Scandal With Maid

Scandal With Maid
Ungkapan Perasaan Erlang



Tubuh Rara merosot menyusuri dinding, merosot hingga ke bawah, terduduk dengan kaki ditekuk di dada. Air matanya tidak mau berhenti, hatinya terasa sakit dan sesak. Ken sudah pergi meninggalkannya, dengan umpatan dan tentu saja rasa benci di matanya.


"Aku ingin kau membuktikan kalau pria itu memang kekasihmu, bukan seseorang yang kau sewa untuk menemanimu ke sini!" umpat pria itu sesaat sebelum meninggalkan Rara.


"Apa yang harus aku lakukan, kenapa sakit sekali di sini," ucap Rara sembari memegangi dadanya.


Teringat akan Erlang yang pasti gelisah menunggunya, Rara segera bangkit. Merapikan sejenak gaunnya dan melatih napas dan juga kesiapan dirinya untuk kembali pada Erlang dan teman-temannya.


Baru selangkah keluar dari pintu itu, Rara bertemu dengan Erlang yang sejak tadi mencarinya. Tangannya bahkan sempat terulur untuk menarik handel pintu, tapi urung karena lebih dulu didorong Rara dari luar.


"Er...,"


"Kamu baik-baik saja, Ra? Ada apa? Kenapa kamu menangis? Ada yang menjahatimu?" Terdengar Erlang begitu khawatir. Bentuk kepeduliannya pada gadis itu.


Erlang yang memang sudah lama menyukai Rara sudah mempersiapkan dirinya untuk mengatakan cinta pada gadis itu malam ini. Urusan diterima atau tidak, dia tidak peduli, yang penting untuk sekarang dia katakan saja isi hatinya.


"Gak Er, aku baik-baik aja," jawab Rara coba tersenyum.


"Tapi kamu menangis. Ada apa, Ra? Cerita sama ku?" pinta Erlang. Dia tahu, ada sesuatu diantara Rara dan juga Ken. Cara pria itu menatap tajam dan penuh selidik terhadapnya membuat Erlang yakin akan hal itu.


Erlang kenal sosok Ken. Pria itu sering wara-wiri di televisi, dan juga majalah bisnis. Namun, tidak sedikitpun Erlang gentar untuk merebut hati Rara.


"Aku gak papa, Er. Perutku sedikit sakit," dusta Rara agar Erlang tidak mendesak lagi.


Erlang mengalah, walau dia tahu kalau gadis itu berbohong padanya. Dengan kepercayaan diri, Erlang menggenggam tangan Rara kembali ke aula.


"Kita pulang aja, ya," pinta Rara di tengah jalan. Dia tidak sanggup kalau harus lebih lama lagi satu ruangan dengan Ken.


Erlang mengangguk setuju. "Aku ikut apa katamu," jawabnya lembut.


Demi menuju ke meja mereka, maka Rara dan Erlang harus melewati meja Tamara dan Ken, yang otomatis mata Ken langsung tertuju pada pegangan tangan mereka.


"Kalau dalam dua hari kau tidak bisa memberikan bukti padaku, kalau kalian pacaran, maka jangan salahkan aku kalau kembali mendekati mu. Persetan dengan Tamara, batinku tersiksa jauh darimu!"


Kembali Rara teringat ucapan Ken tadi. Bahkan hangatnya hembusan napas pria itu ketika berbicara di atas bibirnya masih terasa, dan hal itu membuat bulu kuduk Rara meremang.


"Mar, Mun, Wat, aku pulang duluan, ya. Gak enak sama Bu Susanti dan Pak Damian kalau aku pulang terlalu malam," ucap Rara pelan.


Ketiga temannya mengangguk, memberikan pelukan perpisahan. Setelah pindah kerja, mereka jadi jarang bertemu, paling dalam sebulan hanya dua kali, bertempat di warung Sari.


"Er, makasih ya, udah temani aku ke pesta pernikahan Ijah," ucap Rara menoleh pada pria yang saat ini memberikan fokusnya pada stir dan jalanan yang sudah mulai sepi.


Setengah jam menempuh perjalanan, Rara tiba di depan rumah keluarga Adhyaksa. Satu hal yang paling membuat Erlang semakin kagum pada Rara, karena gadis itu tidak pernah menyembunyikan pekerjaannya, bahkan Rara bangga bisa bekerja sembari melanjutkan kuliahnya.


Menjadi seorang pelayan bukanlah pekerjaan hina. Dia bekerja dengan tenaga dan juga usahanya sendiri, hasil yang dia dapatkan juga halal dan Rara bangga akan hal itu. Dia bisa membiayai kuliahnya serta menyisihkan sedikit uangnya untuk membantu sekolah Miko.


"Udah sampai, Er. Makasih ya, udah nganterin. Satu hari ini, kamu udah aku repotin. Terima kasih banyak udah begitu baik sama aku," ucap Rara setulus hati, dia beruntung di pertemukan dengan pria itu.


Pada awal perkuliahannya dulu, mereka sudah sempat bertemu beberapa kali, mengambil mata pelajaran yang sama, tapi hanya sekedar memberi senyum tanpa pernah berbicara satu dengan yang lain.


Lalu saat Rara kembali melanjutkan kuliahnya, ternyata ada beberapa mata kuliah yang mempertemukan mereka kembali alasannya karena Erlang harus mengulang mata kuliah yang sama dengan Rara, dikarenakan kesibukannya yang juga ikut membantu perusahaan ayahnya, hingga pria itu juga mengambil cuti.


"Aku nggak merasa direpotkan kok, Ra. Aku melakukannya dengan senang hati. Aku mohon kamu jangan terus berterima kasih kepadaku," jawab Erlang memberi tatapan intens kepada Rara, hal itu membuat gadis itu sedikit tidak nyaman karena diperhatikan sedekat Itu.


"Ra, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku harus menyampaikannya karena semakin lama ku pendam dalam hati akan semakin membuat ku tersiksa," ucap Erlang, menahan niat Rara untuk keluar dari mobil.


Rara terdiam. Dia bukan tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Erlang kepadanya, dan mengingat perjanjiannya dengan Ken tadi seharusnya hal ini bisa membantu. Dia membutuhkan bukti bahwa mereka sudah jadian, agar Ken percaya dan berhenti mengharapkan nya, tapi bagaimana dengan hati dan perasaannya? Dia sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Erlang.


"Ra, aku menyukaimu. Sangat. Aku tahu mungkin hanya aku yang merasakannya, tapi aku mohon, kalau kamu belum punya kekasih, mau kah kau menerimaku untuk menjadi pria mu? Mencintai, menyayangi dan melindungimu?" ucap Erlang menarik tangan Rara dan membawa menyentuh dadanya.


"Rasakan debar jantungku yang berdetak lebih cepat, gemuruh di sana hanya untuk mu. Ra, jadilah pacarku," pinta Erlang mengulang permohonannya.


"Tapi, Er, aku...,"


"Kau tidak mencintaiku, bukan? Aku tahu, Ra. Aku juga tahu di hatimu masih ada pria lain, dan pria itu adalah Kenzio Adiaksa, kan?"


Rara menegakkan tubuhnya, menatap lurus pada wajahnya Erlang. Bagaimana pria itu bisa tahu bahwa orang yang ada dalam hati Rara adalah Ken?


"Er...,"


"Aku gak peduli kalau saat ini kau belum bisa melupakannya. Cobalah bersamaku, berikan aku kesempatan untuk membuatmu lupa padanya. Kau tahu betul bahwa hubungan kalian tidak mungkin bersama. Dia pria yang sudah beristri dan aku lihat saat ini istrinya sedang hamil. Kamu begitu berharga, Ra, dan aku ingin menjadi pria beruntung yang mendapatkanmu," lanjut Erlang.


Rara kembali berlinang air mata. Belakangan ini dia begitu cengeng, menghabiskan malam-malamnya dengan mengingat Ken dan ditemani air mata, bahkan terkadang hingga subuh.


Dengan punggung tangannya, Rara menghapus bekas air mata yang membasahi pipinya. Apa yang dikatakan Erlang benar, dia tidak boleh berharap apapun lagi pada Ken, karena itu adalah dosa.


Merasa perkataan Erlang sudah cukup mewakili perasaan pria itu, Rara memusatkan perhatiannya kepada Erlang, pria yang baru saja menyatakan perasaan kepadanya.


"Apa aku pantas menerima kebaikan hatimu? Apa kamu tidak keberatan untuk bersabar hingga hatiku bisa menerimamu?"