
Pembicara mereka terhenti, Rara sudah kembali. Rara mengerutkan kening, saat melihat senyum lebar Ken menatap ke arahnya, seolah dia sudah mendapatkan lotre besar.
"Baiklah, Om. Aku mau main di luar aja," jawab Miko turun dari kursinya lalu melesat melalui pintu samping.
Rara mendekat untuk mengambil piring bekas makan Miko. Kembali Rara melihat senyum di wajah Ken yang membuat Rara lagi-lagi kebingungan.
Ken merasa menang melawan Miko. Anak itu sudah setuju untuk tidak memilih Dodit, kang galon air untuk menjadi kandidat suami Rara.
"Ada apa, Tuan?" tanya Rara menaikkan satu alisnya.
"Nothing! Hanya aku ingin kembali ke kamarku. Tidur dengan nyenyak lagi," ucap Ken ikut bangkit dari duduknya dan meninggalkan Rara dengan segala kebingungannya.
Satu jam berlalu, Rara masih sibuk dengan urusan dapur hingga tidak menyadari kepulangan Tamara.
Suara berisik di atas, sayup-sayup terdengar olehnya, dan saat itu'lah Rara menebak Tamara sudah kembali. Namun, Rara tidak peduli, kembali melanjutkan kegiatan memasaknya.
Sampai teriakan itu semakin kencang, bahkan mulai terdengar suara barang-barang yang dilempar keras.
Rara yang sudah selesai masak, bergegas ke luar, melihat situasi yang terjadi.
"Ada apa, Neng?" tanya Komar yang akhirnya ikut masuk. Suara Tamara begitu kencang berteriak, hingga Komar yang ada di posnya bisa mendengar dengan jelas pertengkaran suami istri itu.
"Aku bekerja, kenapa sih kau harus curiga. Satu hal lagi, aku gak akan mau berhenti bekerja!" teriak Tamara.
"Terserah! Kalau kau masih mau menyelamatkan rumah tangga ini, maka kau harus memilih, karirmu atau aku!"
Terdengar suara dentuman pintu yang ditutup dengan dihempaskan. Rara tahu, ada yang keluar dari kamar itu, dia bergegas kembali ke dapur. Dia tidak ingin dianggap ikut campur urusan rumah tangga majikannya dengan sibuk mencuri dengar.
Begitu pun dengan Komar. Satpam itu lari terbirit-birit menuju pos satpamnya kembali.
Ken lah yang pergi dari rumah itu. Hal itu dapat dipastikan karena saat Rara kembali ke luar dari dapur, terdengar suara tangisan Tamara yang berasal dari kamarnya.
Hingga pukul tiga sore, Tamara tidak keluar kamar. Rara ingin mengetuk, menawarkan makan siang, tapi rasanya tidak enak. Jadi, dia memutuskan untuk duduk di ruang tengah, mengantisipasi kalau majikannya itu memanggil.
Satu jam berlalu, tidak ada lagi terdengar suara tangisan. Rara tebak, mungkin. Tamara sudah berhenti menangis, bahkan kini ketiduran karena lelah menangis.
Namun, tebakannya meleset. Suara heel Tamara menggema di ruangan itu sembari menenteng koper kecil saat menuruni anak tangga, dan sesampai di lantai, menggeret koper itu dengan langkah santai. Tamara memakai kaca mata, pasti ingin menyamarkan bekas tangisnya.
"Nona mau pergi lagi?" Sapa Rara bangkit dari duduknya.
"Iya, Ra. Aku titip rumah dan mas Ken. Tolong kau urus semua keperluannya. Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku. Kalau dia tanya, bilang aku tidur di hotel untuk beberapa hari ini. Gak usah dicari!" ucap Tamara, lalu setelahnya mulai melangkah. Baru dua langkah, Tamara berbalik melihat Rara.
"Tolong, kau urus suamiku dan siapkan keperluan dan berikan apa yang dia minta!"
***
Hingga malam, tidak ada satupun dari kedua orang pemilik rumah itu yang pulang. Rara masih menunggu hingga pukul 11 malam, tapu tampaknya tidak ada tanda-tanda kepulangan mereka hingga Rara tertidur di sofa ruang tamu.
"Ra, bangun. Kenapa kau tidur di sini?" Tangan Ken menyentuh pipi halus Rara, menepuk pelan agar gadis itu membuka matanya.
Rara perlahan membuka mata, cahaya lampu dari ruang tengah yang menembus kegelapan di ruang tamu. Dia mengerjap, menyesuaikan cahaya yang masuk ke netra matanya, lalu memperhatikan orang yang ada di hadapannya.
"Tuan?" Pekiknya kaget. Jarak mereka begitu dekat, bahkan kalau sedikit lagi Ken menunduk, maka hidung mereka akan bersentuhan. Bau alkohol menyeruak dalam hidung Rara, menyengat. Pria itu minum dan setengah mabuk.
"Ra...."
"Tuan, Anda mabuk?" Rara menundukkan diri, dan benar saja, Ken tetap pada posisinya hingga pipi mereka bersentuhan.
Kalau Rara gugup, debar jantung berdetak kencang, bahkan menjurus ke hipertensi, maka Ken tersenyum, santai menatap Rata dengan binar mata yang sulit dijelaskan.
Rara buru-buru menarik diri, tapi hal itu justru membuat Ken terjatuh. Gadis itu kaget, lalu buru-buru membantu Ken berdiri. Karena Ken berdiri sempoyongan, Rara terpaksa menyampirkan lengan Ken di pundaknya, membantu pria itu naik ke lantai atas menuju kamarnya. Tubuh pria besar tinggi itu terasa berat, kaki Rara harus melangkah pelan, setapak demi setapak menaiki anak tangga.
Begitu sampai, Rara segera menjatuhkan tubuh Ken ke atas ranjang. Pria itu berbaring telentang dengan mata terpejam. Rara membuka satu persatu sepatu dan juga kaos kaki pria itu. Sekuat tenaga, Rara membenarkan letak tidur pria itu menyelimutinya, lalu seperti adegan yang biasa dilihat di film bergenre romantis, Ken dengan perasaan hampa nya menarik tangan Rara dengan kuat, hingga terjatuh ke tubuhnya. Berguling gak di film India, memutar posisi keduanya. Ken kini memegang kendali, menindih tubuh Rara.
Dengan mata satunya Ken menatap bola mata indah itu. Ada sakit di hatinya sesat yang tidak dia mengerti. Lalu masih mengunci pandangan, Ken turun, lalu mencium bibir Rara tanpa bisa dia hindari.
Ciuman itu membara, menimbulkan efek kejut pada keduanya. Alkohol dan juga kebutuhan yang sudah lama tidak terlampiaskan membuat Ken gelap mata. Dorongan itu semakin kuat saat lidahnya membelai lembut bibir Rara.
"Tuan, apa yang Anda lakukan, lepaskan saya," ucap Rara mencoba mendorong dada Ken yang menghimpit kedua miliknya.
"Ra.... Rara...," Hanya perkataan lirih itu yang Rara dengar. Bahkan Ken sampai meneteskan air mata yang jatuh di pipi Rara.
Tersadar, Rara tahu pria itu dalam keadaan sedih dan terguncang. Kepedihan yang dirasakannya saat ini pastilah akibat pertengkaran dengan istrinya pagi tadi.
Seketika Rara tidak tahu harus apa. Tubuhnya kaku. Ken sudah menyudahi serangan bibirnya dan mulai bergerilya mencium dan menji*lati setiap senti kulit mulus beraroma vanilla lembut, mulai dari leher hingga terus turun ke dada. Rara mere*mas erat seprei, keinginannya untuk mendorong pria itu tidak jua berhasil dia lakukan.
Rara ikut sedih dengan keadaan Ken saat ini. Dia yakin, Ken sangat mencintai istrinya itu. Tiba-tiba Rara ingat kalau Tamara yang lebih dulu merusak rumah tangga mereka dengan tidur bersama pria lain.
Entah sejak kapan, Ken sudah berhasil membuka kancing piyama tidurnya, mere*mas lembut gundukan itu dan mulai mencium serta menghisap puncaknya.
Seketika semua berlalu cepat. Rara pasrah, dia diam bak mayat hidup. "Inikah balasan untuk kebebasan kakak ku?" batinnya meneteskan air mata dan menggigit bibir bawahnya, kala Ken mulai memasukinya.
Kepala Ken mendongak, menatap tajam pada mata Rara yang saat itu juga menatapnya dengan pandangan mengabur oleh air mata. Sakit.
"Kau... Kau masih perawan?"