Scandal With Maid

Scandal With Maid
Rencana Perceraian



Sampai kedua orang itu pergi meninggalkan cafe itu, Tamara masih belum beranjak. Dia terpaku memikirkan semua pembicaraan yang dia dengar.


"Sejak kapan mereka bersama? Kapan perselingkuhan itu terjadi hingga sampai ke atas ranjang? Murahan kamu, Ra. Wajahmu yang polos ternyata hanya jadi topeng atas kebusukan mu!" umpat Tamara memukul meja dengan gigi gemeretak.


Dia merasa terhina karena selingkuhan suaminya ternyata adalah seorang pelayan! Wanita yang dia terima bekerja di rumahnya justru menjadi selingkuhan suaminya.


"Apa kalian pikir aku akan berdiam diri setelah mengetahui semua ini?" ucap Tamara bermonolog. Melalui jendela cafe dia bisa melihat bagaimana keduanya berjalan beriring. Masih terdengar jelas, bagaimana cara Ken berbicara padanya. Pria itu bahkan tidak pernah melakukan hal itu pada dirinya yang sudah tiga tahun hidup bersamanya.


"Bukankah sudah perjanjian, kalau kamu akan menjauhiku, Mas? Kita sudah sepakat untuk berpisah karena ini keputusan yang tepat," ucap Rara menolak sentuhan tangan Ken yang ingin menggenggam tangannya.


"Tapi aku gak bisa, Ra. Aku sudah coba. Kamu lihat sendiri, berbulan aku menjauhi mu. Bahkan saat tanpa sengaja kita bertemu, aku sudah berusaha untuk tidak menegur atau bahkan menoleh padamu. Sakit, Ra. Aku gak sanggup," ucapnya menatap sendu para Rara.


Apa yang dirasakan Ken juga dia rasakan. Dia pun tersiksa, bahkan kini semakin bertambah dosanya karena sudah menerima Erlang menjadi kekasihnya, padahal sama sekali tidak punya perasaan apapun. Semua hanya demi menjauhi Ken.


"Jangan begitu, Mas. Kamu harus ingat sudah punya istri. Nona Tamara sangat membutuhkan mu, saat ini!"


"Lantas, siapa yang peduli padaku? Aku juga butuh teman untuk bicara. Tidak ada cinta lagi di hatiku untuk Tamara. Pernikahan kami sudah tamat," jawab Ken.


Mungkin Rara akan berpikir bahwa dirinya memutuskan pernikahan mereka karena keegoisannya, tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.


Ken tidak mungkin memberitahu mengenai keburukan Tamara, apa yang sudah gadis itu lakukan, dan semua pengkhianatan dan kebohongan gadis itu selama bertahun-tahun pernikahan mereka.


Biarlah semua itu hanya dia simpan sendiri. Dia tidak akan membuat nama Tamara buruk di depan Rara, sebagai perhatian terakhirnya pada Tamara sebelum mereka bercerai.


Ken sudah menugaskan Bil untuk mengurus segala sesuatu nya. Dia ingin proses perceraian ini berjalan cepat, tapi ada media yang boleh meliputnya.


Awalnya dia ingin melampiaskan amarahnya. Mengetahui segala tindak tanduk Tamara dan pengkhianatannya, membuat Ken berpikir untuk menghancurkannya. Namun, kala menemui Jhon yang saat itu disekap oleh anak buah Rick, membuatnya merubah rencananya.


Tidak ada yang tersisa dalam hidup Tamara lagi. Kenyataannya, Jhon hanya memakai nya karena bisa dimanfaatkan. Jhon sudah punya anak dan istri di kampung halamannya. Dia memohon pengampunan, agar Ken memaafkan nya. Dia berjanji akan menghilang, kembali ke kampung halamannya, dan membenahi kehidupannya bersama anak dan istrinya.


Tentu saja tidak semudah itu dibuat Ken. Selain menandatangani perjanjian yang menyatakan bahwa Jhon tidak akan kembali ke kota itu, dia juga harus membayar sejumlah uang yang pada akhirnya menguras tabungan pria itu.


Uang yang diberikan Jhon diperintahkan Ken disumbangkan ke panti asuhan, bagi anak-anak yang dibuang orang tuanya, guna mengenang anak Tamara dan Jhon yang belum sempat lahir. Anak yang sejak awal kehadirannya memang tidak diinginkan.


Alasan lain Ken tidak menghukum Tamara, karena dia juga melakukan hal yang salah, sudah melakukan perselingkuhan dengan Rara. Mencintai wanita lain yang bukan istrinya adalah dosa.


Jadi, Ken merasa dirinya dan Tamara tidak ada bedanya, sama-sama pendosa. Lantas, sesama pendosa masih pantaskah saling menghakimi?


Dia akan bicara baik-baik pada Tamara mengenai rencana perceraian mereka, dan semoga saja wanita itu mau mengerti.


"Aku mau pulang," ucap Rara mengambil tas tangannya, bersiap untuk pergi, tapi Ken yang masih duduk tidak mau berdiri hingga Rara tidak punya pilihan lain selain kembali duduk.


"Kembalilah padaku, menikahlah dengan ku, Ra. Aku akan segera mengurus perceraian dengan mu Tamara," ucap Ken dengan tatapan memohon.


Namun, menerima Ken dalam keadaan Tamara yang masih berduka rasanya tidak manusiawi juga. Belum lagi ada Erlang yang akan menderita kalau sampai mereka berpisah.


Di mejanya, Tamara sudah tidak tahan lagi ingin melabrak suami dan pelayannya itu. Ingin sekali menyiram wajah Rara dengan kopi panas yang tadi dia pesan sebelum memilih tempat duduk.


Tamara berpikir kembali. Kalau dia menyerang, ini sama saja akan menjadi boomerang untuknya. Dia tidak punya senjata lagi melumpuhkan Ken agar tetap di sisinya.


Selain bayi itu, tidak ada lagi yang bisa digunakan agar pria itu tidak meninggalkannya.


"Ayo kita pulang," pinta Rara kembali. Entah mengapa sejak masuk ke cafe ini tadi, perasaannya tidak tenang, seolah ada yang sedang menguntit mereka.


"Tapi kau harus janji dulu, agar mau memikirkan lamaran ku tadi. Aku akan bicara pada orang tuaku. Memberitahukan alasan mengapa aku ingin menikah dengan mu," lanjut Ken meminta kesungguhan hati Rara.


"Aku gak bisa jawab sekarang, Mas. Aku hanya memikirkan banyak hati yang akan tersakiti kalau kita bersama. Belum lagi Nona Tamara saat ini dalam keadaan tidak baik-baik saja. Akan menjadi pukulan berat baginya mendengar kabar ini," tutur Rara sepenuh hati.


Dia juga wanita, memahami perasaan Tamara. Terlepas wanita itu juga sudah pernah selingkuh, tapi dia ingat dulu Tamara pernah bilang padanya kalau dia sangat mencintai Ken.


"Aku akan bicara padanya. Kau hanya perlu berjanji padaku, kalau kau akan memikirkan permohonan ku tadi."


Setelah sekian menit diam, Rara akhirnya mengangguk yang membuat Ken tersenyum.


"Dasar brengsek kalian berdua. Apa kalian pikir bisa menyingkirkan aku semudah itu?" umpat Tamara mengamati mobil Ken yang sudah melaju meninggalkan parkiran cafe.


Tamara pun bangkit setelah merasa bisa menguasai dirinya. Dia harus kuat demi membalaskan dendamnya. Tempat pertama yang dia tuju adalah rumah temannya, salah satu artis sinetron ikan terbang juga yang cukup dekat dengannya.


***


"Tumben kamu datang kemari? Ada apa,Tam? Biasanya minta jumpa di club," ucap Fani mempersilakan Tamara masuk.


Apartemen itu terlihat sepi, Tamara tebak, pria tua bangka yang selama ini menjadi tambang emas Fani sedang tidak ada di sana. Alasan mengapa Fani tidak suka mengundang teman-teman mereka untuk bertamu, karena Fani bilang, Sugar Daddy nya itu, salah satu petinggi partai, jadi butuh privasi dan kenyamanan saat bersama Fani.


Tamara mengambil tempat di kursi tunggal, menunggu Fani datang lagi sembari menghidangkan minuman dingin dengan kandungan alkohol sebanyak lima persen saja.


"Katakan, ada berita menarik apa?"


"Aku ingin kau membantuku, menghabisi seorang gadis!" jawab Tamara mengangkat gelas minumannya.


"Siapa?"


"Selingkuhan suamiku. Aku ingin dia hancur. Aku ingin dia menyesal telah masuk ke dalam rumahku dan tidur dengan suamiku!"