Scandal With Maid

Scandal With Maid
Perintah Nyonya



"Kali ini apa lagi yang terjadi?" Tanya Rara setelah sampai di warung jus tempat basecamp mereka. Itupun dia berlari karena tidak mendapatkan ojek. Napasnya terdengar memburu, lelah dan kakinya terasa sakit.


Kalimat Markonah yang mengatakan Ijah mencoba bunuh diri, membuat Rara bergegas. Lagi-lagi beruntung, karena Tamara sedang pergi syuting. Itu katanya...


Rara mengedarkan pandangan ke sekeliling, Ijah tidak ada di sana. Hanya ada kedua sahabatnya, Wati dan Markonah.


"Ijah mana?" Sambar Rara panik. Jangan bilang kalau gadis itu sudah meregang nyawa. Oh, Tuhan, jangan sampai terjadi!


"Di rumah sakit, bareng Munaroh." Terdengar nada marah dari suara Markonah.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kau bilang tadi Ijah bunuh diri, kenapa kalian masih di sini? Ayo kita temui Ijah," ucap Rara.


"Karena itu kami menunggumu, Ra. Biar bisa bareng perginya," jawab Wati dengan logat Jawa medoknya.


Di perjalanan, baru lah Markonah menceritakan apa yang terjadi. Ijah sudah bicara dengan Rangga. Ternyata pesan yang dikirim Ijah waktu itu, tidak dibaca oleh Rangga, justru Lusi yang saat itu sedang KKN bersama.


Lusi meminjam ponsel Rangga untuk menghubungi orang tuanya, dan saat itu pula pesan Ijah masuk dan dibaca oleh Lusi.


Wanita yang sudah lama memendam rasa pada Rangga itu, tentu saja mengatur pertemuan dengan Ijah untuk balas dendam, mengirim pesan seolah itu dari Rangga.


Saat pulang dari kantor polisi, Ijah mengajak Rangga bicara dan mengatakan semuanya.


"Serius, Jah? Kamu hamil?" Pekik Rangga yang terlihat gembira, bagaimana tidak, sebentar lagi dia akan punya anak, dan luar biasanya lagi, dari wanita yang memang dia cintai. Pria itu tersenyum dengan mata berbinar, tapi tidak lama, setelahnya redup seiring memorinya membawa ingatan pada orang tuanya.


Ijah mengerti makna perubahan itu. Dia pun tidak bisa menyalahkan Rangga.


"Aku cuma ingin memberitahukan pada mas Rangga. Aku tahu posisi kita saat ini. Semua yang terjadi tidak 'lah mudah bagi mas Rangga, dan aku tidak akan menuntut apapun," ucap Ijah dengan hati teriris. Kelembutan gadis itu membuatnya tidak sampai hati memaksa Rangga untuk bertanggung jawab.


"Tapi, Jah, bagaimana dengan anak yang kamu kandung?"


Ijah diam. Dia juga tidak seberani itu, mempertahankan anak itu, hidup mengurus sendiri. Belum dijalani saja, tapi Ijah tahu pasti tidak mudah. Namun, dia bisa apa?


"Aku akan coba bicara pada mama dan papa," ucap Rangga membelai puncak kepala Ijah, lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


Pelukan Rangga terasa nyaman dan hangat. Ijah merasa tenang dan terlindungi, tapi dia sadar ini semua hanya sementara. Ketika Rangga sudah buka suara pada kedua orang tuanya, maka semua ini akan berakhir.


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Rangga. Bola mata Yeyet begitu tajam, seolah dengan menatap saja, wanita itu sudah bisa membakar sekelilingnya.


"Apa kau sudah gila?! Dimana kau buat akal sehatmu? Bagaimana bisa kau beradu kasih dengan pelayan? Wanita dengan status rendahan?" pekik Yeyet.


Seketika dunia wanita sosialita itu terguncang, jungkir balik dibuat oleh berita kehamilan Ijah.


Sedikitpun dia tidak pernah berpikir bahwa putranya akan berhubungan dengan pelayan di rumah mereka.


"Aku mencintai Ijah, Ma. Walau dia pelayan, dia sama seperti kita, manusia juga!" sambar Rangga mencoba memberikan pembelaan pada Ijah.


"Tutup mulutmu! Kau gak mengerti apa yang baru saja kau ucapkan! Segera kemas barangmu, kau akan melanjutkan kuliahmu di luar negeri!"


"Tutup mulutmu! Jangan pernah kau mengatakan hal menjijikkan itu lagi. Sampai kapanpun, aku tidak akan mengakui anak itu sebagai cucuku! Sekarang kau masuk ke kamarmu!"


Ranga ingin melawan, tapi anak buah Yeyet sudah menyeret Rangga ke dalam kamar.


Yeyet bergegas mencari Ijah ke kamarnya. Baginya, wanita itulah sumber dari segala masalah ini dan kalau ingin masalah ini selesai dia harus segera mencabut dari akarnya.


"Ma, papa mohon jangan bertindak gegabah. Apa yang akan Mama lakukan pada Ijah?" tanya Sukirman.


Ayah Rangga itu memang tidak punya kuasa untuk buka mulut di hadapan istrinya. Sejak menikah, Yeyet lah pemegang keputusan di keluarga mereka. Hal itu karena kekayaan yang saat ini mereka miliki adalah hasil warisan milik keluarga Yeyet.


Seolah keadaan lalu terulang lagi. Gen Sukirman memang mengalir di tubuh Rangga. Pepatah yang mengatakan buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya tampaknya terjadi di keluarga mereka. Dulu juga Yeyet menentang orang tuanya karena menuntun hatinya yang sudah jatuh cinta pada Sukirman yang hanya pegawai ayahnya.


Hingga pada akhirnya, orang tua Yeyet terpaksa menerima Sukirman karena putrinya mengancam akan bunuh diri jika tidak dinikahkan dengan pria itu. Dan kini, Rangga mengulang kejadian itu lagi.


"Diam kamu! Semua ini salah kamu. Sebagai seorang ayah terlalu lemah. Aku akan menangani masalah ini!" jawab Yeyet meneruskan langkahnya.


"Sini kamu lon*te!" Seru Yeyet menjambak rambut Ijah, yang baru saja melepaskan mukena nya. Dia bahkan masih berlutut di sajadah nya. Baru menghadap pada Tuhannya, untuk meminta pengampunan, dan juga kekuatan agar bisa menjalani semua ini.


"Nyonya, ampun, sakit, Nyonya," rintih Ijah memegangi pergelangan tangan Yeyet yang menjambak rambutnya begitu kuat, seakan kulit kepalanya ikut tertarik.


"Aku tahu kau sengaja menjebak putraku! Kau ingin menjadi orang kaya, dengan menjebak putraku? Aku tidak yakin kalau anak itu milik Rangga. Kau wanita murahan, pelayan rendahan, biasanya juga kau bergaul dengan tukang sayur atau satpam komplek ini. Kau pasti hamil dengan mereka!" umpat Yeyet melepaskan dengan kasar jambakannya hingga tubuh Ijah terguling ke samping.


"Aku gak pernah berbuat hal itu dengan orang lain, Nyonya, hanya dengan Mas Rangga," jawabnya ketakutan.


"Ah, diam kau! Apa kau pikir aku bodoh, mempercayai semua ucapanmu? Aku tahu niatmu. Kau mau uang, kan? Katakan, kau butuh berapa? Aku akan memberikannya, asal kau menjauh dari putraku. Dan jangan pernah mengatakan kalau bayi yang saat ini kau kandung anak dari Rangga!" Ucapnya dengan suara menggelegar.


Sukirman yang ada di balik tembok kamar Ijah, yang sejak awal mengikuti istrinya guna berjaga-jaga kalau Yeyet melakukan tindakan ekstrim pada Ijah. Pria itu ingin masuk, tapi takut pada istrinya. Dia hanya bisa memantau. Untuk saat ini, Yeyet tidak berlaku kasar terlalu berlebihan yang bisa membahayakan bayi yang ada dalam kandungan Ijah.


"Tapi, Nyah..." Ijah meremas jemarinya. Kepanikan melanda.


"Tidak ada tapi, kemasi barang-barang mu. Rangga masih muda, masih banyak yang harus dia lakukan demi masa depannya. Aku akan memberikan waktu setelah jam untuk mu bersiap. Aku akan menugaskan seseorang untuk membawamu ke dokter, agar bisa membuang janin itu. Kau jangan takut, aku akan memberikan sejumlah uang padamu! Setelah aborsi kau harus pergi jauh dari sini," ucap Yeyet tegas.


"Jangan, Nyonya, itu dosa. Bayi ini gak bersalah," ratap Ijah. Bagaimana mungkin dia membuang bayi ini, baru saja dia meminta pengampunan dari yang Maha Kuasa, masa harus melakukan dosa baru lagi yang lebih parah.


"Kalau kamu tidak mau, aku akan menjebloskan mu ke dalam penjara!" ucap Yeyet segera berlalu dari kamar itu.


*


*


*


Mampir yuk