Scandal With Maid

Scandal With Maid
Perselingkuhan



"Terus, Beb, oh... iya, aku suka," racuh Tamara bergelut dengan rasa nikmat yang diciptakan Jhon atas dirinya. Pria itu terus bergerak liar di tubuhnya, membawa gadis itu naik ke puncak nirwana, lalu terhempas kembali ke alam nyata.


Memar dan juga tamparan keras yang membuat tubuhnya memerah tidak membuat Tamara merasakan sakit, justru geloranya kian terbakar.


Tamara selalu ketagihan sejak Jhon memperkenalkan cara bercinta seperti itu. Semakin Jhon mengasarinya, maka hasrat Tamara semakin bergemuruh.


Hal itu tentu saja membuatnya tidak bergairah dengan Ken, yang selalu melakukan dengan penuh perasaan dan kasih sayang padanya. Dari Jhon, dia mendapatkan jenis kepuasaan yang tidak pernah dia dapatkan dari Ken, tapi tidak bisa dipungkiri, dia sangat mencintai Ken.


Baginya, Ken adalah suami sempurna, namun kebutuhan yang tinggi dan penuh fantasi liar membuat Tamara selalu berakhir dalam pelukan Jhon.


"Enak, Beb? Kau suka? Apa aku lebih hebat dari suamimu yang kaku itu?" bisik Jhon terus memainkan ritmenya menumbuk tubuh Tamara.


Keringat keduanya bercucuran, dinginnya pendingin ruangan kamar hotel tidak lagi mampu memberi kesejukan pada tubuh mereka yang sudah terbakar gairah.


"Jawab!" Hardiknya memasukkan semua jarinya ke dalam mulut Tamara, terus menyodok hingga terbentur rongga mulutnya yang terdalam. Air mata Tamara mulai menggenang menahan untuk tidak muntah.


Susah payah akhirnya, Tamara menjawab, itu pun setelah Jhon menarik tangannya.


"Ten-tentu aja, enakan sama kamu, Beb," jawabnya terengah-engah. Terukir senyum Jhon, merasa bangga atas keperkasaan dirinya. Bagaimana tidak, istri Kenzio Great berhasil dia dapatkan, bahkan menjadi budak seksnya.


Di dalam pemahaman Jhon, ketika dia berhasil menggagahi Tamara, berarti dia sudah menginjak kepala Ken secara tidak langsung, karena kehormatan seorang suami ada pada istrinya, Bukan?


Gerakan Jhon semakin cepat, puas mengge*njot dari belakang, secepat kilat, Jhon membalikkan tubuh Tamara, Tampa melepaskan penyatuan mereka. Penuh nafsu, Jhon menikmati dengan kasar tubuh wanita itu. Sedikit menundukkan tubuhnya, agar bisa menghisap kedua milik Tamara yang berayun ke kiri dan ke kanan, setiap pria itu menggoyangkan tubuh mereka.


Tamara memejamkan mata. Kenikmatan luar biasa dia dapatkan. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun di hatinya telah mengkhianati suaminya. Padahal tadi malam, Ken meminta haknya pada sang istri, tapi kenyataannya, wanita itu menolak dengan alasan lagi gak mood. Namun, setiap Jhon mengajak, walau tubuhnya sangat lelah sehabis syuting, Tamara pasti akan menerima ajakan itu.


"Beb, aku mau sampai..." lenguhnya dengan tersengal. Tubuhnya terasa penuh oleh milik Jhon yang besar.


"Kita sama-sama, Beb," jawab Jhon semakin mempercepat gerakannya, dan terus melaju hingga sampai ke titik puncak yang sejak tadi dikejar oleh keduanya.


"Kau masih minum pil anti hamil itu, kan? Aku buat di dalam soalnya," ucap Jhon menarik tubuhnya setelah selesai memuntahkan bukti gairahnya di tubuh Tamara.


"Tenang aja, Beb. Always dong..." jawabnya memandangi bo*kong Jhon, saat pria itu berjalan santai menuju kamar mandi.


Tamara menghempaskan kembali kepalanya ke bantal, menatap langit-langit kamar hotel. Napasnya terdengar satu-satu, menerawang hingga nyantol ke wajah suaminya.


Sudah pukul 10 malam, dan dia memutuskan untuk tidak pulang. Seketika dia membayangkan Ken yang menunggunya pulang, sendiri dan kesepian. Masih tertinggal rasa bersalah itu di hatinya. Tentu saja dia merasa bersalah, tapi untuk melepaskan kenikmatan yang disodorkan oleh Jhon, Tamara belum sanggup.


Sebenarnya bisa saja dia meminta pada Ken memperlakukannya seperti yang dibuat Jhon, saat mereka bercinta, tapi Tamara malu. Tidak mungkin dia mengatakan pada suaminya, bahwa dia akan lebih terang*sang kalau Ken memukuli tubuhnya terlebih dahulu sebelum mereka bercinta.


Ken pasti akan bertanya, dari mana dia mendapatkan fantasi seperti itu, karena tiga tahun mereka menikah, tidak pernah melakukan hal aneh seperti itu.


Tamara sendiri tidak mengerti, mengapa dia sangat menikmati dipukul oleh lawan mainnya. Semakin sakit, bahkan kalau sampai berdarah, maka dia akan semakin kesenangan dan merasakan kenikmatan seutuhnya.


"Kau melamun?" suara Jhon menyadarkan Tamara, pria itu sudah ada di sampingnya, berbaring dengan punggung bersandar pada headboard ranjang. Tamara membalas dengan senyuman, lalu mendudukkan dirinya agar bisa mendekat dan bersandar di bahu Jhon.


***


Pria yang sedang bermain dalam khayalan Tamara sedang duduk di ruang keluarga, menonton televisi, sembari menanti kedatangan Tamara. Berulang kali dia keluar, mencoba melihat apakah ada tanda-tanda kepulangan istrinya itu.


Mungkin Tamara lupa, tapi Ken tidak. Hari ini tepat tiga tahun pernikahan mereka. Ken sebenarnya sudah memesan tempat di restoran mahal, tempat mereka dulu pertama bertemu, menyiapkan hadiah lainnya yang diharapakan pria itu bisa menjadi surprise untuk wanita itu.


Namun, kenyataan, wanita itu tidak pulang, bahkan ponselnya saja tidak aktif. Berkali-kali Ken mencoba menghubungi, hasilnya nihil. Diliriknya kembali jam di dinding, sudah pukul 11 malam. Ken sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.


Tadi dia sudah mencoba menghubungi managernya, dan mengatakan kalau Tamara mengikuti acara penggalangan dana untuk artis yang baru saja tertimpa musibah.


"Tuan, Anda belum tidur?" tanya Rara mengambil gelas kopi yang sudah kosong. Dia sudah mengantuk, ingin sekali tidur, tapi matanya tetap tidak mengantuk karena memikirkan keberadaan Tamara, terlebih setelah dia meminum kopi.


Ken terpukau kala Rara membuatkan kopi yang dia minta. Dia pikir kopi itu biasa saja, tapi ternyata sangat nikmat. Dia pun meminta untuk dibuatkan segelas lagi. Alhasil dua gelas kopi ditambah beban pikiran membuatnya tidak bisa tidur sama sekali.


"Belum mengantuk, Ra. Kau belum tidur? Apa tidak mengantuk?"


"Belum, Tuan," jawab Rara berbohong. Dia ingin tidur, tapi melihat wajah Ken yang kusut membuatnya tidak enak hati untuk membiarkan begitu saja.


"Temani aku ngobrol, Ra," jawab Ken dengan tatapan berharap. Benarkan, Rara tidak enak hati untuk menolak. Terlebih dia sangat berterima kasih karena Ken sudah membantu mengeluarkan Sari. Dua hari lagi, kakaknya akan dibebaskan. Hanya menunggu administrasi penangguhan. Hanya menunggu istri Tio tanda tangan pada berkas laporannya saja, dan Sari bisa bebas.


Lama mereka berbincang, di ruangan itu terdengar suara tawa Rara yang renyah, dan lagi-lagi Ken semakin terpesona. Rara yang cantik dan ceria, serta pola pikirnya yang memukau. Bisa mengimbangi cara bicara Ken. Bahkan dia harus mengakui, Tamara tidak secerdas Rara.


"Apa kau tidak punya keinginan untuk menikah lagi?" Tiba-tiba Ken bertanya hal pribadi, jauh dari topik yang mereka bahas yang berhubungan dengan berita yang sejak tadi mereka saksikan.


"Belum, Tuan. Aku ingin fokus pada Miko dan kalau bisa ingin melanjutkan kuliahku lagi," jawabnya. Lagi-lagi hal itu membuat Ken merasa sangat bangga pada Rara. Gadis itu masih mau memikirkan masa depannya.


"Dimana ayah Miko?" Lanjut Ken.


"Sudah meninggal, Tuan."


"Jangan tenggelam dalam kesedihan masa lalu, sudah waktunya kau memikirkan pasanganmu. Miko juga butuh sosok ayah," ucap Ken. "Kau juga masih muda, cantik dan mempesona," lanjut Ken tanpa sadar justru mengatakan isi hatinya.


*


*


*


Mampir gais