Scandal With Maid

Scandal With Maid
Cemburu Buta



Hidup Tamara berada di titik terendah. Bayi dalam kandungannya sudah tidak ada, mertuanya sudah membencinya, hubungannya dengan Jhon memburuk, bahkan pria itu tidak tahu keberadaannya.


Sore itu Tamara mendatangi apartemennya, berharap kalau mereka bisa membicarakan hubungan mereka, tapi Jhon tidak ada. Pria itu bilang tidak tahu dimana rimbanya, bahkan seminggu setelahnya juga tidak ada kabar.


Tamara semakin terpuruk, tidak punya teman untuk diajak cerita, sendiri dan terpuruk. Belum lagi Ken yang mulai bersikap dingin padanya. Seminggu setelah kehilangan anaknya, Ken masih memperhatikan dirinya, kesehatan dan juga makanannya, tapi setelahnya, Ken tidak peduli.


Tatapan mata pria itu selalu dingin setiap mereka tiap kali saling bersitatap. Saat beberapa kali punya kesempatan makan malam bersama, Ken bahkan tidak menoleh padanya.


Pusing dengan segala permasalahannya, dia memutuskan untuk menghabiskan waktunya ke salon langganannya, karena besok dia harus bertemu dengan CEO yang ingin memakai jasanya membintangi produk mereka.


Kebosanan melanda saat di perjalanan, tanpa sengaja, Tamara melihat seorang pria yang sedang mengejar gadis yang ada di depannya. Menarik perhatiannya, kedua orang itu sangat dia kenal.


"Pak, bisa perlambat laju mobilnya," ucap Tamara pada sopir taksi. Dia jera memakai sopir pribadi, sejak kejadian di apartemen. Dia butuh privasi yang tidak bisa terdeteksi oleh Ken.


Mata Tamara semakin membulat kala sosok kedua orang yang itu adalah Ken dan Rara. Tampak Ken memohon pada Rara untuk berhenti dan mau berbicara padanya.


Rara akhirnya mau berhenti, tangannya diseret oleh Ken untuk bicara. Keduanya memasuki cafe yang terlihat cukup ramai.


"Pak, saya turun di sini aja," ucap Tamara setelah memastikan kedua orang yang dia kenal itu masuk ke dalam.


Jantung Tamara berdetak semakin kencang. Keringat di keningnya tampak turun ke rahang wajahnya. Dia memasuki tempat itu, matanya mencari keduanya yang kini duduk di dekat jendela.


Ketepatan Tamara memang memakai topi dan masker, serta kacamata. Kostum yang belakangan ini dia pakai agar tidak diincar oleh para wartawan.


Tamara memilih meja yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Tempat yang bisa mendengar semua obrolan mereka. Keduanya tidak akan mengetahui keberadaan Tamara, karena keduanya duduk berdampingan dengan posisi membelakangi gadis itu. Hati Tamara dipenuhi banyak pertanyaan, apa tujuan mereka bertemu.


"Ra, aku minta maaf karena memukulnya!" ucap Ken dengan suara tegas, tapi terselip kelembutan. Namun, siapapun tahu permintaan maaf itu tidak 'lah membuktikan penyesalan Ken atas apa yang dia lakukan.


"Kamu kenapa sih? Apa yang kau pikirkan sampai harus memukul Erlang? Dia salah apa?" pekik Rara. Dia kesal setengah mati. Hari ini Erlang datang ke rumah Adiaksa untuk menemuinya.


Penuh suka cita, Erlang datang dengan membawa bunga. Sebenarnya Rara sudah melarangnya datang, karena merasa tuanya nyaman kalau harus menerima tamu di rumah majikannya.


Namun, Erlang memaksa, dan ternyata saat datang, Susanti yang melihat hal itu justru mengizinkan Rara menjamu Erlang di ruang tamu.


Namun, saat pamit pulang, Ken yang datang berpapasan di depan pintu gerbang dengan Erlang. Melihat bunga di tangan Rara, amarah Ken memuncak dan tanpa aba-aba, dia melangkahkan tinjunya.


"Jangan pernah kau menginjakkan kakimu di rumah ini!" bentaknya setelah Erlang jatuh tersungkur ke jalan.


"Mas, apa yang kau lakukan? Dasar gila!" umpat Rara membantu Erlang berdiri. Tatapan marah Rara membuat Ken meringis, tapi tidak juga membuatnya menyesal telah memukul Erlang.


Erlang bukan tidak berani melawan, tapi Rara melerai, menahan tubuh Erlang. "Udah biarin aja Er. Kamu pulang dulu, ya. Maklumi aja, mungkin dia sedang stres!" ucap Rara dengan suara keras, memastikan Ken mendengar.


Kecemburuan membuat pria itu tidak bisa berpikiran normal lagi. Bibirnya berkata sanggup, tapi kenyataannya, dia tidak bisa melupakan Rara, dan saat melihat gadis yang dicintainya itu didekati pria lain, tentu saja tidak terima.


Erlang mengalah, dia pulang. Baginya bodo amat, apapun yang dilakukan oleh Ken terhadapnya tadi, baginya pria itu melakukanya karena tidak terima kini Rara bersamanya. Pria yang sangat menyedihkan.


Setelah Erlang pulang, Rara segera melanjutkan pekerjaannya. Ken yang bicara dengan kedua orang tuanya, terus melirik mencari keberadaan Rara.


"Bu, bapak sudah selesai makan, saya izin pulang dulu," ucap Rara. Susanti sudah mengizinkannya pulang setiap Jumat sore, dan tidak kerja setiap Sabtu dan Minggu.


"Ya sudah, kamu hati-hati," jawab Susanti.


"Bu, aku juga izin pulang dulu, udah sore," sambar Ken ikut bangkit berdiri.


"Loh, kamu 'kan belum ketemu sama ayahmu. Bukannya kamu datang mau melihat ayah?" Susanti mengerutkan kening melihat ke arah Ken yang sudah menarik tangan Susanti untuk mencium punggung tangannya.


"Besok datang lagi," jawabnya mengedipkan sebelah matanya sembari tersenyum.


"Ada-ada aja kamu. Ya udah, sekalian kami antar Rara, kasihan dia kalau harus nungguin ojek, lagian rumah dan rute mu pulang juga searah," lanjut Susanti yang membuat bola mata Rara membulat sembari menggeleng lemah.


"Siap, Bu. Aku pasti akan mengantarnya pulang," jawab Ken menoleh ke arah Rara dengan menarik sudut bibirnya, mengembangkan senyum penuh kemenangan.


Dengan terpaksa, Rara ikut masuk ke dalam mobil Ken. Selama di perjalanan, dia diam, tidak mau melihat ke arah Ken. Tapi sepertinya pria itu memang tidak menyerah, seolah punya seribu cara untuk membuatnya kesal.


Benar, kan, pria itu bukan mengantarnya pulang, tapi justru membawanya ke jalan berbeda.


"Kita mau kemana? Kemana kau akan membawaku?" hardik Rara saat melihat perubahan rute yang dipilih Ken.


"Aku lapar. Temani aku makan," ucapnya cuek. Walau Rara akan mencakar nya dia tidak akan melepaskan Rara kali ini.


Rara tahu kalau pun dia berdebat dengan pria itu, dia akan kalah, jadi lebih baik memilih untuk diam. Saat sudah hampir sampai di tujuan, dan mobil harus berhenti karena jalanan yang macet, Rara keluar dari mobil dan mencoba menjauh dari Ken, tapi tentu saja tidak akan semudah itu, Ken mengejarnya.


"Ra, jangan marah dong," ucap Ken kembali menarik perhatian Rara.


"Jawab dulu, kenapa kamu memukul Er?" salak Rara yang belum sudi memaafkan Ken.


"Karena aku gak suka dia mendekati mu!"


"Urusan apa sama kamu? Hak aku mau dekat dengan siapa!" seru Rara semakin kesal dengan sikap Ken yang menyebalkan.


"Gak bisa. Kau adalah milikku. Kau tahu betul aku sangat mencintaimu. Seandainya malam aku bercinta denganmu bisa membuatmu hamil, kita pasti sudah menikah sekarang!"


Napas Tamara tercekat, sesak terasa. Bola matanya membulat seiring kalimat terakhir Ken menggema di telinganya. "Brengsek!"