Scandal With Maid

Scandal With Maid
Balas Dendam Tamara



Petir rasanya menggelegar di atas kepala Ken. Menyambar dirinya hingga berujung maut, kala mendengar berita yang disampaikan oleh Tamara.


Wajahnya pucat, seolah darah enggan untuk kembali mengalir ke wajahnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak seketika. Dia sekarat, atau sudah diambang kematian?


Tubuhnya kaku, tapi dia masih menyadari kehadiran Rara di sekitar mereka. Tanpa melirik ke arah gadis itu pun, Ken tahu saat ini Rara sama terkejutnya dengan dirinya.


"Hamil? Ada bayi diperut Tamara?" batin Ken. Berita itu seperti bom yang dilemparkan Tamara padanya. Bukankah seharusnya dia senang? Tapi mengapa rasanya justru sebaliknya?


Kalau lah berita ini datang satu tahun lalu, atau gak lima bulan lalu, saat dia belum mengenal Rara, pasti akan lain ceritanya.


"Sayang, kamu gak ngasih selamat buat aku? Akhirnya aku hamil, setelah bertahun-tahun kita menantikan seorang anak di rumah tangga kita," ucap Tamara, menikmati keterkejutan Ken. Ini yang dia harapkan, semua rencananya berhasil.


Dia begitu puas bisa membuat Ken tidak berkutik, begitupun dengan Rara. Walau belum punya bukti otentik akan kedekatan keduanya, Tamara tetap perlu waspada pada Rara. Jadi, berita ini sekaligus membungkam mulut wanita yang dianggapnya menjadi pelakor dalam rumah tangga mereka. "Kamu juga Ra, harusnya 'kan kamu kasih selamat?"


Kalimat Tamara menarik Rara kembali ke dunia nyata. "Se-selamat, Nona," ucapnya tergagap. Mengukir senyum demi menutupi kegugupannya, lalu dengan anggukan kepala, dia pamit masuk ke kamarnya.


Betapa hancurnya hati Rara, Ken tahu itu. Dia pun begitu. Ingin sekali berlari mengejar kekasihnya itu, mengatakan apapun yang bisa membuat Rara tetap percaya dan bersedia di sisinya, tapi kakinya sudah dipaku mati, tangannya sudah diborgol oleh bayi yang ada dalam kandungan Tamara.


Dengan cepat berita kehamilan itu mencuat. Semua media memberitakannya dan setiap hari hanya itu yang jadi santapan hampir seluruh netizen di negri ini.


Berita itu membuat langkah Susanti sampai di rumah mereka. Wanita itu begitu bersemangat ingin memastikan kalau berita itu benar.


"Iya, Bu. Aku sedang hamil enam Minggu," jawab Tamara penuh rasa bangga.


"Oh, akhirnya, yang Maha Kuasa mendengarkan permohonan kita. Selamat ya, Nak," ucapnya memeluk Tamara melupakan semua perselisihan yang pernah terjadi di antara mereka.


Susanti masih belum percaya kalau sebentar lagi dia akan memiliki bayi. Dari sudut ruangan tidak jauh dari sana, Rara berdiri, melihat kebahagiaan kedua wanita itu dengan lelehan air mata. Dia tidak pantas mengumpat, sudah seharusnya, pria yang beristri memiliki kemungkinan punya anak. Lantas, mengapa dia tidak rela?


"Sadar'lah, Ra. Dari awal juga kau sudah tahu akan tiba hari seperti ini. Akan ada kemungkin kalau Tamara hamil anak Ken!" batinnya menyadarkan dirinya sendiri.


"Ra, mana minumnya!" pekik Tamara. Dia tidak perlu menjaga sikap di depan mertuanya lagi. Selama ada janin dalam perutnya, dia bisa mengontrol semua anggota keluarga suaminya. Dia 'lah ratunya kini. Jangankan Ken, ibu mertuanya yang galak saja bertekuk lutut di hadapannya.


Tidak lama Rara keluar membawakan minuman yang diminta Tamara. "Silakan, Non, Nyonya besar," ucap Rara sopan. Sedikitpun dia tidak berani mengangkat wajahnya, tidak mungkin menunjukkan kesedihannya dihadapan kedua wanita itu.


"Kamu kenapa? Kok matamu wajahmu sembab? Kamu habis nangis?" tanya Susanti sedikit lebih ramah dari sapaan yang pertama dulu.


Mau tidak mau, Rara terpaksa mengangkat wajahnya, menunjukkan pada mereka. Mata merah, wajah sembab dan ada kantung mata terpampang jelas di wajah Rara.


"Kamu kenapa? Kamu sakit?" Pekik Susanti khawatir. Walau cerewet, hatinya baik. Dia selalu memperlakukan manusia layaknya manusia, walau kadang lidahnya berucap tajam.


"Sa-saya baik-baik saja, Nyonya. Hanya kurang enak badan," jawabnya singkat lalu mohon undur diri. Tamara yang melihat betapa kacaunya penampilan Rara kala itu mengulum senyum kemenangannya.


"Pelayan kamu kenapa, sih? Kamu harus lebih peduli dengan pelayan kamu. Walau pelayan, dia sudah sangat membantu," ucap Susanti mengalihkan pandangannya pada Tamara.


"Aku peduli kok, Bu. Udah aku kasih obat, katanya hanya masuk angin aja. Biasa lah Bu, mungkin kecapean main sama pembantu dan satpam di komplek ini," jawab Tamara mulai mencemari isi pikiran Susanti. Dia tidak suka siapapun bersikap baik dan peduli pada Rara.


Alasan dia tidak memecat Rara hingga saat ini, selain ingin menyiksa perasaan gadis itu dengan kemesraannya bersama Ken, juga karena belum menemukan pelayan pengganti.


Dia masih bersikap menjadi majikan yang baik pada Rara. Mengajak Rara ngobrol dan juga berbagi makanan, agar saat dia menendang Rara nanti, tidak ada yang menyalahkannya.


Dua jam berbincang dan memberikan wejangan pada Tamara agar menjaga bayinya dengan baik, Susanti pamit pulang.


"Ra, buatkan aku susu hamil dan bawa ke kamar ya," ucap Tamara yang muncul diambang pintu kamarnya. Dia sempat menangkap gadis itu duduk di tepi ranjang menetap layar ponselnya dengan air mata di pipi.


Rara bergegas membersihkan pipinya, lalu segera mengangguk, dan bangkit dari duduknya. Dia hanya bisa menatap langkah kaki Tamara yang ada di depannya.


Kini dia sadar, mereka berdua sangat jauh berbeda. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya, jika harus melawan Tamara. Mungkin dia bisa memenangkan hati Ken karena mencintainya, tapi dengan adanya bayi itu, tidak hanya hati Ken yang dimenangkan oleh Tamara, tapi juga seluruh anggota keluarganya.


"Ini susunya, Nona," ucap Rara meletakkan gelas di atas nakas. Wanita itu memberikan tanda pada Rara untuk jangan pergi dengan mengangkat jarinya.


Rara patuh. Dia tetap berdiri di sana, menunggu sampai wanita itu selesai bertelepon.


"Ada yang Anda butuhkan lagi, Nona?" tanya Rara sesaat setelah Tamara menutup pembicaraan dengan seseorang di seberang sana yang dia tebak adalah manager nya.


"Aku ada perintah buatmu. Mulai besok, kau ikut aku ke lokasi syuting. Aku gak ingin bayiku kenapa-napa, jadi saat aku butuh sesuatu, kau sudah ada untuk melakukannya," ucap Tamara menarik tubuhnya ke belakang, menopang beban dengan kedua tangan yang di mencengkram seprai.


Penuh keangkuhan dia ingin menjajah Rara. Dia tahu kalau Rara pasti sangat kesal kini, tapi dia tidak akan punya pilihan lain selain mengikuti kemauan Tamara.


"Tapi sampai kapan Nona? Saya sudah masuk kuliah mulai bulan depan," jawab Rara berani. Kepedihan hatinya membuatnya tidak peduli kalau dianggap membantah.


"Sampai satu bulan ini. Sebelum kau kuliah, aku pasti sudah menemukan pengganti mu. Ayolah, Ra. Ini demi anak kami. Ken juga pasti ingin anaknya kau jaga!"


*


*


*


Kuys mampir