
Rasanya lama sekali waktu berlalu. Rara tidak sabar menunggu esok, untuk menjemput Sari pulang. "Bun, mama jadi pulang besok?" tanya Miko yang sedang menikmati sarapan paginya, dua helai roti lapis isi selai coklat kesukaannya. Anak itu duduk di meja makan sembari memperhatikan Rara yang sedang membersihkan wastafel.
Minggu pagi ini tidak terlalu sibuk. Ken tampaknya belum bangun, hingga Rara tidak perlu menyiapkan sarapan bagi Ken. Sementara Tamara? Jangan tanya! Gadis itu belum pulang juga.
"Benar, Sayang. Besok kita jemput mama," jawab Rara mengusap puncak kepala Miko, lalu kembali menyelesaikan pekerjaannya. Kali ini Rara akan mulai memasak, jadi segera membuka kulkas melihat bahan apa yang bisa diolahnya.
"Pagi," Sapa Ken masuk ke dalam dapur. Tampak belum mandi, dengan rambut yang berantakan. Memilih duduk di samping Miko, tersenyum pada anak itu dan seperti yang dilakukan Rara tadi, pria itu juga mengusap pucuk kepalanya.
"Pagi, Tuan. Mau aku siapkan sarapan nasi goreng atau roti?" tanya Rara. Sejak sering mengobrol, Ken meminta Rara tidak perlu menggunakan bahasa yang formal, 'saya'. Rara menurut, selama itu tidak menyalahi aturan.
"Kalau boleh aku hanya minta air perasaan asam dicampur madu, kepalaku sakit sekali," ucap Ken yang memang begadang semalaman. Selepas Rara masuk kamar, Ken yang sudah berusaha memejamkan mata, kembali gagal, pada akhirnya memilih masuk ke ruang kerjanya. Di sana ada ruangan kecil yang didesain seperti bar mini. Di sana lah Ken menghabiskan waktunya hingga pagi menjelang. Pukul lima pagi baru pria itu beranjak ke kamar tidurnya yang dingin.
"Silakan, Tuan." Rara meletakkan di atas meja. "Tuan, aku izin ke warung di luar komplek ini. Mau beli beberapa bumbu dapur yang kurang untuk bahan masak hari ini," lanjut Rara membuka celemek nya, melipat dan meletakkan di dekat wastafel.
Ken hanya mengangguk lalu menyeruput teh hangat yang dicampur perasaan lemon dan madu. Segar sekali.
"Enak makannya?" tanya Ken setelah sejak tadi mengamati bocah itu dalam diamnya.
"Iya. On mau?" Miko menoleh ke arah Ken. Anak itu sangat suka pada Ken. Walau wajah Ken tidak pernah senyum dan sangat tegas, bagi Miko, Ken adalah pahlawannya.
Suatu hari Miko yang sudah mendapatkan peringatan dari Rara untuk tidak masuk ke ruang tamu, terlebih kalau ada Tamara di rumah, Miko jangan sampai masuk ke ruang depan, dan kalau mau keluar haruslah lewat pintu samping. Hari itu Miko yang bermain bola, di halaman, tidak sengaja menggelindingkan bolanya hingga terus masuk ke ruang tengah.
Miko diambang kebingungan. Anak penurut itu ragu apakah harus mengambilnya masuk ke dalam, tapi dia ingat pesan Rara.
"Ingat Miko, jangan masuk ke ruang depan!" Rara memberikan ultimatum.
"Siap, Bunda," sahut Miko cepat. Sejak kecil, Miko memang sudah memanggil Rara dengan sebutan Bunda, alih-alih memanggil Tante. Rara sangat sayang padanya, dan sejak lahir, Rara membantu menjaga dan merawat Miko kala Sari harus bekerja.
Janji itu sudah sebisa mungkin dipatuhi Miko, tapi sayang, hari itu dia harus melanggarnya. Miko berjalan mengendap-endap ingin mengambil bolanya dan yang ada di bawah meja. Saat mendapatkan bola itu dengan mengulurkan tangannya ke bawah meja, Miko yang gembira, lupa menunduk lagi dan berjalan mundur, justru tegak tepat di bawah meja, hingga kepalanya menyundul bagian bawah meja, dan alhasil keseimbangan vas besar nan mahal yang langsung di datangkan dari China, goyang dan berakhir di lantai dengan wujud pecahan.
Tamara yang saat itu sedang sibuk ber-treadmill ria di dekat situ, segera berlari ke arah bunyi pecahan vas itu. Begitu terkejut melihat vas mahal kebanggaannya pecah berserakan di lantai.
Tanpa memikirkan hal lain lagi, Tamara segera menjewer telinga Miko dan menampar wajah anak itu.
Tangisan Miko lah yang membuat Rara yang saat itu menjemur kain di halaman belakang datang dah segera mendekati mereka.
"Astagaaa....! Miko!" Pekik Rara terperanjat.
"Bunda, tolong aku. Bu Tamara menamparku," ucap Miko di sela tangisnya.
"Apa?" Bentak Tamara berkacak pinggang. Keringatnya tampak mengucur deras dari keningnya melewati pipi.
Saat tangannya dilepaskan oleh Tamara, Miko segera berlari dan bersembunyi di balik tubuh Rara.
Saat keributan itu muncul Ken yang sudah berpakaian rapi hendak ke kantor. Melihat puing vas dan mendengar aduhan istrinya. Ken masih diam, lalu dia melirik ke arah Miko. Ken masih bisa melihat bekas tamparan Tamara di pipinya.
"Sudahlah, Tam. Itu hanya vas. Apa perlu kau seperti itu hingga menampar anak kecil ini? Dia juga sudah bilang gak sengaja dan minta maaf," ucap Ken mencoba melihat situasi yang sebenarnya.
Jangan harap Tamara mau melepaskan Miko begitu saja. Dia tetap ngotot anak itu bersalah dan dia pantas untuk diberikan hukuman lebih berat dari sekedar tamparan.
Lama perdebatan antara suami istri itu. Rara hanya bisa menahan kesedihannya, dia ingin membalas Tamara karena sudah menampar Miko. Dia dan Sari saja, ibu yang melahirkan Miko, tidak berani untuk memukul anak itu.
Namun, Rara sadar posisinya saat ini. Jadi, dia memutuskan untuk terus meminta maaf pada Tamara.
"Sudah, Tak. Aku gak ingin mendengar keributan lagi. Dia masih kecil. Kau bisa beli lagi, jika perlu, aku akan membelikan sepuluh yang lebih bagus dari ini!" Ken merasa kesal karena sikap Tamara.
Tidak ingin memperpanjang perseteruan dengan suaminya, Tamara akhirnya mengalah. Sejak saat itulah, Ken menjadi superhero di hati Ken.
"Miko, sayang sama Bunda?" tanya nya lagi.
"Sebenernya pertanyaan apa sih ini. Mana ada anak yang tidak sayang sama orang tuanya!" batin Ken menyadari kebodohannya.
"Sayang dong, Om. Memangnya kenapa?"
"Kamu gak pengen punya papa baru? Maksud Om, kamu gak ingin Bundamu menikah lagi?"
"Mau dong, Om. Miko maunya Bunda jadi sama Om Dodit," jawab Miko menenggak susu hangatnya, mengakhiri sesi sarapan nikmat lagi ini.
"Dodit? Siapa itu?"
"Kang antar galon air dekat rumah kami, Om."
"Kenapa harus Dodit?" Susul Ken. Ada rasa tidak suka di hari Ken, mengetahui Miko sudah punya calon ayah idaman untuk bundanya.
"Om Dodit punya becak keren om, yang suka ngangkut galon air minum isi ulang. Nanti kalau bunda nikah sama om Dodit, aku kan bisa ikut naik di becaknya," jawab Miko polos. Matanya memancarkan kegembiraan akan harapan itu.
"Kamu gak ingin diajak naik mobil mewah? Enakan mana mobil mewah dari pada becak motor?" Tantang Ken, yang tanpa sadar bak anak kecil yang mencoba mencuci pikiran Miko agar tidak memberikan dukungan pada Dodit.