
Dalam ruangan rahasia,Thalia nampak gelisah, sesekali dilirik nya David yg sedang serius menelpon Dia tak terlalu paham apa yg di bicarakannya, hanya sedikit yg di ketahui kalau David sedang mengarahkan anak buah nya, entah apa yg di intruksikannya.
" oke...,baiklah urus semuanya jein,dan kabari Aku soal Alan." ucap David sambil menutup telepon nya.
"Apa semuanya baik baik saja?" tanya Thalia.
" Tenanglah Nona, " jawab David.
' Apanya yg tenang!!!, Aku tak tau apa yg terjadi, kenapa mereka menginginkan Aku..,apa salahKu...!!" Thalia mulai emosi apa yg terjadi tadi sungguh tak pernah terpikirkan, ada yg mencoba menyerang nya di kantor nya sendiri.
David mendekati thalia yg sedang duduk di sisi ranjang sambil mendekap guling,Dia tampak menyembunyikan air yg menetes di pipinya.
" Nona..,Aku akan melindungiMu, jangan Kuatir," ucap David.
" ya...ya..Kau akan melindungiKu...,sampai kapan David...!!, Aku bisa menjaga diriku sendiri,..Kau tau khan??? Tapi dari siapa...??, Aku tak tau siapa musuhKu, Kalian menyembunyikan semuanya...!!, Kau...,Ayah...,
Tak ada yg memberitauku...!!!' Thalia berteriak sambil terisak, matanya tajam menatap David. Dia tak bisa lagi menahan butiran butiran air yg keluar dari mata indahnya.
" Maafkan saya nona,...Aku terlalu takut Kau terluka mengetahui semuanya." David memegang tangan Thalia menciumnya pelan.
" Tolonglah David, ...apa bedanya Aku mengetahui nya sekarang dan nanti,..jika itu tetap melukaiKu." ucap nya lirih .matanya sendu menatap David.
David duduk disamping Thalia, tangan nya masih menggenggam tangan gadis itu.
" Aku akan mengatakan nya,..Tapi maaf tidak semuanya , belum saatnya nona tau semuanya." David menatap gadis didepannya
" Baiklah...,walau masih ada yg Kau sembunyikan tapi itu lebih baik jika ada yg Ku ketahui."
David berdiri melangkah ke sofa,...sesekali Dia menarik napas panjang, seakan ingin mengeluarkan semua yg tersimpan rapat di relung hatinya, sesuatu yg hanya Dia, Dan Tuan Benhard yg tau, Tapi tidak belum saatnya, Nona belum siap .Bathin David.
" Nona,...kematian Ibumu, itu karena cinta segitiga, Kami menemukan orang yg menembak nyonya,walau agak terlambat, karena saat kami temui kondisinya sekarat,
Tapi Dia sempat mengatakan siapa yg menyuruh nya." David tak meneruskan kata katanya, Dia berbalik menatap Thalia.
" Seragam orang itu,..sama dengan yg menyerang kita malam ini."
" Apa maksudMu David.., Mama.,cinta segitiga,...apa maksudMu!! tanya Thalia sambil memandang David wajah nya terlihat kebingungan.
" Tuan Edward sangat mencintai IbuMu."
David mengalihkan pandangan nya ,Agak canggung Dia menjawab pertanyaan Thalia.
",A..ayah Reyn..., maksudMu..., Ayah Reyn menyuruh orang membunuh mama, karena mencintai Mama?.." suara Thalia agak terbata, Dia mendekati David.
" menurut Orang Itu, Tuan Edward yg menyuruh nya, Tapi kami tak punya bukti.., orang itu meninggal, Dan pengakuan terakhirnya tidak bisa dijadikan bukti.' itulah sebab nya kami tak bisa menuntut Tuan Edward. " David berkata sambil memejamkan matamya. Seperti menyesali ketidakmampuan nya.
" Maafkan Aku Nona...,Aku tak bisa menuntut balas kematian nyonya, " Dia menghela nafasnya dan kembali berkata "Tapi tenanglah Aku akan menghancurkan mereka.!!" suara David terdengar sinis, kedua tangannya dikepalkan.
"hahhhh....Ayah Reyn....., apa itu maksud perkataanMu padanya waktu itu??, aaaaah..., orang yg mendekatiKu..., Apa ini...,David.., apa yg terjadi padaku, Aku menyanyangi Reyn." Thalia menggeleng gelengkan kepalanya.
" Seperti Aku mencintai Nona,..kalaupun Nona tidak mencintaiKu, ...Aku tetap ingin Nona Bahagia, walau tak bersamaKu..,!!
Kebagian orang yg kita cintai..,itu lebih penting daripada memilikinya." kata David, ada ketulusan dalam suaranya, yg membuat Thalia bergetar. pelan Dia mengangkat wajah nya, mata indahnya menatap mata David, seakan mencari kesungguhan disana.
" Aku...aku tak tau apa Yg terjadi padaKu,entahlah perasaan apa itu,.. selama ini Aku berusaha membenciMu..., Aku ingin terus menjauh dariMu, Tapi disini dihatiKu, sakit sekali melihat Kau Acuh padaKu." ucap Thalia ragu.
" Kau..., mencintaiKu Nona, Aku tau dari dulu Kau menyayanhiKu. Kupikir kebencianMu padaKu,sudah menghapus rasa cintaMu." David mendekap Thalia, dipeluknya erat gadis itu seperti tak mau terlepas lagi.
Thalia hanya terdiam..dalam dekapan David, ada kebahagian direlung hatinya,Tapi juga keraguan benarkah..., benarkah ini cinta..., rasa yg ada di hatinya yg tidak rela melihat David saat berdekatan dengan jein, atau rasa sedih dan kecewa saat David memperlihatkan wajah tidak pedulinya. Penasaran dengan apa yg di pikirkan Dia mendorong pelan tubuh David.
" David..., Benarkah perasaanKu ini?.. Aku tak mengerti apa itu cinta," Thalia berjalan ke sofa
duduk disana pandangan nya lurus kedepan
" Aku ....perasaanKu pada Reyn, Aku suka perlakuannya padaKu, perhatiannya padaku, apa itu juga cinta??' ada rasa penasaran dalam suaranya, Dia belum benar benar memahami apa itu cinta.
David tersenyum Dia mendekati Thalia duduk di sampingnya, di raihnya tangan gadis itu, didekapkannya di dadanya.
" Perasaan Suka pada seseorang, hanya karena keinginan atau nafsu antara kedua insan karena tubuh dan wajah orang yg kita lihat itu menarik, Itu bukan lah Cinta, Itu kebutuhan,..Tapi..lihat Aku nona, ...Cinta adalah saat dimana Kita menerima dan menghargai orang yg kita sayangi dengan tulus, .menginginkan kebahagiannya walaupun itu membuat kita tersakiti,..menerimanya dengan segala kekurangannya.bukan semata karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya." David berkata dengan ketulusan.
" Cinta Reyn pada Nona karena semua yg di miliki Nona, tapi saat Dia merasa tidak bisa memilikinya,.ada keinginan untuk menyakiti,..
Itu bukan cinta tapi ke egoisan." David berkata lagi dengan pelan.
" David....., Maukah Kau memanggil namaKu,
Aku tak suka dengan panggilanMu padaku."
ucap Thalia sambil menundukkan wajahnya.
kini Dia mengerti perasaannya, Dia memang mencintai nya.
' Kau tal keberatan jika Aku memanggil namaMu? Aku khan bawahanMu.' tanya David menggoda.
" Kau..., Aku tak suka orang yg ku cintai mengganggapKu majikannya." Thalia ngambek sambil memalingkan wajahnya.
Ada kebahagian di hati David mendengar Thalia mencintainya, Dia mencium pipi Thalia lembut.
" Thalia......, Bolehkah Aku mendampingiMu,
mencintaiMu"? lirih David berbisik di telinga gadis itu.
wajah Thalia memerah, Dia langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang David.
" Aku..akupun mencintaiMu."
David memeluk erat Gadis itu di kecupnya rambut Thalia, " Aku tak khan biarkan ada yg menyakitiMu lagi, kali ini Aku tidak akan membiarkanMu sendiri lagi menanggung semuanya. Tapi untuk saat ini hanya ini yg bisa ku katakan, Kau akan terluka jika mengetahui kalau siapa Tuan Edward rahasia yg berusaha Tuan Benhard sembunyikan, Aku takut itu melukaiMu. " Maaf kan Aku Thalia.."