
Doa dan harapan yang dipanjatkan setiap saat dengan hati tulus dan tentu saja diimani, niscaya akan didengarkan oleh sang Pencipta.
Semua usaha dan juga doanya akhirnya didengarkan oleh yang Kuasa. Rara hamil!
Dia tentu saja tidak menyadari. Tidak ada tanda-tanda kehamilan yang sering dialami wanita pada umumnya. Kalau kebanyakan wanita hamil tidak selera makan, justru Rara sangat lahap. Hampir semua makanan bisa dia coba tanpa ada keinginan untuk memuntahkannya.
Justru yang membuat Susanti merasa heran adalah keadaan Ken yang sangat menderita setiap pagi harus muntah dan mengeluh pusing, bahkan apapun yang masuk ke dalam mulutnya tidak akan bertahan lama di dalam perutnya.
Makanan itu segera ingin minta untuk dikeluarkan kembali dan Ken tidak berdaya untuk menahannya.
"Ra, apa bulan ini, kamu sudah menstruasi?" tanya Susanti mendatangi kamar anak mantunya Minggu sore itu. Ken dan Damian tengah berbincang di ruang keluarga, di temani suara televisi yang mereka abaikan.
"Memangnya kenapa, Bu?" tanya Rara mengamati wajah mertuanya. Tumben ibunya menanyakan hal itu lagi setelah selama tiga bulan belakangan ini sudah tidak pernah mengungkit soal kehamilan lagi.
Sepertinya Susanti sudah pasrah dan menerima takdir kalau pun dirinya tidak bisa merasakan bagaimana memiliki cucu. Mungkin setelah Rara mengutarakan kegelisahan hatinya saat itu pada Ken, pria itu langsung bicara pada ibunya, hingga Susanti tidak lagi berani menanyakan perihal pertanda kehamilan Rara.
"Ibu curiga kalau kamu sedang hamil," ucapnya yang membuat Rara terkejut.
"Ha-hamil, Bu?" ulang Rara dengan suara pelan, nyaris tidak terdengar.
"Keadaan Ken membuat ibu teringat pernah membaca satu artikel mengenai kehamilan dengan sindrom. Yaitu suatu kehamilan yang justru suaminya yang mengalami hal-hal yang biasa ibu hamil rasakan. Mual, pusing dan tidak berselera makan. Mana kemarin Ibu lihat Ken lahap benar makan rujak yang dibuat Inem," lanjut Susanti memikirkan nama sindrom yang dia baca itu, tapi tetap saja tidak ingat.
"Mungkin maksud Sindrom couvade ?" celetuk Rara setelah membuka Mbah Gugel yang maha tahu.
"Iya, benar. Sindrom itu!" seru Susanti girang.
Rara kembali mengalihkan fokus nya pada layar ponselnya, membaca dengan seksama lalu memikirkan keadaan Ken akhir-akhir ini.
Mual, nyeri perut, dan rasa pusing sampai lemas yang sering Ken alami sepertinya membuat Rara sedikit yakin, tapi apa iya dia hamil?
Suaminya yang selalu sabar, belakang ini juga tampak bersikap lain. Suami lebih mudah marah, stres, akibatnya, Rick akan menjadi bulan-bulanan, begitupun dengan Bil.
Rara menghitung dengan tangannya. Benar juga, sudah hampir dua bulan dia tidak ha*id, tapi hal itu juga sudah biasa. Bulanannya memang tidak teratur, kan?
"Gimana, Ra? Kamu merasakan sesuatu gak? Ibu lihat berat badan kami juga udah nambah, semua makanan pasti kami cicipi dan bilang enak," lanjut Susanti semakin yakin.
"Udah telat sebulan lebih sih, Bu, tapi masa iya?" tanya Rara pelan, lebih ke dirinya sendiri.
"Iya, pasti itu. Ibu yakin. Gimana kalau ibu temani ke dokter?" pinta Susanti bersemangat.
"Hah? Gak usah dulu, ya Bu. Aku takut Ibu kecewa," tolak Rara halus. Ini bukan hal sepele, kalau sampai dia tidak hamil, maka perasaan semua orang akan hancur, tidak hanya Susanti, tapi juga Rara sendiri.
Melihat raut kecewa Susanti, perasaan Rara jadi tidak enak, tapi kalau dia mengikuti kemauan ibu mertuanya ke rumah sakit, justru dirinya yang tidak siap.
"Gini aja, Bu. Gimana kalau aku pergi ke apotik beli alat tes, terus coba di rumah, kalau nanti hasilnya positif, baru kita ke dokter dan mengabarkan pada Ken dan ayah. Gimana? Ibu setuju, kan?"
Wajah Susanti kembali tampak cerah. Terus mengangguk setuju. "Ibu temani, ya, Ra? Ibu mohon," ucap Susanti memelas, persis seperti anak kecil yang minta ikut ibunya ke pasar.
Rara ingin sekali tertawa, wajah Ibu mertuanya sungguh benar-benar lucu. Namun, tentu saja dia tidak akan melakukan hal itu, bisa-bisa dia digampar dan dikatain sebagai menantu yang tidak punya sopan santun karena sudah menertawakan mertuanya.
"Ya udah. Kita berangkat sekarang?" ucap Rara yang lagi-lagi diangguk Susanti penuh semangat.
Buru-buru keduanya menuruni anak tangga, tanpa disadari satu sama lain memiliki perasaan sama, begitu deg-degan, padahal tes saja belum.
"Mau ke mana kalian berdua?" hardik Damian yang berhasil menghentikan langkah Susanti dan Rara.
"Hah? Kami... Kami...," jawab Rara gagap. Dia bingung harus mengatakan apa. Tidak mungkin mengatakan kalau mereka akan ke apotik yang tidak jauh dari rumah, karena pasti akan ada pertanyaan susulan.
"Kami mau ke Indo*mart, mau beli Cimorys yang rasa gula aren," jawab Susanti asal. Ide itu pun dia dapatkan karena melihat iklan yogurt itu di televisi yang saat ini menyala tapi tidak diperhatikan.
Ken dan Damian sama-sama mengerutkan kening, lalu saling adu pandang seolah memberi isyarat bahwa apa yang dikatakan oleh Susanti sangat tidak masuk akal.
Sejak kapan keduanya memiliki makanan kesukaan yang sama? Lagi pula ibunya tidak suka cemilan seperti itu yang menurutnya seperti susu basi.
"Udah, kami pergi dulu. Kalian lanjut ngobrol," ucap Susanti menarik tangan Rara.
***
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" tanya apoteker menyambut kedatangan mereka.
"Mmm... Kami... Kami ingin membeli alat tes kehamilan," ucap Susanti yang akhirnya bisa bernapas lega. Padahal hanya membeli alat tes, bukan narkoba, tapi kenapa rasa takutnya luar biasa seperti itu?
"Oh, mau merk apa, Bu?" Kembali apoteker itu melempar pertanyaan yang membuat Rara dan Susanti kembali tidak nyaman. Mana tahu mereka merk apa, beli saja baru kali ini. Zaman Susanti dulu, tidak perlu membeli alat tes kehamilan, dia langsung tahu karena mengalami semua gejala yang dialami wanita hamil pada umumnya.
"Berikan semua jenis merk yang terbaik. Semuanya!" ucap Susanti tegas, lengkap dengan pelototan mata mengancam agar jangan lagi memberikan pertanyaan lainnya pada mereka.
"Ok-Oke, Bu, baik," jawab apoteker itu kalah mental.
Ada enam merk yang ditawarkan oleh apoteker itu, dan semua diborong oleh Susanti. "Ayo, Ra, kita pulang," ucap Susanti menarik tangan Rara.
Hanya berjalan sepuluh menit mereka sudah sampai. Langkah yang terburu-buru kembali menarik perhatian para suami yang menatap mereka dengan pandangan aneh dan kali ini lengkap dengan kecurigaan.
Ehem!
Suara deheman Damian kembali menjadi lampu merah bagi keduanya untuk menghentikan langkah, dan menatap ke arah Ken dan Damian.
"Apa?" tanya Susanti melihat ke arah mereka.
"Apa yang kalian beli dari Indo*mart? Mana Cimorys nya?" tanya Damian memutar tubuhnya, memeluk bagian sandaran sofa, dengan tenang menantang.
"Oh, rasa mangga habis, jadi kami gak jadi beli," jawab Susanti menarik tangan Rara berlalu dari sana.
"Ken, bukannya tadi mereka bilang mau beli rasa brown sugar?" tanya Damian menatap bingung pada Ken.
***
Susanti sangat gugup menunggu Rara keluar dari kamar mandi. Sejak tadi mondar-mandir di depan pintu kamar mandi. Rara belum keluar yang semakin menambah daftar panjang kecemasan Susanti yang menanti.
"Ra, gimana hasilnya? Kenapa kamu gak keluar juga? Kamu ngerti gak cara pakainya?" tanya Susanti mengetuk pintu kamar mandi. Tidak ada suara, bahkan suara air pun tidak.
Akhirnya penantian Susanti usai, Rara keluar dengan keenam tes yang ada di tangannya. Mata gadis itu tampak berkaca-kaca dan wajahnya sendu. Susanti tidak mau menebak apakah air mata yang hampir menetes itu adalah bentuk kesedihan atau sebaliknya.
"Ra... gimana hasilnya? Kenapa kamu nangis? Apapun hasilnya, kamu harus kuat, ya. Bukan kita semua harus kuat. Mungkin yang Kuasa ingin menguji kesabaran dan keikhlasan kita," lanjut Susanti mengelus lengan Rara.
"Ibu...," desis Rara menghambur dalam pelukan mertuanya, menumpahkan tangisnya di pelukan wanita itu.
"Sudah, Ra. Jangan sedih, kita harus ikhlas," kembali Susanti menguatkan Rara.
"Positif, Bu," ucap Rara disela tangisnya.