Scandal With Maid

Scandal With Maid
Damai Itu Indah



"Mas, aku mohon tenangkan dirimu. Aku dan Erlang cuma bicara, aku bahkan memberikan padanya undangan pernikahan kita," ucap Rara menunjukkan undangan yang masih dipegang Erlang.


Ken melirik ke arah yang Rara tunjuk. Benar adanya undangan itu masih dipegang oleh Erlang. Dia melihat ke arah wajah Erlang yang seolah menantang, lalu mendengus ingin sekali rasanya melayangkan tinjunya ke wajah tengil pria itu.


"Lalu kenapa harus berpelukan? Jawab, Ra?!Kau tahu betul aku sudah pernah dikecewakan oleh Tamara atas penghianatannya, apa kau ingin juga berkhianat kepadaku? Aku bisa mati, Ra! Kalau sampai kau melakukan hal itu, kau tahu betul aku sangat mencintaimu," ucap Ken


mengguncang bahu gadis itu.


Rara sampai ketakutan melihat wajah Ken yang begitu mengerikan, tatapannya yang begitu tajam seolah mampu membakar tubuhnya. Belum pernah dia melihat Ken semarah itu.


Erlang yang melihat Rara memucat akhirnya tidak bisa tinggal diam, dia takut kalau amarah Ken sampai membuat akal sehat pria itu tumpul. Erlang bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke hadapan Ken.


"Bersikap lembut'lah pada Rara, atau aku akan menghajar mu!" umpatnya menantang lewat delik matanya.


"Brengsek!" umpat Ken melepas tinjunya. Sudah sangat geram melihat tingkah pria Erlang yang seolah terus memancing amarahnya. Satu pukulan itu mendarat mulus di rahang Erlang.


Cih! pria itu membuang ludah, tampak sudut bibirnya berdarah. "Hanya ini yang bisa kau lakukan? Kau selalu emosi setiap melihat Rara bersama orang lain, seolah dalam hidupnya harus hanya kau yang ada. Sadar'kah kau, kalau Rara sangat mencintaimu? Cuih! Aku menyesal mendoakan kebahagiaan kalian tadi. Kalau tahu sifat mu kekanak-kanakan begini, aku akan tetap berusaha mendapatkan Rara kembali!" umpatnya mengepal tinju bersiap untuk melayangkannya sebagai balasan pada Ken.


Ken akhirnya tersadar kalau dia terlalu emosi. Diliriknya Rara yang tampak ketakutan padanya.


"Ra, maafkan aku, Sayang. Aku sudah membuatmu takut, ya?" ucap Ken mendekat pada Rara. Tangan gadis itu begitu dingin dan basah.


Rara bergeming, hanya menunduk. Dari segi umur dia lebih tua dari mereka berdua, tapi justru tidak bisa mengontrol amarahnya.


"Sayang, bisa'kah kau membelikan kami minuman? Aku haus," ucap Ken membelai pipi Rara. Gadis itu awalnya ragu, takut meninggalkan kedua pria itu tanpa pengawasannya. Bisa jadi saat dia kembali nanti keduanya sudah babak belur saling hantam, tapi Ken meyakinkan dirinya kalau mereka hanya akan duduk dan bicara sembari menunggu Rara datang.


"Apa masih sakit?" tanya Ken tanpa menoleh ke arah Erlang yang duduk di sampingnya keduanya di satu kursi dengan memberikan jarak beberapa jengkal di antara mereka.


"Lumayan. Walau bukan yang terbaik!" jawab Erlang yang masih enggan untuk bersikap ramah pada Ken.


"Kau pun pasti akan melakukan yang sama ketika melihat orang yang kau cintai berada dalam pelukan pria lain," jawab Ken, masih menganggap apa yang dilakukannya itu benar.


"Sejujurnya aku belum bisa menyerahkan Rara padamu dengan sepenuh hati. Kau benar, Rara istimewa dan begitu mudah untuk dicintai, tapi aku bukan pria yang beruntung, hati Rara sudah tertambat padamu. Perlu kau ketahui, pelukan tadi adalah pelukan perpisahan, aku yang sudah memaksa memeluknya, walaupun dia sudah menolak." Akhirnya Erlang menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Tidak semudah itu, Ken. Aku bukan pria yang gampang jatuh cinta pada wanita. Rara terlalu membekas di hatiku, tapi kau benar, aku tidak punya pilihan lain selain merelakannya untukmu. Aku mohon, jaga dan sayangi dia. Jangan pernah membuatnya bersedih. Kalau sampai aku tahu kau membuatnya menderita maka aku akan mencarimu!" ancam Erlang menoleh ke arah Ken. Kini kedua pria itu saling laga pandang tepat saat Rara tiba membawa plastik berisi minuman dingin yang bisa dia dapatkan di showcase kantin.


"Ka-kalian sedang apa?" tanya Rara melihat satu persatu kedua pria itu secara bergantian. Dia merasa aneh menemukan keduanya saling adu pandang seperti itu.


"Kemarilah, Ra. Duduk di sampingku," ucap Ken, menepuk tempat di sebelah kirinya, hingga dia menjadi pemisah antara Rara dan Erlang.


Ken mengambil satu botol minuman itu dan menyerahkan pada Erlang, lalu membuka satu lagi untuk Rara, lalu terakhir untuk dirinya sendiri.


"Apa kau masih marah? Aku bersumpah, aku tidak mengkhianati mu," ucap Rara saat mereka sudah dijalan mau pulang.


"Gak, Sayang. Aku percaya padamu, tapi Ra, hatiku sangat rapuh. Aku mencintaimu hingga tidak akan bisa menerima kalau kau dekat dengan pria lain, walaupun hanya sekedar berteman. Aku mohon ya, Sayang, jangan pernah dekat dengan pria lain," ucap Ken menarik tangan Rara dan mencium punggung tangan gadis itu.


Rara begitu terharu mendengar perkataan Ken. Dia berjanji akan memegang janjinya, tidak akan ada lagi pertemanan berlebih dengan seorang pria. Sudah resikonya kalau jatuh cinta pada pria pencemburu yang ada di sampingnya ini.


"Aku janji," ucap Rara dengan mata berkaca-kaca.


***


"Kalian dari mana?" tanya Susanti melihat kedatangan Ken dan Rara.


"Dari kampus, Bu, jemput calon mantu ibu ini. Susah kalau gak diawasi, cantiknya buat banyak buaya mendekat," ucap Ken mengedipkan mata ke arah Rara.


"Salah satunya kamu, ya?" timpal Susanti yang membuat Ken ditertawakan oleh kedua wanita itu.


"Kalian ya, kalau sudah bersatu, gak akan terlawan. Jangankan untuk menang, seri aja susah," ucap Ken ngeloyor pergi.


"Sini, Ra, duduk dekat Ibu," pinta Susanti yang langsung dipatuhi wanita itu.


"Ibu berterima kasih, sekaligus senang karena kau sudah mau tinggal di rumah ini setelah menikah nanti, tapi mengingat pernikahan kalian masih dua minggu lagi, menurut Ibu sebaiknya kamu nggak usah tinggal di sini ya. Kamu jangan salah sangka, ini semua demi membuatmu berharga," tukas Susanti dengan lembut.