang tangannya sudah menarik nya.
Sambil mendengus kesal,Thalia menatap pria disampingnya ini.
" iya nona,jangan dekat dekat kami,kami masih sayang nyawa kami." Marck berkata suaranya memelas.sedangkan Edaward hanya tertawa keras.
" Itu berlaku juga UntukMu Dokter Edward," intonasiya di pertegas saat berkata.
Dan Edward pun paham bos yg juga teman masa kecilnya ini,tidak sedang bercanda.
Thalia tidak memgerti dengan situasi ini,hanya mengagkat kedua bahunya dan langsung berlari ke meja makan saat dilihatnya Jein disana sedang mengatur makanan, terpaksa Reynhard pun memercepat langgkah nya.
" Hei..! Jein apa kau menyiapkan semua ini? "
Raut mukanya terlihat senang melihat banyak makanan di atas meja.Reynhard sudah melepaskan tangannya dan menyuruh nya duduk.
" Makanlah,..Nona,anda pasti lapar" Jein menyiapkan piring dan melayani thalia
" Sudah lah jein aku bisa sendiri,apa kau sudah makan?, bagaimana Alex?.Thalia bertanya sambil mengambil lauk kesukaannya.
" Alex baik baik saja nona,Saya sudah memberinya makan,Dan dokter itu sudah mengobatinya."
Trimakasih Dokter."
Thalia melirik ke arah edward yg segera memalingkan wajahnya,mulai mentaati peraturan bosnya .
" Hey,...!!ucapkan trimakasihMu padaku,bukan padanya." Reynhard protes.
"tentu saja,Aku berterimakasi padamu Reyn,"
Thalia tersenyum manis pada reynhard,dan matanya di kedip kedipkan matanya ,dan buat wajahnya semanis mungkin.
Melihat tingkah Thalia,apalagi saat Dia memangilnya seperti itu,wajah nya langsung memerah,ditatapnya Gadis itu.
" Apa kau sedang menggodaku,? Kau menginginkannya lagi?, Apa aku hatus membersihkan mulutmu?.Reynhard mengedipkan matanya.
Kontan saja Thalia yg bermaksud menggodanya langsung,tertunduk malu,senjata makan tuan.Jein menatap bosnya dan pria itu,Ada apa ini"?