
"Apa yang ingin kau bicarakan? Katakan dengan jelas dan singkat. Ada pekerjaan yang menungguku," ucap Ken melipat tangan di dada, lalu menyandarkan punggungnya menatap lurus ke depan, tepat mengunci pandangan Tamara.
Gadis itu tampak semakin kurus, terlebih dengan mengenakan gaun berwarna hitam yang mengikuti bentuk tubuhnya, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya.
Namun begitu, gadis itu tetap mencoba menunjukkan keanggunannya, mengangkat dagu menatap Ken.
Dia sudah siap membahas apapun dengan gadis itu mengenai perceraian mereka. "Jadi, kau sudah bulat untuk bercerai dengan ku?" Kalimat pertama dari Tamara sejak pertemuan terakhir mereka sebulan lalu. Beberapa kali Tamara menghubungi dan mengirim chat, ingin mengajak bertemu, tapi Ken tidak mau, dan menegaskan dia akan mau bertemu asal wanita itu mau tanda tangan berkas perceraian mereka, tapi Tamara menolak, dan hanya ingin bertemu karena rindu.
Ck... Ken menarik sudut bibirnya, tersenyum mencibir atas pertanyaan Tamara yang dianggap Ken tidak perlu dijawab lagi. Setelah apa yang sudah terjadi, apa menurut wanita itu dia tetap mau menjalani kehidupan rumah tangga bersama?
"Seharusnya kau tidak perlu mempertanyakan hal itu, kau tahu dengan jelas bahwa hanya karena itu lah aku mau bertemu dengan mu," ucap Ken, melemparkan amplop coklat ke tengah meja yang ada diantara mereka.
Terdengar Tamara menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Terasa berat baginya tapi dia sadar, kini dia tidak punya harapan lagi.
Ini salahnya, dia sadar akan hal itu, tapi menyesal pun tidak guna lagi, semua sudah terjadi. Hidupnya kini hancur, tidak bersisa.
Dia sudah bertemu dengan Jhon. Berbekal alamat dari management yang membawahi pria itu, Tamara mendatangi pria itu yang kini sudah tampak hidup bahagia dengan keluarganya. Tamara jadi tidak tegas kalau harus menuntut tanggung jawab atas hidupnya pada Jhon.
Dia hanya berkunjung, dan Jhon juga memohon agar jangan mengatakan apapun pada istrinya. Akhirnya Tamara pulang dengan kehampaan.
Tidak hanya Ken yang ingin menceraikannya, dia juga ditinggalkan Jhon, selingkuhannya, tidak sampai disitu, karirnya pun redup seiring rumor perselingkuhannya dengan Jhon, dan kabar gugatan cerai dari Ken.
"Aku akan tanda tangani surat itu," ucap Tamara tanpa mau menyentuh amplop di atas meja. "Tapi aku punya syarat. Anggap saja ini sebagai kenang-kenangan selama kita bersama dulu," lanjutnya.
"Katakan," sambar Ken dengan cepat. Dia tidak menyangka akan secepat ini meraih keinginannya. Apapun akan dia lakukan asal mendapatkan tanda tangan Tamara di berkas perceraian mereka.
"Aku menginginkan sejumlah uang dan rumah yang dulu pernah kita tempati menjadi milikku," ucap wanita itu dengan dingin, untuk sesaat dia merasa malu pada dirinya yang mengemis harta pada Ken. Kalau sekedar membeli rumah mewah yang seperti mereka tempati itu, Tamara juga mampu untuk membelinya, tapi berbeda kini, uangnya sudah habis hanya untuk menyenangkan hati Jhon.
"Aku setuju! Silakan tanda tangani surat itu, dan pengacaraku akan menghubungimu untuk mengatur balik nama dari semua properti yang kau inginkan. Jangan takut, aku bukan mantan suami yang tidak punya perasaan kepada mantan istrinya. Setidaknya aku akan menjamin kesejahteraanmu sampai kau kembali bisa berdiri di kakimu sendiri," ucap Ken menatap miris keadaan Tamara saat ini.
Pada dasarnya Tamara adalah gadis yang baik. Pada saat dia mengenal gadis itu dulu, Ken terpikat karena kepolosan dan juga perhatiannya. Tamara penuh perhatian dan sangat menyenangkan. Sikapnya berubah setelah menjadi artis yang lebih terkenal dan menyandang nama belakangnya, sebagai istri dari Kenzio Adiaksa.
"Terima kasih, Ken," ucap Tamara menunduk malu. Perlahan buliran bening jatuh membasahi telapak tangannya yang ada di pahanya. Meratapi nasibnya yang menyedihkan.
Mungkin ini bisa menjadi pembelajaran baginya untuk bersikap lebih bijaksana ketika bertindak dan mengambil keputusan agar di hari kemudian tidak membuatnya menderita dan hanya mendatangkan penyesalan.
***
akhirnya sidang perceraian antara Ken dan juga Tamara digelar minggu ini keduanya telah sepakat untuk berpisah secara baik-baik dan menjadikan kegagalan dalam rumah tangga ini sebagai pembelajaran agar keduanya lebih bijaksana ketika sudah mulai membangun rumah tangganya pasangan yang baru.
apa yang akan kau lakukan setelah surat perceraian itu keluar katanya Demian ketika duduk berdua bersama Ken di teras rumah malam itu.
Susanti sedang sibuk berbicara dengan teman arisannya sementara Rara pulang ke kontrakan Sari, besok dia libur, jadi pamit pulang.
"Aku ingin segera melamar Rara, Yah," jawab Ken penuh semangat.
"Ayah setuju?"
"Semua keputusan ada di tanganmu, apapun itu. Kami sebagai orang tua akan mendukung hanya saja Ayah ingin mengingatkan agar kau menanyakan pendapat Rara terlebih dulu. Jangan karena keinginanmu semata kau memaksa gadis itu untuk menyetujui pernikahan dalam tempo waktu yang dekat, padahal dia belum siap," ucap Damian bijak.
Ken menimbang perkataan ayahnya ada benarnya. Kalau mereka berjodoh pasti akan bersatu. Namun, Ken masih menyimpan kekhawatiran, pasalnya rivalnya masih gesit mengejar Rara.
Anak buah Ken yang diminta menjadi bayangan Rara, mengabarkan kalau Erlang masih sering mengajak gadis itu ngobrol, mencari perhatian dengan menghadiahi coklat, bunga atau pun mengajak nonton.
Ken sudah pernah komplain pada Rara, menyatakan rasa tidak sukanya atas sambutan Rara yang masih bersikap baik pada Erlang, padahal jelas-jelas sudah meminta putus pada pria itu.
"Kamu percaya kan, kalau aku hanya cinta sama kamu, Mas. Aku udah jelaskan pada Erlang, kalau aku hanya bisa menawarkan persahabatan padanya," terang Rara yang tidak ingin selalu disalahkan.
Ken sangat posesif terhadap Rara. Dihari mereka kembali bersama, Ken segera meminta Rara untuk putus dari Erlang, dan Rara sudah melakukannya, walau Erlang menolak keras akan hal itu, bahkan mendiami Rara selama seminggu.
"Aku kan membicarakan hal ini dengan Rara, Yah," jawab Ken pada akhirnya.
***
Ken mantap layar ponselnya yang baru beberapa menit lalu dia lempar di atas meja. Tidak ada perubahan, tidak ada pesan masuk ataupun telepon yang diharapkannya. Sudah sejak satu jam lalu, berulang kali Ken mencoba menghubungi nomor Rara, tapi tetap tidak tersambung juga.
Seperti biasa Ken akan selalu gelisah ketika tidak mendapat kabar dari gadis itu. Hari ini Rara tidak bekerja, jadi dia tidak tahu harus menghubungi siapa agar bisa berbicara dengan gadis itu. Dia tidak punya nomor Sari ataupun teman-teman Rara yang lainnya.
Kembali dia mendekat ke arah ponselnya lalu menekan nomor yang dianamai bayangan Rara di kontak ponselnya.
"Apa kau sudah menemukan keberadaannya?" tanya Ken tidak sabar.
"Sudah, Bos. Saat ini Non Rara sedang bersama Nyonya besar, mengikuti arisan bersama teman sosialita nya."
Tanpa menunggu lama Ken segera menghubungi ibunya, meminta agar wanita itu segera mengirimkan lokasi tempat mereka berada saat ini.
"Seharusnya ibu meminta izin kalau mau membawa pacarku!" umpatnya kesal.
Kalau bukan demi menjemput Rara, mungkin Ken tidak akan mau datang ke tempat itu. Dia sudah tahu dan bisa menebak keriuhan apa yang ditimbulkan akibat kehadirannya di sana.
"Kau sudah sampai?" Sapa Susanti mengembangkan senyum. Dia sengaja membawa Rara bersamanya agar bisa memamerkan pada teman-teman arisan nya, bahwa Ken sudah mempunyai calon istri yang sangat cantik.
Semua itu demi menepis rumors yang menyatakan bahwa Ken dicampakkan oleh Tamara dan memilih berselingkuh dengan teman artisnya karena Ken tidak sanggup memuaskan wanita itu.
Jadi, pagi tadi Susanti segera menjemput Rara di rumah Sari dan membawa gadis itu bersamanya. Di sana Susanti juga mengabarkan bahwa Ken dan Rara akan segera menikah.
"Aku datang ingin menjemput Rara, Bu.Laim kali, kalau ibu ingin membawanya, harus izin dulu padaku," jawab Ken dengan nada tegas. Semua wanita paruh baya yang tampilannya nyentri dan berlagak muda, berupaya untuk menarik simpati memanggil nama Ken, walau sekedar hanya untuk disapa tapi harapan mereka harus pupus karena sedikitpun Ken tidak menoleh pada mereka. Dia hanya fokus pada wajah Rara yang juga tengah melihat ke arahnya dengan keterkejutan yang sangat jelas, lalu menarik pergelangan tangan Rara, dan mengajaknya keluar dari ruangan itu.
"Maaf, kami pulang duluan," Bu ucap Ken, mengangguk hormat pada ibu serta teman-temannya.