Thalia

Thalia
episode 53



Setelah kepergian Thalia dan rombongan nya,


sosok prua yg sedari tadi mengawasi Thalia, tersenyum sinis.


" Thalia,..,Kau tak berubah masih terlihat polos dan lugu, Aku akan menantikan saat yg tepat, membawaMu pergi." Guman pria yg tak lain adalah Reynhard.


" Tuan..., kenapa tidak menyapa Nona tadi, padahal David tidak terlihat mengikuti Nona." ucap Marck yg sedari tadi mengawasi bos nya ini.


" Aku tidak mau bertindak gegabah, seperti bulan lalu, akibatnya pengawasan terhadap Thalia jadi ketat, Tak ada kesempatan menemuinya" jawab Reynhard .


" Tapi..., tadi hanya Jein dan si sopir itu, sayang sekali Tuan tidak mengambil kesempatan itu." ujar marck.


" Kau tau, saat kita melakukan hal yg terburu buru, semuanya akan jauh dari yg kita harapkan...,kini Aku harus menunggu saat mereka lengah." Reynhard berkata sambil tersenyum sinis,.


Marck memandang Reynhard yg tersenyum sinis, Dia mengerti ada rasa kesal di hati bos nya ini, wanita yg di rindukannya ada di depan mata, tapi tak bisa di dekati nya.


",Ayo Markc kita pergi, Ibu pasti sudah menunggu kita, entah gadis mana lagi yg ingin di kenalkannya padaKu." kata Reynhard sambil berjalan menuju Restoran M yang tepat berada di samping Mall.


Semantara itu, didalam restoran tampak Ibu Reynhard sedang berbincang dengan seorang gadis cantik, mereka tampak akrab,


saat melihat Reynhard muncul gadis yg bernama Diana itu langsung menyambutnya.


" Hallo Reyn !!, senang bisa bertemu denganMu, Kau semakin tampan saja." Diana berkata sambil bergelayut manja di tangan Reynhard.


" Oh..., rupanya Kau Dian yg ingin mama kenalkan padaKu"? ucap Reyn acuh sambil melepaskan tangan Diana dan langsung duduk di samping Ibunya.


Walau tak dapat perhatian yg baik dari Reynhard, Gadis itu tetap tersenyum manis dan duduk di samping Reynhard.


" Rasanya sudah lama sekali ya, kita tidak bertemu.", ucap Diana sambil terus memandang Pria di samping nya.


",Sudah 2 Tahun ya.., Diana tak lagi kerumah tante, dan lagi saat berangkat keluar negri tak memberi kabar." ucap ibu Reyn.


",Maafkan Dian tante Milan, saat itu masih ada perasaan kecewa dihati Dian, tapi kini saat melihat Reyn Dian sangat bahagia, apalagi kata tante Reyn masih sendiri." saat berkata Dian melirik Reyn yg tetap acuh sambil memainkan hp nya.


" Ma...kita kesini mau makan atau hanya ngobrol, soalnya Reyn masih banyak urusan." Reyn berkata sambil melirik jam tangan nya.


", apa apaan sih Rey,., kalian khan baru ketemu, semestinya banyak yg harus kalian bicarakan." ucap nyonya Milan suaranya agak meninggi dan terdengar kesal.


" Lho khan mama yg pengin ngobrol banyak dengan Dian, jangan bawa bawa Reyn, sudahlah Reyn pamit masih banyak yg harus Reyn kerjakan." Reyn tampak gusar dan langsung berdiri meninggalkan ibunya yg tampak kesal.


",Maafkan Reyn , tante harap Dian mau mengerti ya,..? "nyonya milan tampak kecewa


wajahnya tampak kesal.


" jangan kuatir tante, kali ini Dian tak khan menyerah, asalkan Tante selalu mendukung .",ucap Dian tetap tersenyum


" Tentu saja tante akan selalu mendukungMu, kamu satu satunya gafis pilihan tante yg cocok mendampingi Reyn." ucap nyonya milan.


" Baiklah.., Dian senang mendengarnya. sekarang kita makan malam dulu sambil membicarakan rencana kita selanjutnya.


Sementara itu, Thalia yg sudah tiba di rumah setelah selesai membersihkan diri, Dia tak keluar dari kamar, Jein dan mbok Rhum yg memanggilnya untuk makan malam, tak di gubrisnya, rasa kesalnya atas kejadian tadi membuat rasa laparnya hilang.


Thalia memandang potret ibunya , ada kesedihan di wajah nya, " Ma..., Thalia kangen, tapi walau sedih Thalia tak ingin menangis, kata David, kalau Thalia menangis mama pasti akan sedih, dan Thalia tak mau mama sedih, Mama harus bahagia disana, " Thalia berkata sambil mengusap foto ibunya.


setelah lama memandang potret ibunya, Thalia melangkah ke balkon sambil membawa saxsaphone nya, meniup alat musik ibunya ini membuat dia seperti ada bersama ibunya.


Alunan lagu yg merdu kembali terdengar , seluruh penghuni kediaman keluarga Benhard


mengenal benar alunan melodi ini, dan mereka mengerti jika melodi ini terdengar ini menunjukkan majikan mereka sedang bersedih, melodi yg begitu memilukan hati ini membuat Jein menelpon David.


" Hallo..., Pak David, apa anda masih di kantor." tanya jein saat sambungan telepon nya terhubung.


",Aku sudah dalam perjalanan pulang,.hei... apa yg terjadi jein..? apa itu suara saxsaphone? suara David terdengar kaget.


",iya..., pak nona sedang memainkannya, Nona juga belum makan.",jawab jein .


"Aku hampir tiba, siapkan saja makan malam nya nanti Aku yg akan bawa ke atas." David berkata sambil menutup Hp nya.


" Apa kata David? ",tanya mbok Rhum.


",Pak David sudah di jalan, pasti sebentar lagi nyampe, siapkan makan malam nona, nanti pak David yg antar makanan Nona." jawab jein.


" Baiklah..., memang hanya David yg bisa membujuk Nona, ahh gadis itu, selalu saja sedih, Dia memiliki segalanya semestinya Dia bahagia." mbok Rhum berkata sambil menyeka butiran air yg menetes di pipinya.


" Mbok Rhum juga selalu sedih, bahkan meneteskan airmata kalau nona memainkan musiknya." ucap Jein sambil memandang wanita parobaya di depannya.


" Nona sudah mbok anggap seperti cucu mbok sendiri, dan alunan musiknya mengingatkan mbok pada nyonya wulan." ucap mbok Rhum lirih.


",Nona kesepian Mbok, walau Dia memiliki harta yg melimpah, Tapi nona tak punya keluarga, orang yg mengasihinya." ucap jein lirih.


" Ya...ya...Harta yg paling Berharga adalah Keluarga, ah...sudahlah mbok mau nyiapkan makan malam Nona dulu." mbok Rhum berkata sambil melangkah kedapur.


Tak lama kemudian mobil David sudah memasuki pekarangan, setengah berlari Dia masuk ke rumah, menemui Jein dan mbok Rhum.


" Apa yang terjadi Jein, apa ada sesuatu yg terjadi di mall," tanya David suaranya terdengar kuatir, apalagi saat masuk tadi Dia mendengar alunan melodi yg di mainkan Thalia adalah lagu terakhir yg di mainkan mama nya.


" Ya...tadi, saat belanja karyawan toko, menganggap nona terlalu muda untuk memngeluarkan Uang banyak membayar belanjaannya, mereka pikir orang Tua nona pasti akan marah " Jein menjelaskan panjang lebar kejadian di Mall tadi.


" Baiklah..., mana makanannya mbok Aku akan membawanya ke atas." kata David sambil meraoh nampan di tangan mbok Rhum.


" Saat tiba di depan pintu kamar, David langsung membuka pintu yg tak di kunci, mentup nya kembali, Dia meletakkan nampan berisi makanan di narkas ,matanya menatap Thalia yg berada di balkon sambil memainkan saxsaphone nya .


David mendekati Thalia, Di biarkan nya gadis itu memainkan alat musiknya, Tangannya merapikan rambut Thalia ke belakang telinga, sambil memgecup pelan kepala nya.


Thalia menyadari kehadiran David, Dia memandang David ,dan langsung memeluk pria itu punggungnya berguncang menahan tangis.