Scandal With Maid

Scandal With Maid
Hati Semakin Tertawan



Tidak susah bagi Ken untuk mengeluarkan Rara dari penjara. Ibarat menjentikkan jari Rara sudah bebas. Yang perlu dilakukan oleh Ken, hanya menghubungi pengacaranya, Bil lalu semua selesai.


"Siapa gadis-gadis ini? Tampak lusuh dan udik," bisik Bil sesaat sebelum pria itu pergi.


"Bukan urusanmu! Pergi sana!" umpat Ken mendorong tubuh pria itu agar segera masuk ke dalam mobil.


Rasa penasaran Bil masih menggelitik hatinya dia mengeluarkan kepalanya dari jendela pintu mobil berusaha untuk mendapatkan informasi dari Ken kembali. "Apa kau mulai selingkuh? Aku lihat kau sangat peduli pada gadis yang berbaju warna putih itu," bisik Bil masih penasaran.


"Kalau kau gak segera pergi, aku pastikan, kontrak kerja sama kita akan berakhir!"


Mendengar ancaman itu tentu saja bila merasa takut. Hanya orang bodoh yang mau melepaskan kerjasama dengan Kenzio Lioner. "Baiklah, aku akan pergi," jawabnya tersenyum.


Namun, kini justru Ken yang menghentikan Bil ketika ingin memutar kemudinya, dia lupa untuk memperingatkan pria itu agar tidak mengatakan apapun kepada Tamara atau siapa saja yang mengenal mereka.


"Ini hanya akan menjadi rahasia kita, jangan pernah membahas mengenai hari ini di depan siapapun dan dengan siapapun!" ucap Ken tegas. Bil hanya bisa mengangguk sembari melambaikan tangan dan berlalu dari sana.


Sepanjang perjalanan Rara menutup rapat mulutnya, duduk di bangku belakang bersama Markonah, mencoba bersikap biasa saja agar sahabatnya itu tidak curiga. justru Ken yang merasa kesal. Dia seperti seorang sopir sementara kedua wanita di belakang adalah majikannya.


Beruntung ada Markonah di sana sehingga dapat memecah kesunyian. Sepanjang jalan Markonah terus berbicara dengan Ken.


"Ternyata kalau melihat tuan dari dekat seperti ini, jauh lebih tampan dari bayangan saya," ucap Markonah tanpa malu, melirik ke arah Ken yang fokus mengemudi, sementara Rara hanya diam, berpura-pura tidak peduli, mengedarkan pandangannya keluar jendela mobil.


Banyak topik yang dibicarakan Markonah namun, tidak satupun kalimat gadis itu ditanggapinya.


"Mat, sebaiknya kamu diam deh, takutnya majikanku makin marah, ini aja udah nyusahin sampai harus menebus aku dari kantor polisi," bisik Rara yang tahu bahwa Ken tidak nyaman dengan lelucon dan sikap sok ramah Markonah padanya.


Setelah Markonah diturunkan tidak jauh dari depan rumah majikannya, melalui jalan pintu lain Ken melakukan mobil dan tanpa menghiraukan protes dari Rara, melaju dengan kecepatan tinggi dan segera meninggalkan perumahan itu. Dia perlu waktu dan tempat untuk bicara dengan gadis itu.


"Tuan, mengapa kita tidak pulang ke rumah? Kita mau kemana ini? Anda akan membawa saya kemana?" tanya Rara yang terus mengamati jalan, mereka sudah bergerak melaju jauh dari perumahan.


Ken membawa Rara ke pinggir kota, di sebuah danau buatan yang nyaman untuk mereka bicara.


"Apa lukamu masih sakit?" tanya Ken setelah mereka duduk berdampingan. Wajah gadis itu sempat kena cakar oleh Lusi saat bertengkar tadi. Luka itu sudah diberi obat yang dibeli Ken dari apotek namun, Ken masih saja tetap khawatir akan keadaan gadis itu.


"Sudah membaik terima kasih," jawabnya pelan. Walaupun tempat ini jauh dari tempat mereka tinggal dan kemungkinan kecil akan ada yang melihat mereka, tetap saja Rara tidak nyaman duduk berdua bersama Ken.


Tiba-tiba tangan Ken terulur ingin melihat kondisi luka itu. Cakaran kuku Lusi tidak terlalu dalam, dan hanya mengenai rahang Rara. "A-apa yang Anda lakukan, Tuan?" ucap Rara terbata.


Debar jantungnya begitu hebat, dan dengan jarak sedekat ini, Ken pasti bisa mendengarnya. Indra penciuman Rara bisa menikmati wangi parfum dari tubuh Ken. Hanya dengan wangi itu kembali membawa Rara berpetualang ke malam itu.


"Aku hanya ingin memeriksa wajahmu. Dan jujur, aku rindu. Aku sangat merindukanmu, Ra," ucap Ken terus menatap mata sendu itu. Rara ingin menunduk karena malu tapi tangan Ken menangkup kedua pipi gadis itu, memaksa agar Rara tetap melihat ke arahnya.


Ken mendekatkan wajahnya, bibirnya menyentuh bibir Rara yang lembut. Tidak ada penolakan. Sekalipun Rara mengutuk dirinya karena tidak bisa menahan keinginan hatinya, dia tetap ikut serta, bersuka ria menikmati ciuman itu.


"Aku merindukanmu, Sayang. Aku bahkan hampir gila, setiap saat bayanganmu bermain dalam khayalku. Jangan tinggalkan aku, Ra," ucap Ken terus membelai tulang pipi gadis itu.


Rara tentu saja dengan senang hati tetap berada di sisi pria itu, lagi pula dia sudah sangat jatuh dalam lautan cinta yang diciptakan Ken terhadapnya. Namun, tetap saja semua itu tidak ada gunanya karena mereka tidak mungkin bisa bersatu. Rara harus realistis, ada Tamara di antara mereka.


"Tuan," ucapnya pelan. Salah satu diantara mereka harus tetap ada yang waras.


"Jangan panggil aku tuan, aku ingin bibirmu ini memanggil namaku," bisik Ken, kembali menyatukan bibir mereka. Rara semakin terhanyut, melupakan norma dan juga keberadaan Tamara.


"Panggil namaku, Ra. Panggil namaku dengan bibirmu ini," bisik Ken tepat di atas bibir gadis itu. Mata Ken begitu teduh menatapnya.


"K-Ken..." Rara menurut. Lalu sebaris senyum melengkung di bibir Ken, yang lalu diikuti oleh Rara. Keduanya tersenyum, lalu karena malu, Rara masuk dalam pelukan pria itu.


Ah, seandainya waktu bisa berhenti saat ini juga, Rara ingin menghabiskan waktunya hanya dengan Ken.


Keduanya diam, memandang ke arah danau luas. Lengan Ken masih setia merangkul Rara. "Tuan..." Ken langsung melayangkan pandangannya, pertanda protes karena Rara kembali memanggilnya dengan sebutan tuan.


"Iya, Ken...," jawab Rara memutar bola matanya sembari tersenyum. Sikap menggemaskan yang dilakukan Rara membuat Ken tertawa renyah.


Mudah sekali bagi Ken mendapatkan kebahagiaan kala bersama Rara. Sangat berbeda dengan bersama Tamara. Selama bersama gadis itu, hampir tidak pernah mereka bercanda yang membuat jantung Ken terasa bergetar hebat, seperti saat ini bersama Rara.


"Lanjutkan...," Perintah Ken masih dengan aura mendominasi seperti biasa.


"Kamu gak akan bersungguh-sungguh dengan ucapanmu tadi, kan?"


Ken menatap lekat wajah Rara. Ucapan yang mana yang dimaksudkan gadis ini. Keningnya berkerut sembari mengajukan pertanyaan.


"Ucapan yang mana?"


"Kalimatnya yang mengatakan akan membalas Lusi?" lanjut Rara. Jujur, dia khawatir kalau Ken sampai menuntut balas terhadap Lusi, yang Rara tebak, hukumannya pasti berat.


Ken memutar tubuhnya agar lebih miring, hingga bisa berhadapan dengan Rara. "Tentu saja aku serius. Bahkan aku ingin menghajar nya tadi di kantor polisi!"


Rara ingat kejadian itu. Ken bahkan sudah bersiap menampar Lusi di depan bapak penyidik, tapi buru-buru Bil menghalangi, karena pastinya akan berbalik memberatkan Ken.


"Kenapa harus balas dendam?"


"Karena aku akan menghabisi siapapun yang sudah menyakiti mu!"