
Sorak gembira dan pekikan suka cita yang begitu keras dari arah kamar Ken dan Rara menarik perhatian Ken dan Damian yang masih berada di ruang keluarga.
Jelas seruan itu adalah suara Susanti. Apa yang membuat Susanti begitu gembira hingga berteriak hingga terdengar ke lantai satu?
"Kenapa lagi mereka?" tanya Damian pada Ken yang akhirnya memutuskan untuk melihat keadaan keduanya.
"Ada apa ini?" tanya Damian setelah Ken membuka daun pintu, dan mendapati keduanya berpelukan dengan tangisan. Keduanya menangis tanpa mau melerai pelukan mereka.
Ken yang melihat istrinya terus menangis membuatnya panik, segera mendekat, dan menarik tangan Rara yang baru melepas pelukannya dari Susanti.
"Mas... Ini," ucapnya memberikan alat tes yang sejak tadi digenggamnya.
Ken mengambil benda itu, tidak mengerti apa yang ingin ditunjukkan Rara. "Ini apa, Ra?"
"Itu... alat-,"
"Istrimu hamil!" sambar Susanti memotong ucapan Rara. Dia terlalu bergembira, ingin mewartakan kabar suka cita itu kesemua orang, bila perlu mengundang wartawan untuk datang meliput kehamilan Rara, tapi tentu saja itu hanya sebatas dalam khayalan nya. Selain pamali, Susanti yakin, suaminya tidak akan setuju.
"Apa? Ra..., Benar kata Ibu?" tanya Ken tidak percaya. Berita besar yang selama ini dinanti semua anggota keluarga, akhirnya datang juga.
Tidak bisa terlukiskan seberapa besar kebahagiaan yang Ken rasakan saat ini setelah melihat anggukan Rara. Ken memeluk dan mencium kening wanita itu dengan penuh haru.
"Ayah, Ibu juga ingin dipeluk," pinta Susanti merentangkan tangannya agar Damian memeluknya.
***
Acara mendoa diadakan di rumah keluarga Adiaksa, mengundang banyak anak yatim-piatu dari panti asuhan. Berharap segala hal baik akan mengikuti Rara dan bayinya selama masa kehamilan ini.
Selama kehamilan Rara, semua orang memberinya perhatian. Ken, kedua mertuanya, para pelayan, Sari dan juga keempat sahabatnya.
Rara begitu beruntung dan merasa sangat dicintai. Susanti apalagi, setiap saat mengingatkan Rara untuk meminum vitamin, dia juga dengan senang hati memberinya jamu sehat ibu hamil, dan juga membuatkan makanan penguat tubuh.
Kekhawatiran Susanti dinilai Rara terlalu berlebih dalam menjaga kehamilannya. Wanita itu bahkan sampai meminta Rara untuk cuti kuliah, tapi Rara menolak.
Ken yang tidak ingin membebani Rara dengan permintaan ibunya yang berakibat membuat istrinya itu sedih, akhirnya memutuskan untuk berbicara pada Susanti, dan beruntungnya, wanita paruh baya itu dapat mengerti.
"Loh, Ra, mau kemana?" tanya Susanti yang saat itu sedang merawat tanaman bunganya di halaman, mendapati Rara sudah rapi dan bersiap untuk pergi.
"Mau ke rumah Ijah, Bu. Mau lihat bayinya," ucap Rara penuh semangat. Dia sudah tidak sabar untuk melihat bayi ketiga Ijah.
"Kenapa harus pergi jauh-jauh sih, Ra. Kamu kan bisa kirim kado aja. Perumahan itu jauh loh," tukas Susanti yang tidak setuju atas niat Rara.
"Gak jauh kok, Bu. Lagi pula diantar sopir. Aku juga sudah izin sama mas Ken, dan dibolehin," jawab Rara menggunakan kartu As nya. Dia yakin kalau Rara sudah menyebut nama suaminya, maka tidak ada satu orang pun yang akan membantah omongannya.
"Tapi... ya udah, kamu janji hati-hati, ya. Pulangnya jangan lama." Akhirnya Susanti mengalah.
***
Rara begitu gembira bisa bertemu dengan teman-temannya. Sudah lama mereka tidak bertemu. Terakhir kali, dua bulan lalu saat menghadiri pernikahan Markonah dengan pak Kodir, satpam di rumah Ken yang lama, yang kini sudah menjadi anggota pamong praja.
"Rara... akhirnya kamu sampai juga," sambut Markonah dan Munaroh. Wati tidak hadir saat itu karena harus menemani majikannya periksa ke rumah sakit yang ada di Penang.
Rara ikut bahagia, kehidupan teman-temannya yang berprofesi sebagai pelayan akhirnya mendapatkan banyak kemudahan.
Munaroh akhirnya menikah dengan pengusaha laundry yang ada di dekat komplek perumahan itu. Walau sudah duda anak dua, pria itu masih terlihat muda, dan yang terpenting, dia sangat menyayangi Munaroh.
"Selamat ya, Jah, untuk bayi cantik mu," ucap Rara mencium gemas pipi bayi mungil itu. Wajahnya begitu mirip dengan sang ayah.
"Jah, kata orang kalau anak perempuannya mirip dengan ayahnya, itu rezeki besar, dan pasti akan sangat dekat sama ayah nya. Ada juga yang bilang, kalau waktu buat, ibunya pasti lebih agresif di atas ranjang," ucap Markonah yang membuat wajah Ijah memerah disambut gelak tawa semua orang yang ada di ruangan itu.
"Kamu kapan lahiran, Ra?" tanya Munaroh, kali ini semua perhatian terpusat pada Rara dan perutnya yang sudah membuncit.
"Dua bulan lagi, doakan ya," ucap Rara tersenyum.
***
Waktu dua bulan tidak lama, Rara sangat antusias menunggu sampai hari itu. Kalau prediksi dokter, dia akan lahiran seminggu lagi, tapi tidak menutup kemungkinan kalau dia akan melahirkan lebih cepat.
Ken selalu berkata kepada Rara ataupun kepada guru orang tuanya, apapun jenis kelamin anaknya dia akan bahagia, dan bersyukur sudah memilikinya yang diangguk setuju oleh kedua orang tuanya.
"Mas, bangun, perutku sakit," rintih Rara menarik selimut yang menutupi tubuh Ken. Pria itu tertidur sangat pulas malam ini. Rara sebenarnya tidak tega untuk membangunkan suaminya, tapi rasa sakit yang sejak satu jam tadi menghantamnya, kini tidak bisa ditolerir lagi.
"Mas, bangun, dong. Sepertinya aku mau melahirkan ini," rengek Rara, kali ini lebih kuat menyingkap selimut dan mencubit pinggang Ken karena masih terus terlelap.
"Mas!" panggil Rara semakin kesakitan. Rasanya ada yang cairan yang keluar membasahi pakaian dalam nya.
"Hah? Kenapa, Sayang?" tanya Ken segera mendudukkan dirinya, mengucek mata melihat ke arah Rara yang sedang kesakitan.
"Kayaknya aku mau lahiran ini, sakit sekali," rintih Rara memegangi perutnya, lalu ke pinggang, seolah rasa sakit itu berpindah-pindah tempat di waktu yang bersamaan.
Ken tidak mengatakan apapun lagi, segera berdiri, membantu Rara turun dari ranjang. Perlahan membantu wanita itu menapaki lantai. Setelah kehamilan besarnya, Susanti memaksa mereka untuk menempati kamar di lantai satu saja, agar memudahkan Rara dan tidak perlu naik turun tangga.
"Ibuuuuuu... Ayaaaah... Rara mau lahiran," teriak Ken dengan sekuat tenaga, yang bisa dipastikan kalau tetangga mereka pasti akan mendengar nya.
Teriakan itu mampu membangunkan Susanti dan Damian dengan cepat. Mereka keluar kamar dan sudah mendapati Rara di dalam mobil bersama Ken.
"Kamu ke rumah sakit duluan, nanti aku kabari lagi," ucap Ken segera memerintahkan sopir untuk jalan.
Udara dingin menusuk tulang, pukul dua pagi, jalanan sudah ramai oleh orang-orang yang bergerak menuju pasar. Ken merapatkan mantel bulu yang dipakai Rara, menutup hingga leher gadis itu, agar tetap hangat, dan diakhiri dengan pelukan erat dari Ken yang mampu menambah kehangatan di tubuh Rara.
Dalam perjalanan, Ken juga sudah menghubungi Rick, memintanya segera meluncur ke rumah sakit tempat Rara akan melahirkan. Segera memesan kamar VIP untuk istrinya dan menyiapkan dokter terbaik serta perawat yang akan membantu persalinan Rara.
Semua tampak berjalan cepat, sesampainya di rumah sakit, Rara segera diurus oleh dokter kandungan dan juga dokter anak yang berjaga. Setelah anak mereka lahir, maka akan diserahkan pada dokter anak nantinya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?" tanya Ken yang diliputi rasa cemas. Dia bahkan tidak sadar penampilannya saat ini hanya mengenakan boxer tidur dan kaos putih oblong.
"Ibu sudah akan melahirkan, apa Bapak mau menemaninya? Kalau memang bersedia, Bapak boleh masuk ke ruang bersalin," ucap dokter kandungan yang baru saja keluar dari ruangan Rara dirawat.
"Saya mau, Dokter," sambar Ken dengan cepat.
"Sayang, kamu yang kuat, ya. Aku ingin sekali menggantikan posisi mu seandainya bisa. Kamu istri yang hebat, ibu yang luar biasa untuk anak kita nanti," ucap Ken memberikan semangat bagi Rara yang tengah berjuang. Tangan mereka tidak terlepas, justru semaki erat.
Setelah berjuang dua puluh menit, mengikuti instruksi dokter, ahli waris keluarga Adiaksa pun lahir. Tangis bayi itu menggema di ruangan itu. Ken pun ikut menangis kala mendengar suara anaknya yang begitu merdu dirasanya.
"Selamat, Bapak Ibu, bayi-bayinya sehat dan keduanya sangat tampan," ucap sang dokter yang mampu membuat Ken berhenti menangis.
"Keduanya, Dokter?"
"Iya, Pak. Anak Bapak dan Ibu kembar."
Ken kembali melanjutkan tangis haru bahagianya. Menghujani kecupan di semua sudut wajah Rara.
"Terima kasih karena sudah melahirkan anak-anak kita. Terimakasih, Cintaku."
*
*
*
Hai semua, terima kasih sudah mampir dan bersama karyaku dalam sebulan ini. Terima kasih untuk semua dukungannya. Itu sangat berarti bagiku. Maaf, kalau novelnya jauh dari kata sempurna. Bulan depan akan rilis novel baru lagi, mampir di novelku yang lainnya ya. Salam sayang.
Mampir di novel keren ini, pasti gak nyesal. Aku aja sampe menggilai novel keren karya
Author Tita Dewahasta ini.
.
.