Scandal With Maid

Scandal With Maid
Niat Yang Tertunda



"Ini, kamu antar ke kantor Ken. Kamu 'kan masuk siang kuliahnya, jadi bisa singgah sebentar," ucap Susanti menyerahkan tas berisi bekal makanan yang sudah disiapkan wanita itu sendiri.


Bibirnya tidak henti tersenyum, sudah berjam lamanya dia memikirkan cara menyatukan kedua anak manusia yang terlihat sedang perang dingin itu. Kali ini Ken yang sedang ngambek pada Rara karena menganggap dirinya sudah dibohongi gadis itu berbulan-bulan lamanya mengenai perselingkuhan yang dilihatnya.


"Tapi aku...," jawab Rara ingin menolak tapi merasa tidak enak hati. Susanti terlihat begitu semangat menyerahkan bekal itu pada dirinya berharap akan sampai ke tangan putranya.


"Ini cara yang tepat, agar kamu bisa mengajaknya bicara lagi. Dari segi pemahamanmu, kau tidak salah tapi dari sisi Ken, dia merasa kau menutupi perselingkuhan istrinya. Ibu tidak menyalahkanmu ataupun Ken, jadi ini cara yang tepat agar kalian kembali damai," jawab Susanti yang tidak ingin mendengar penolakan, bergegas meletakkan tas itu di atas tangan Rara dan mendorong pelan punggung gadis itu sampai ke dalam mobil.


"Aku bisa naik ojek, Bu," jawab Rara masa tidak enak hati karena Susanti sudah memerintahkan sopir untuk mengantarnya ke kampus.


Mimpi apa dia bisa pergi ke kampus dengan mobil semewah itu, dia hanya seorang pelayan, ya walaupun majikannya sangat menyayanginya bahkan sudah menganggapnya seperti menantu mereka sendiri, setidaknya itu yang dikatakan oleh Bu Susanti saat Rara dipanggil untuk bicara bersama dirinya dan juga Damian.


"Jawab saja, Ra. Apa benar kau menyukai Ken?" lanjut Susanti mempertegas pertanyaan suaminya ketika melihat Rara terdiam seolah bingung harus menjawab apa.


Bagaimana cara mengatakannya? Dia ingin mengaku kepada kedua orang tua Ken bahwa dia memang tulus mencintai pria itu tanpa memandang siapa diri Ken yang sebenarnya, namun dia malu, terlebih mengingat saat ini status Ken masih menjadi suami Tamara, walaupun Susanti sudah menjelaskan bahwa Ken sudah menggugat cerai istrinya dan hanya tinggal menunggu panggilan sidang.


"Ra," kembali Susanti menyadarkan gadis itu, meletakkan tangannya di atas punggung tangan Rara.


"Aku minta maaf, Pak, Bu, tapi aku benar-benar mencintai Mas Ken. Aku tahu perbuatanku salah karena sudah lancang mengagumi dan mencintai suami orang. Maafkan aku, Pak, Bu," jawab Rara masih menunduk. Satu inci pun tidak berani mengangkat wajahnya karena merasa malu.


Memberi pengakuan di depan orang tua Ken, yang walaupun mereka sudah mengetahui mengenai hubungan mereka, sama saja seolah melemparkan kotoran ke wajahnya sendiri karena jelas-jelas apa yang sudah dia lakukan adalah satu kesalahan.


Terlebih di zaman sekarang ini, banyak gadis belia yang mencoba bermain api dengan memikat suami orang lain dan dengan bangganya mengakui dirinya sebagai pelakor. Merasa lebih segalanya daripada istri sah, tapi Rara bukan seperti itu dia tidak berniat untuk merebut suami siapapun.


Perasaan yang tumbuh dalam dirinya untuk Ken terjadi secara alami, seiring dengan waktu yang mereka habiskan bersama. Bahkan Rara sempat mengutuk apa yang terjadi antara mereka malam itu namun, sikap lembutkan Ken, akhirnya mampu mencuri hatinya dan membuatnya jatuh cinta pada pria itu.


Menyadari kesalahannya karena sudah menginginkan milik orang lain, mencintai suami Tamara, membuat Rara menjaga jarak dengan Ken. Bahkan meminta pria itu untuk menjauhi dan melupakannya. Memohon agar kembali mengurus rumah tangganya dan bersatu dengan Tamara. Namun, pada kenyataannya takdir berkata lain.


Setelah mereka bersepakat untuk berpisah, justru Tamara yang ketahuan selingkuh dan membuat Ken jemu sehingga ingin kembali mengejar cinta Rara.


Susanti sudah memberitahukan nama perusahaan Ken walaupun Tidak diberitahu sebenarnya sopir pribadi keluarga mereka pasti tahu alamatnya terbukti tanpa menunjukkan jalan sabar itu sudah membawanya melaju menyusuri jalanan hingga sampai di sebuah gedung bertingkat yang begitu megah dan berada di pertengahan kota


"Sudah sampai, Non," ucap Dudi, sopir pribadi keluarga Adiaksa, menyadarkan Rara dalam lamunannya.


Lama Rara mengamati bangunan itu, enggan untuk menurunkan kakinya dan melangkah masuk ke sana. Namun, pandangan Pak Dudi dari balik kaca spion depan membuat Rara tidak enak untuk lebih lama lagi duduk di mobil.


"Maaf, Mbak, mau bertemu dengan siapa?" sapa resepsionis di depan, menyambut kedatangannya.


"Maaf Mbak, saya ingin bertemu dengan Pak Kenzio," jawab Rara dengan suara tercekat. Tenggorokannya terasa kering dan entah apa yang terjadi pada jantungnya yang bekerja tidak seperti biasa.


Untuk sesaat Rara bingung harus menjawab apa, ingin mengatakan pelayan, tapi ada rasa malu. Namun, segera ditepisnya. Mengapa dia harus malu? Memangnya pekerjaannya itu hina? Lagi pula dia memang pelayan yang ditugaskan Ibu Susanti untuk membawa bekal makanan untuk Ken. Bukankah itu tujuannya datang ke kantor ini?


"Saya pelayan dari rumahnya, diminta majikan saya untuk menyerahkan ini kepada tuan Ken," ucap Rara memberanikan diri.


Tatapan gadis itu yang pada awalnya ramah kepada Rara, kini berubah menjadi cuek dan terlihat arogan, menganggap Rara bukan levelnya, karena status Rara yang seorang pelayan.


"Tinggalkan aja di sini, nanti saya telepon sekretarisnya biar dibawa ke atas," ucap wanita itu dengan ketus.


Persekian detik Rara bergeming, menimbang apakah dia harus menyerahkan tas itu kepada wanita ini atau justru meminta untuk bertemu dengan Ken agar dia bisa sendiri menyerahkannya pada pria itu.


Akhirnya Rara memutuskan untuk menyerahkan bekal itu kepada wanita jutek yang menganggap dirinya lebih tinggi dari Rara. Dia sudah melakukan tugas yang disuruh Susanti, walaupun tujuan dari perintah itu tidak tercapai, tidak ada jalan untuk berdamai dengan Ken, padahal susah payah wanita itu membujuknya untuk mengantarkan bekal itu tadi.


Namun, karena tatapan wanita itu semakin mendelik padanya, seolah mengkaji bahwa seorang pelayan tidak pantas untuk bertemu dengan CEO perusahaan besar itu, maka Rara menyerah. Lagi pula dia sudah menjalankan perintah Susanti untuk datang ke sini, mengantar bekal itu, kan?


Sebaiknya di buru-buru pergi dari sana. Dia ingin cepat sampai di kampus dan meminjam tugas Erlang, karena kemarin malam dia tidak mengerjakan makalah yang harus dikumpul hari ini.


"Baik, Mbak. Saya pamit," ucap Rara menyerahkan tas itu lalu bergegas pergi dari sana.


***


"Maaf, Pak, ini ada titipan dari rumah," ucap Winda sekertaris Ken, masuk sembari membawa tas yang dia ambil dari meja front office di lantai bawah.


Lama Ken mengamati tas itu. Bekal? dari siapa?


Pertanyaan itu langsung dia utarakan pada sekertaris nya, menyudahi kebingungan yang dia alami. Seumur hidup menjadi CEO di kantor itu, Ken tidak pernah mendapatkan bekal makanan dari siapapun.


"Dari Nyonya besar, Pak," jawab Winda mengerutkan kening. Dia pikir Bosnya itu sudah tahu bakal dapat kiriman.


"Ibu? Tadi ibu kemari?"


"Bukan, Pak. Pelayan Bapak yang datang mengantarkan."


"Lantas mana dia? Kenapa bukan dia yang ngasih sendiri ke saya?" Ken berdiri, mencoba berjalan ke arah bekal yang di letakkan Winda di atas meja.


"Sudah pulang, Pak."