
Acara itu dihadiri banyak tamu undangan, wajar karena orang tua Rangga adalah orang terpandang. Malam itu Ijah tampak begitu cantik, dibalut gaun pengantin yang begitu indah.
Perjuangan Rangga dan Ijah demi acara malam ini tidak mudah. Rangga sudah sempat dikirim ke luar negeri, dan Ijah pun sudah bekerja di rumah orang lain walau masih satu komplek perumahan.
Dua Minggu bekerja, Ijah jatuh di kamar mandi, hingga masuk ke rumah sakit dan dokter menjelaskan keadaan Ijah pada majikan barunya.
Ijah tidak ingin dianggap main gila dengan majikannya seperti tuduhan nyonya rumah, akhirnya Ijah buka suara dan menjelaskan semua.
Oleh desakan majikan baru Ijah, Yeyen akhirnya mau menerima Ijah sebagai mantunya karena diancam akan diberitahukan ke media mengenai tindakan Rangga yang tidak bertanggung jawab.
Ayah Rangga akhirnya mendesak Yeyen untuk menerima Ijah.
"Kau cantik malam ini. Selamat ya, Sayang. Semoga bahagia selalu," ucap Rara mengecup pipi Ijah ketika memberi selamat pada wanita itu.
"Makasih udah datang, Ra. Makasih juga udah bantu aku selalu ini," balas Ijah haru.
"Makasih Ra, udah jaga Ijah selama aku tidak ada," tambah Rangga menjabat tangan Rara.
"Sama-sama. Kalian juga harus bahagia selalu," lanjut Rara ikut berkaca-kaca.
"Udah, kok pada lomba nangis segala," sambar Markonah, menyerobot antrian. "Lihat tuh, tamu yang lain udah banyak nungguin mau salaman sama pengantin," lanjutnya. Semuanya pun tertawa dan mulai meninggalkan panggung pelaminan menuju meja.
Erlang menjadi idola di tengah teman-teman Rara. Mereka turut senang karena Rara kini sudah membuka hati pada seorang pria.
"Aku ikut bahagia untukmu, Ra," ucap Markonah memeluk sahabatnya itu. "Dia sangat tampan dan begitu sopan dan ramah, aku yakin kau akan bahagia bersamanya."
"Mar, kamu salah mengerti, dia bukan pacarku," balas Rara dengan pelan, matanya ikut menatap ke depan, ke arah Erlang yang diminta Wati dan Munaroh untuk menemani mengambil makanan.
"Tapi dia bibir unggul, harusnya kau pepet terus. Er tangkapan bagus," lanjut Markonah menatap kagum pada Erlang.
Seandainya memang semudah itu, nyatanya tidak, hati Rara masih tertahan oleh seseorang, dan tepat saat ini orang yang menawan hatinya memasuki ruangan pesta.
Seketika jantung Rara memucat, jantung berdegup sangat kencang. Dia berusaha untuk menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh Markonah.
Penasaran dengan perubahan riak wajah sahabatnya, Markonah ikut melihat ke arah pandangan Rara. Dia mengerti, tapi Markonah menganggap hanya rasa tidak enak hati pada Tamara karena sudah tidak bekerja lagi pada mereka.
"Ini, kamu tinggal pilih mau makan apa," ucap Erlang mengagetkan Rara.
"Oh, makasih Er," jawab Rara mencoba menenangkan hatinya.
Walau sudah berusaha untuk tidak menampakkan diri, ternyata Tamara tidak ingin melepaskannya. Matanya menangkap keberadaan Rara, lalu dia mulai berjalan menuju meja mereka dengan gaya yang anggun dan juga menggandeng Ken.
Untuk persekian detik, Ken dan Rara sempat saling adu pandang, entah mengapa Rara tidak sanggup melihat tajamnya mata pria itu walau dia sangat rindu padanya.
Selama Rara kerja di kediaman Adiaksa, dan keadaan Damian sudah membaik, Ken seolah sengaja tidak mau datang lagi berkunjung, atau memang sengaja menghindarinya.
"Benar, dan kami senang Anda bisa hadir di pesta ini. Lihat, kita semua sama di sini, tidak ada diantara kami yang memakai papan nama yang menandakan kami pelayan, Nona Tamara," ucap Rara yang tidak terima teman-temannya di hina.
Wajah Tamara memerah. Dia mengepalkan tinjunya menahan geram pada Rara. Sementara tatapan Ken terkunci pada sosok Erlang.
"Apa kabar, Ra? Lama gak ketemu? Bagaimana keadaan Ayah dan Ibu mertua ku?" tanya Tamara dengan angkuh. Dia tidak terima kalau mulutnya dibungkam oleh jawaban Rara. Tamara sengaja menanyakan hal itu, agar gadis itu ingat walau dia berpakaian indah, tetap saja dia pelayan.
"Baik. Sangat baik, terima kasih karena Anda sudah memberikan jalan buat saya bekerja di sana. Majikan saya yang baru sangat baik," jawabnya tersenyum penuh kemenangan.
"Ayo, Sayang. Kita sapa teman-teman kita yang sederajat," ucapnya dengan suara lantang, lalu menarik Ken yang sejak tadi sama sekali tidak menyimak pembahasan kedua wanita itu. Fokusnya terkunci pada wajah Erlang dan juga Rara.
Dia bisa melihat kalau pria itu punya niat untuk mendekati Rara, dan itu membuat Ken marah.
Selema acara itu, Rara benar-benar tidak nyaman, merasa terintimidasi oleh tatap Ken yang tidak lepas darinya. Saat dia berbicara dengan tamu yang lain, tetap saja tatapannya tidak bisa dia alihkan dari Rara.
"Aku ke toilet dulu," ucap Rara berbicara pelan pada Erlang yang duduk di sampingnya.
Rara mengempaskan bokong nya di toilet, dia butuh waktu untuk meredamkan gemuruh dalam hatinya.
"Mengapa aku sulit sekali melupakan Ken? Kenapa begitu lemah saat ditatap olehnya?" batin Rara mengumpat kelemahannya. Padahal sudah sejauh ini mereka berpisah, harusnya bisa membentengi dirinya.
Merasa sudah lebih baik, Rara keluar dari toilet. Dia ke sana hanya untuk menyendiri sesaat. Baru akan melangkah menuju ruang pesta itu, tangan Rara sudah ditarik seseorang.
Ditengah kekagetannya, dia melihat sosok Ken yang dengan langkah tergesa menariknya ke luar melalui pintu samping.
Rara diam, suaranya hilang dibius oleh wangi parfum pria itu. Kesadarannya kembali kala Ken menekan tubuhnya hingga mentok ke dinding. Napas keduanya saling memburu, Rara bahkan bisa merasakan wangi mint dari pria itu.
"Tampaknya kau sudah bisa menikmati hidup mu!" Kalimat pertama Ken setelah perpisahan mereka berbulan lamanya. Rara masih belum bisa memerintahkan otaknya untuk berpikir, dia terus melihat wajah dengan mata penuh amarah itu.
"Siapa pria itu?" Hardikan Ken membawanya kembali ke alam nyata. Ini bukan mimpi, dia sedang bersama Ken.
"Jawab aku, sialan! Saat aku menderita, kau malah bersenang-senang dengan pria itu? Katakan padaku, apa kau mencintainya?"
Rara ingin menggeleng, dia ingin berteriak bahwa tidak ada pria yang dia cintai selain pria itu, bahkan dia ingin memeluknya saat ini, tapi itu semua tidak mungkin dia lakukan.
Alih-alih menggeleng, dia justru mengangguk. Ingat akan bayi dalam kandungan Tamara membuat Rara harus melupakan perasaan cintanya pada pria itu.
"Katakan dengan suaramu! Aku ingin memastikan bahwa kau memang tidak pantas untuk menerima cintaku!" salak Ken semakin frustrasi.
Ken terluka. Dia tahu itu, tapi dia juga terluka. Biarlah, seperti ini karena hubungan mereka memang tidak ada ujungnya.
"Benar. Dia adalah kekasihku, dan aku sangat mencintainya!"