Thalia

Thalia
episode 52



Sementara itu Jein yg mendapat telp dari David,segera memimpin anggotanya menuju kantor pusat B G, sayang nya mereka sudah tidak menemukan para penyerang itu.


Anggota mereka yg berjaga malam itupun tak tau apa apa,mereka pingsan setelah seseorang menyemprotkan asap kearah mereka. Dan David yg tak mau berurusan dengan pihak berwajib, memilih tidak melaporkannya, hanya penjagaan di area kantor dan juga personil pengawal Thalia yg di tambah.


Kejadian penyerangan di kantor B G ,sudah mulai di lupakan Thalia ,Apalagi saat ini banyak proyek proyek yg butuh penanganan serius,untunglah David banyak membantunya


" ahhhh, Aku capek sekali.' Thalia merenggangkan kedua tangannya sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.


",Berbaringlah sebentar,Aku akan menyelesaikan laporan ini, kalau sudah selesai nanti Ku bangunkan" Kata David sambil terus menyelesaikan pekerjaannya.


","huh..,pekerjaanMu jadi alasan jadi acuh padaku",guman Thalia pelan.


David hanya tersenyum, Dia tak menanggapi perkataan Thalia, Karena kesal tak ada respon dari David, akhirnya Dia mau melangkah keluar ruangan.


" Mau kemana?" Tanya David.


",teruskan pekerjaanMu, Aku mau menemui jein" jawab Thalia suaranya masih kesal.


",Baiklah,...jangan kemana mana tetaplah bersama Jein.


huh emangnya mau kemana Aku dengan pengawalan yg ketat di kantor, Ku pikir setelah mengatakan perasaannya Dia berubah, tapi tetap saja acuh, walau sudah tak sedingin es." pikiran Thalia terhenti saat matanya menangkap sosok jein.


" Jein....!!"


"Ada yg bisa saya bantu Nona..?" tanya jein


"Ahh..,tidak Aku hanya lagi bosan, apa Kau sibuk?"


" Tidak"


" sst.., ayo kita jalan jalan belakangan ini Aku mulai bosan, aktifitasKu hanya dari rumah ke kantor." kata Thalia sambil menggandeng lengan jein.


' Tapi..., apa Anda lupa kejadian bulan lalu, kita tak boleh gegabah, sebaiknya Nona mengajak David." Jein berkata pelan.


" Ahhh, Kalau Ku bilang David pasti ditolak,


baiklah.., Aku akan keluar sendiri." Thalia berkata dan perlahan berjaan menuju lift.


" Nona...!!, tunggu..!, apa Nona akan pergi sekarang?, saya pikir Nona lupa kalau pengawalan terhadap Nona di perketat."


kata jein


" Aku tau,...Tenanglah." ucap Thalia sambil masuk lift, Dan jein pun terpaksa ikut bersamanya.


" Selamat sore Nona..! " Alan menyambut mereka saat keluar dari lobby.


"Sore Alan,..hari ini Aku pulang duluan bersama Jein." Kata Thalia, agak kesal Dia melihat alan dan para pengawal yg mengelilinginya.


" Maaf Nona..apa anda tidak pulang bersama pak David?, Tanya Alan.


" oh...David masih banyak kerjaan, kebetulan hari ini Aku pengin membeli sesuatu dengan Jein." Kata Thalia acuh dan langsung masuk ke mobil.


" Ayo Alan.. Kau bisa mengantarKu, kabari saja David, katakan Aku mau belanja, Dia tak kan kuatir kalian boleh ikut.'Thalia berkata sambil mengisyaratkan Jein untuk naik.


Alan langsung menghubungi David, walau agak protes tapi Dia mengijinkan dengan beberapa pesan tegas kalau harus mendampingi Thalia, dan jangan sampai lengah.


' Baik...Tuan." jawab alan sambil menutup telponnya, setelah memerintahkan beberapa orang mengikuti mereka, Alan pun langsung naik kemobil.


" Sudah Ku bilang David pasti setuju." suara Thalia terdengar senang.


",iya Nona, tapi kami tetap harus mengawal Nona." jawab alan sambil terus fokus kejalanan.


" ya...ya ..Aku tau, tapi tolong jangan terlalu berlebihan, Aku tak mau jadi perhatian orang." kata Thalia.


" baik Nona, skarang kemana kita Nona?" alan bertanya.


" hmm.., Aku tak tau pasti, tapi jein kira kira kemana tempat yg bagus untuk belanja? Sekalian tempat makan yg rame, kali ini Aku pengin mengunjungi pusat perbelanjaan yg banyak pengunjung." Thalia berkata sambil tersenyum. ahh Aku terlalu lama tinggal di lingkungan yg sunyi, walau banyak orang tinggal bersamaKu tapi seperti hanya Aku sendiri bahkan para pelayan tidak ada yg mau


berbicara denganKu.pikiran Thalia melayang ke kehidupannya sehari hari.


" Kita ke mall B saja Nona,itu adalah mall anda, juga Nona pasti aman disana. " perkataan jein menyadarkan Thalia dari lamunannya.


" oh...ya, baiklah".


Akhirnya mereka tiba setelah melakukan perjalanan kira kira 20 menit.


" Ayo Nona, Aku sudah memberitahukan pak David keberadaan kita." kata Alan sambil membuka pintu.


Thalia langsung turun, kedatangan nya langsung memdapat perhatian karena mobil berhenti pas di depan pintu masuk mall, dan lagi beberapa pengawal yg turun dari mobil lainnya yg langsung mengawalnya.


' Apa ini Alan Kau mau Aku jadi pusat perhatian?" Thalia kesal maksudnya agar tidak menjadi pusat perhatian sia sia, apalagi setelah manajer hotel bersama anak buahnya datang menyambutnya.


" Ahh.., tenanglah pak silahkan lanjutkan pekerjaannya, saya kesini hanya mau belanja." ucap Thalia tak enak melihat ada kegelisahan di wajah pria parobaya itu.


" Nona ayo .., "jein mengajak Thalia masuk dan mengisyaratkan pengawal yg lain untuk sedikit menjauh.


Thalia berjalan menuju tempat toko sepatu,


" Jein.., pilih lah mana yg kau suka,"


",eh ...tak usah Nona." jawab jein sungkan.


" Aku akan membelikan Kau dan Alan sepatu, ayo pilihlah, Kau juga Alan., pilihlah " kta Thalia sambil melihat lihat sepatu pria.


Jein dan Alan tampak senang, wah kapan lagi mereka bisa beli sepatu bermerek, jelas jelas harga sepatu di sini mahal mahal.


mata Thalia tertuju ke sepatu yg tampak nya sangat bagus.


" Mbak..., berapa ukuran sepatu ini" tanyanya sambil mengamati sepatu itu.


" ini tinggal satu satunya ukuran 34 Nona." jawab pelayan itu.


" Kebetulan sekali ,Aku suka modelnya , Aku ambil yg ini ya.." kata Thalia.


" eh...iya Nona, Tapi sepatu ini harganya..." pelayan itu tampak agak ragu mengatakannya


walau dilihat nya gadis ini tampak bukan orang sembarangan tapi harga sepatu yg kayak harga dua tahun gajinya, apa orang tua gadis ini tidak marah kalau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk sepatu, yg jelas untuk pacarnya.


melihat keraguan di wajah pelayan itu, Thalia mengerti pasti Dia ragu apa Aku bisa bayar.


" Apa Kau pikir, Aku tak bisa bayar?' Thalia kesal.


" bukan....,bukan itu Nona, maksud saya apa orang Tua Nona tidak akan marah kalau Nona mengeluarkan Uang sebanyak itu hanya untuk sepatu.? " jawab pelayan itu. " huh gadis ini umurnya lebih muda dari Aku,niatKu kan baik mengingatkan jangan sampai orang tua nya marah pikir pelayan itu.


" Orang Tua apa!!!, Kau tidak tau siapa Aku..!!


begini cara kalian melayani pelanggan,? " Thalia berteriak kesal.


mendengar suara Thalia, cepat cepat Alan dan jein mendekati nya.


" Ada apa Nona, kenapa Nona !??" jein bertanya , kuatir melihat wajah Thalia yg marah.


"maaf mbak,.. apa mbak ini kakaknya?, nona ini mau beli sepatu, tapi saya cuman mengingatkan karena harga sepatunya yg mahal, saya kuatir orang tua Nona pasti marah." kata pelayan itu sambil melirik jein dan Alan walau agak bingung melihat kedua orang itu yg tampak kuatir melihat gadis itu, tapi pikirnya semoga mereka bisa mengingatkan adiknya agar jangan terlalu menghambur hamburkan uang.


" Apa ini.., Kau tak tau siapa Nona ini? , Dia pemilik mall ini, Kau pikir Nona tak mampu bayar? jein berteriak kesal Dia sudah mencengkram lengan pelayan toko itu.


mendengar ada keributan maneger toko itu langsung mendekat.


" Ada apa ini, Dia melirik jein yg sedang mencengkram pelayan nya, dan matanya menatap gadis yg berdiri di samping jein yg tampak kesal.


" Urus pelayan Anda Tuan, jelas jelas Dia menghina Nona." jein menghempaskan tangan pelayan itu dengan kasar.


para pengawal yg mengamati dari jauh sudah mendekat dan mulai membubarkan pengunjung dan langsung mengelilingi Thalia


manager itu menatap Thalia, gafis ini seperti tidak asing, " astaga ini gadis yg tadi mereka dan maneger mall ini sambut tadi.'


",aduh..., maafkan saya maafkan pelayan saya Nona, Dia tidak mengenali Nona." maneger toko itu membungkuk bungkuk memohon maaf dan menyuruh pelayan itu minta maaf.


" Maaf Nona, maafkan saya" pelayan itu tampak terkejut mendengar gadis ini pemilik mall ini, dia sudah mendengar kabar tentang putri tunggal pemilik B.G group termasuk mall ini.


" huh...Aku jadi enggak berselerah belanja di sini, ayo jein." Thalia masih tampak kesal, Dia langsung melangkah keluar.


",Nona,..nona maaf kan pelayan saya, nanti saya akan memecatnya,' manager itu mengejarnya.


walau Thalia kesal, tapi Dia tak tega juga kalau pelayan itu di pecat.


" sudahlah pak, Aku memang agak kesal tapi jangan Kau pecat Dia, " kata Thalia.


",Baiklah Nona, Trimakasih.., Aku akan menyuruh mereka mengepak sepatu yg Nona pilih."


",Jein ini bayar sepatu itu, dan juga punyaMu dan Alan, Aku tunggu di mobil ayo Alan."


setelah menyerahkan sebuah kartu Thalia langsung keluar di ikuti Alan.


Taklama kemudian jein muncul dan langsung naik ke mobil.


" Apa kita langsung pulang Nona?" tanya jein


" ya.., kita pulang, Aku ingin istrahat di rumah." jawab Thalia. Rupanya dunia luar yg dia inginkan, kebebasan yg di impikannya terlalu sulit karena usianya yg masih muda, membuat orang sering salah menilai nya, Ternyata kekayaan bukan segala galanya, apa gunanya semua harta yg Aku miliki kalau merenggut semua kebebasanKu.