Thalia

Thalia
epsode 41



Setibanya di gedung Kantor jajaran direksi perusahan B.G sedang berkumpul di loby Mereka segera mendekat begitu sosok Thalia memasuki lobby, tapi langkah mereka terhenti saat melihat sorot mata David yg berjalan di samping gadis itu.


" Selamat pagi Nona presdir..!!!" serempak mereka memberi salam sambil menundukkuan wajah mereka, pupus sudah harapan mereka untuk mendekati gadis belia Itu,untuk sekedar mencari muka pada presdir baru , tapi Tatapan dingin David sudah menciutkan keinginan mereka.


Thalia tidak menjawab dia hanya tersenyum, sambil menganggukkan kepalanya,Dan terus berjalan menuju lift khusus. Jajaran direksi terus mengikuti mereka,sampai di pintu lift, memberi hormat saat Thalia dan David masuk,yang sudah menghilang di balik pintu lift.


" Sial.,kita tak bisa mendekati nona presdir, Si David itu terus mengikutinya." salah seorang pria paroh baya yg termasuk orang penting di perusahan ini,tampak kesal.


" hati hati pak,nanti di dengar Pak David bisa berabe." sekertarisnya memperingatkan.


" ya...Aku harua cari cara untuk mendekati nona presdir,Aku akan mengenalkan Aldo padanya." Bapak itu kembali berkata,kali ini intonasi suaranya dikecilkan.


"Saran saya jangan bapak yg ngomong,Suruh anak bapak yg mendekati nona presdir,cari cara gimana,gitu,supaya kalau ada apa apa posisi bapak tetap aman.Sekertaris itu tetap berbisik.


" Benar juga kamu,saya akan membicarakan dengan Aldo,Makasih ya." bapak itu menepuk pundak sekertarisnya dan segera memasuki lift karyawan.


Sementara itu Thalia yg melihat Jein berdiri menyambutnya saat keluar dari lift,tampak tersenyum girang,dan mendekatinya.


" Pagi nona" Jein menyapa


" Huh...Ku pikir si David sudah mengirimMu,


ke luar kota." Thalia berkata sambil melirik David .


" Jika Anda memerintahkan,Saya pasti dengan senang hati akan mengirim nya keluar kota." David berkata tanpa expresi, memandang jein.


" Kk.kau..., jangan membuatKu marah " Thalia mendelik ke arah David,dia kehabisan kata kata.


" Kenapa Nona selalu ingin berdebat dengan saya,padahal saya hanya ingin,memenuhi keinginan Nona." kata David


"Siapa yg mau berdebat denganMu,menatap wajahMu saja Aku tak sudi "Thalia menatap David dengan tajam.


" Tapi..sekarang anda malah menatap saya nona" jawab David tak mau kalah.


"Kkau..." Thalia refleks mengangkat tangannya mau memukul David,tapi Dia lupa jarak antara mereka agak jauh,hingga tangannya yg sudah terayun tidak kena sasaran,akibat nya, tubuhnya oleng,untunglah David sigap maju selangkah hingga thalia tidak jatuh, tubuhnya hanya tersandar di dada bidang David.


" Kini Anda justru bersandar di dadaKu Nona"


kata David,walau mungkin maksud perkataan nya menggoda thalia,tapi wajahnya yg datar tetap tanpa senyuman sedingin es.


" Huh....tak sudi Aku,.." Thalia cepat cepat mundur selangkah kemudian berjalan menuju ruangannya,di ikuti jein.


Thalia memasuki ruangan yg dulunya di tempati ayahnya,sesaat matanya memandang sebuah nama yg sudah tertera di papan nama


"THALIA ANASTASIA BENHARD" rupanya ayahnya sudah mempersiapkan Ruangan ini untuknya.diatas meja itu ada juga foto dirinya dan ada sebuah bingkai foto lagi di sisi kiri meja,


Dia mendekati meja itu mengambil bingkai foto itu,kenangan terakhirnya dengan keluarganya,foto ini diambil saat mereka akan menuju gedung tempat pentas terakhir ibunya,ada kegembiraan terpancar di wajah wajah itu,senyum ibunya yg menciumnya,saat ayahnya memeluk dirinya,sambil melingkarkan tangannya,dipundak ibu.


"ahh...kenangan itu, semestinya kebahagian itu tak diambil dariKu." Thalia terus menatap foto itu,setelah merasa cukup,diletakkan perlahan lahan,kemudian Dia memandang jein.


" Trimakasih Jein,Kau menaruh foto ini disini"


wajahnya tersenyum


" Maaf Nona bukan saya yg menaruh foto itu disana,David yg meletakkannya.jein menjawab sambil melirik David,yg dilirik tetap acuh,seperti tak mendengar.


Thalia menatap David,tapi cepat cepat dia berpaling dan duduk di kursi kebesarannya.


Dia ingin berterimakasih,tapi saat dia baru saja .mau mengatakannya,David seperti menatapnya dengan sinis, seakan berkata", Anda menatap wajah saya lagi Nona."


" Saya Tak perlu berterimakasih padanya,itu sudah tugasnya." Thalia mendengus kesal sambil cemberut.


jein sedikit tersenyum dengan tingkah nonanya ini,ada apa ini kenapa nona seakan canggung menatap David, jangan jangan..


ah... tidak mungkin.Jein menggeleng geleng kan kepalanya.


David bukan tidak tau dengan sikap yg di tunjukkan Thalia, Tapi Dia tetap Acuh dengan semuanya , Dia berjalan ke meja yg ada di dekat pintu, duduk di kursi di balik meja itu. dan mulai memeriksa sesuatu di notesnya.


" Jein..! tanyakan pada rosa apa schedul nona hari ini.Ucap David.


" Baik"


Thalia memandang kepergian jein,dan mata indahnya melirik David,tak berani menatapnya,karna perkataannya tadi, yg bilang tak sudi menatap wajah David.


" Bagaimana ini,kalau Dia berada satu ruangan dengan ku,bagaimana Aku bicara dengan jein,?? padahal Aku ingin bertanya soal kabar Reyn.pikir Thalia sambil sesekali melirik ke arah David yg sibuk dengan catatan nya,dan sesekali mengetik sesuatu di komputer yg ada didepannya.


"hmmm,wajah nya tak kalah tampan dengan Reyn,sayangnya wajah yg tak pernah senyum itu terlihat,menakutkan, dingin , dengan pandangan mata nya yg menusuk." Thalia membanding banding kan antara David dan Reyn.


" Anda bisa mulai bekerja nona,dengan meneliti beberapa arsip di meja itu."David membuyarkan lamunannya.


tentu saja Thalia kaget,cepat diraihnya beberapa berkas yg terletak di mejanya dan mulai membacanya.