
Hari yang ditunggu-tunggu Ken akhirnya tiba. Hari ini pengadilan agama sudah mensahkan Ken dan Tamara resmi bercerai. Begitu ketok palu hakim terdengar, Tamara berdiri dan mendatangi Ken untuk menyelam pria itu.
"Terima kasih untuk semuanya, Ken. Untuk tiga tahun pernikahan kita. Aku minta maaf karena sudah menjadi istri yang tidak baik bagimu, dan terima kasih karena masih mau memberikan belas asih kepadaku dengan menyisihkan beberapa hartamu untukku," ucapan Tamara dengan mata berkaca-kaca.
Ken juga tidak bisa menyembunyikan rasa haru nya selama mengikat proses persidangan hari ini. Di samping lega, dia juga menyimpan kesedihan untuk Tamara. Tidak ada yang menginginkan perceraian dalam sebuah rumah tangga, begitu dengan Ken, tapi takdir berkata lain.
Ken juga tidak ingin menoleh ke belakang lagi. Dia sudah memaafkan Tamara karena semesta begitu baik padanya menggantikan cinta yang dibuang Tamara dengan hadirnya Rara dalam hidupnya.
"Aku juga berterima kasih padamu, karena pernah bersama-sama menjalani kehidupan denganku. Aku juga tidak luput dari kesalahan dan dosa, juga bukan suami yang sempurna untukmu. Mungkin jodoh kita memang harus berakhir di sini. Aku berharap kau menemukan pria yang baik dan juga tulus mencintaimu dan bisa membahagiakanmu, Tam," ucap Ken tulus.
Untaian kalimat Ken terdengar begitu indah di telinga Tamara, bak sebuah doa yang mengiringi langkahnya ketika keluar nanti dari pintu ruangan itu. Dia tahu kini dia harus berjalan sendiri tanpa ada Ken yang selama ini selalu mendukung dan memback-up nya.
Mengapa saat masih bersama, masih menjadi milik sendiri tidak pernah dihargai, dan kini setelah berpisah dan menjadi milik orang lain, baru terasa menyedihkan dan terselip rasa tidak rela. Saat Ken masih menjadi suaminya, Tamara selalu menyia-nyiakan, tidak menganggap penting, dan kini setelah diambil orang, baru menyadari kalau yang disia-siakan itu adalah emas murni yang kadarnya tidak akan pernah pudar.
Isakan haru itu berubah menjadi tangisan Tamara menyesali semua perbuatannya, namun lagi-lagi dia sadar tidak ada gunanya meratapinya.
"Ken, untuk yang terakhir, bolehkah aku memelukmu?" ucap Tamara dengan bersimbah air mata. Dia ingin merasakan pelukan pria yang paling baik di dalam hidupnya itu. Membawa kenangan itu bersamanya, menjauh dari kehidupan Ken. Biarlah pelukan itu sebagai salam perpisahan di antara mereka, mengingatkannya pada kebodohannya kalau dulu dia pernah membuang mutiara demi imitasi.
Tiga tahun yang indah dihadirkan untuk kehidupan Tamara, tapi gadis itu terlalu tidak tahu bersyukur, justru membuang Ken dan menggantikan tempatnya dengan seseorang yang tidak patut untuk diharapkan.
Di sudut ruangan itu, di salah satu kursi, Rara melihat mereka. Hari ini Ken memaksanya untuk ikut. Dia ingin Rara menjadi saksi awal kehidupan Ken yang baru, karena di sana juga ada Rara, yang akan berperan penting dan berharap menjadi pasangan terakhir sampai dia nanti menutup mata.
Rara menghapus air matanya yang tanpa sadar turun di pipi. Terharu melihat pasangan suami istri itu. Dia bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Tamara. Rara berharap suatu hari Tamara akan menemukan pendamping hidup yang baik yang bisa menjaga dan menyayanginya secara tulus.
"Aku pamit, Ken. Mungkin aku ingin berlibur sejenak sembari mempertimbangkan tawaran yang diberikan oleh temanku untuk tinggal di Singapura. Kau dan Rara harus bahagia, ya," ucap Tamara menghapus jejak air mata yang terlanjur turun di pipinya.
"Mengapa tidak langsung kau berikan restumu padanya? Dia ada di sana," ucap Ken menunjuk ke arah Rara.
Keduanya pun berjalan menuju tempat Rara, yang disambut gadis itu dengan berdiri dari duduknya.
Semakin dekat dengan Tamara, Rara tidak bisa membendung air matanya. Perasaannya bercampur aduk, ada rasa bersalah tentu saja di sana. Bayangan sebagai pelakor selalu muncul dalam benaknya, bahkan sampai beranggapan bahwa dirinyalah penyebab Ken dan Tamara bercerai, walaupun berulang kali Sari mengingatkannya bahwa itu sudah takdir atas kehidupan Ken dan juga Tamara.
"Non," sapa Rara terisak, dia seperti anak kecil yang susah untuk mengungkapkan kata-katanya terhimpit dengan rasa bersalah di dada dan juga sesak karena berbicara diiringi tangisan.
"Jangan panggil aku Nona lagi aku bukan majikanmu lagi Ra. Sebentar lagi, kau akan menjadi nyonya," jawab Tamara mengulum senyum. Dia juga berusaha untuk tidak ikut menangis lagi.
"Aku minta maaf ya, Non, atas semua yang sudah aku lakukan. Maaf karena sudah menghianati Non Tamara," ucapnya menatap dengan bola mata yang dipenuhi dengan air mata.
Tidak ada rasa benci yang tersisa di hati Tamara untuk Rara. Dia sudah memaafkan gadis itu dan menyadari kesalahannya. Satu hal yang pasti, ada atau tidak adanya Rara di antara mereka, tetap saja suatu saat perselingkuhannya dengan Jhon akan diketahui oleh Ken dan pada akhirnya pria itu juga akan menceraikannya juga.
Ken yang tidak tahan melihat isak tangis kekasihnya itu berdiri di samping Rara, mengaitkan jemarinya dan menggenggam erat seolah memberi kekuatan kepada Rara untuk berhenti menangis dan mengingatkan bahwa ini semua bukan kesalahannya.
Tamara tersenyum melihat sikap manis Ken pada Rara. Terlihat jelas kalau pria itu begitu mencintai dan ingin melindungi Rara.
"Kirimkan aku undangan pernikahan kalian. Kalau aku bisa datang, aku pasti akan hadir, tapi kalau pun tidak, doaku menyertai kalian dan berharap agar kalian bahagia selalu," ucap Tamara mencoba menghapus air mata Rara yang tidak berhenti turun.
Tamara menyadari bahwa hati Rara begitu polos. Rasa bersalahnya tetap menyiksanya sehingga membuat gadis itu terus menangis. Tamara kembali tersenyum pada gadis itu. Kini dia bisa melepaskan Ken dengan tenang, karena dia percaya hanya Rara yang bisa membahagiakan Ken.
Setidaknya kalaupun dia bercerai dengan Ken, pria itu akhirnya menikahi gadis yang tepat.
"Sudah, jangan menangis lagi. Semua punya kesalahannya masing-masing tapi satu hal yang harus kau tanamkan dalam hatimu. Kau bukan pelakor, kita bertiga hanya bertemu di waktu dan tempat yang salah. Namun, bukankah setiap manusia pernah melakukan kesalahan? Dan kata orang, manusia adalah tempatnya khilaf, tergantung bagaimana kita bisa memperbaiki kesalahan itu. Iya 'kan, Ra?" ucap Tamara dengan pandangan keduanya saling bertemu di satu titik. Rara mengangguk, lalu menghambur ke dalam pelukan Tamara.
Tanpa sadar, Ken menghapus air mata yang menggenang di sudut matanya, ternyata melihat mantan istri dan calon istrinya berpelukan menyisakan rasa haru juga di hatinya.
"Sudah dong, Ra, jangan nangis lagi. Tadi 'kan Tamara udah bilang kalau dia sudah merestui kita dan jangan pernah menanamkan dalam benakmu kalau ini semua adalah kesalahanmu," ucap Ken membujuk Rara untuk berhenti menangis.
Sudah 15 menit berkendara, tapi tanda-tanda Rara akan berhenti menangis sebelum muncul juga.
"Gimana kalau kita singgah, makan bakso dulu ke warung bakso langganan kita?" ucap Ken masih berusaha membujuk.
Rara tidak menjawab, hanya gelengan lemah, lalu kembali ke dunianya dengan kesedihannya sendiri dan juga air mata yang sesekali dia hapus dengan punggung tangannya.
"Kita mau kemana? Ini bukan jalan mau ke rumah," ucap Rara dengan suara serak kalau menyadari mobil Ken bukan membawanya pulang ke rumah kediaman Adiaksa. Lambat laun Rara mengenali jalan itu dan melihat ke arah Ken yang fokus di balik kemudi.
"Mau apa kita ke sini?" tanya Rara yang mengenal lingkungan itu.
"Aku mau ketemu dengan Mbak Sari, sekaligus ingin melamarmu padanya," ucap Ken dengan tegas, tepat menghentikan mobilnya di depan gang kecil, karena memang mobil tidak bisa masuk dan berhenti di depan rumah Rara.
Seketika wajah Rara memerah. Dia tidak menangis lagi. Ditatapnya wajah Ken dengan penuh rasa cinta. Pria itu begitu bersemangat untuk menikahinya, membuktikan keseriusannya pada Rara.
"Apa nggak terlalu cepat, Mas? Kamu baru saja bercerai beberapa jam lalu, masa udah melamar anak orang?" ucap Rara mengulum senyum.
"Lebih cepat lebih baik, daripada keduluan orang lain!"