
"Bukannya itu pelayanmu?" tanya Bil menatap layar televisi. Dia tidak mungkin salah orang, walau di layar televisi wajah Tamara sangat cantik sekali, lebih cantik dari terakhir dia ingat ketika menebus gadis itu di kantor polisi.
Ken ikut mengalihkan pandangannya pada iklan di televisi itu. Tidak terlalu terkejut, karena. seminggu lalu, Tamara sudah cerita. Dia ikut senang dengan penawaran itu, karena Rara terlihat sangat bergembira, tapi dia juga kesal karena Rara harus menggunakan kemben dan kain sarung guna menunjukkan citranya sebagai wanita asli negri ini, karena konsep iklan itu adalah rupa wanita pribumi.
Melihat pundak polosnya membuat Ken bergetar. Ken tidak suka semua pria dengan mata membola menatap pundak Rara. Ya, dia memang sangat posesif pada gadis itu. Bahkan mengunduh iklan dan menyimpannya di ponsel, hal yang tidak akan belum pernah dia lakukan pada iklan Tamara.
Lihat saja, Bil dan Dikta begitu terpukau melihat layar datar itu, hingga membuat Ken kesal. Kalau saja ini rumahnya, pasti sudah dia matikan televisi itu, sayangnya mereka ada di cafe seberang kantornya.
Hari ini kedua temannya itu datang mengunjunginya. Keadaan Ken semakin parah, dia bahkan beberapa kali menginap di kantor agar tidak bertemu dengan kedua wanita di rumahnya.
Menghindari Tamara karena dia tidak tahan dengan sikap manja wanita itu yang membuat hatinya muak, dan tidak ingin bertemu dengan Rara karena dia tidak tahan kalau harus menahan lidah dan juga tangannya untuk tidak menyentuh gadis itu.
"Sampai kapan kalian akan melihatnya seperti itu? Awas saja kalau kalian membuatnya menjadi objek fantasi kalian saat di kamar mandi!" hardik Ken yang membawa kedua pria itu kembali mengalihkan fokus mereka pada pria uring-uringan di depan mereka.
"Oke, jadi masalahnya semakin pelik ya. Sudahlah Ken, lupakan saja Rara," ucap Bil, walau menjadi pengacara pribadi, tapi Bil juga teman kuliah Ken, sekaligus sahabat dari masa SMA.
"Benar apa kata lawyer kita ini. Ingat sebentar Lo bakal punya anak dari Tamara. Udahlah, ingat, kau lah yang dulu paling bersemangat menikahi Tamara, jangan karena sudah ada Rara kau membuang istrimu," tambah Dikta. Dia bukan berada di pihak Tamara, tapi dukungan terhadap masa depan anak mereka saja. Anak itu tidak berdosa, mengapa jadi korban dari keegoisan orang tuanya?
Ken hanya terdiam. Menunduk memikirkan segala. Dia sudah coba melupakan Rara, tapi kenyataannya tidak semudah itu. Dia terlalu mencintai gadis itu. Namun, dia juga kasihan pada calon anaknya, buah hati yang sudah lama dia tunggu-tunggu.
Lagi pula, dia sudah bicara dengan Rara tentang hubungan mereka, untuk terakhir kalinya. Dia nekat mendatangi kampus gadis itu, karena tidak tahan menahan gejolak rindu.
"Jadi, itu keputusanmu, Ra?"
"Iya, Mas. Kita akhiri hubungan ini. Aku sudah tidak mau lagi menjadi duri dalam rumah tanggamu. Lupakan aku!"
***
Berat hati, Tamara akhirnya mengizinkan Rara untuk syuting iklan produk kosmetik brand ternama itu. Dia tidak mungkin menolak permintaan Dinas Jaya.
Dongkol hatinya setiap melihat iklan itu wara-wiri di televisi. Bahkan kali pertama iklan itu muncul, dia melepas televisi di kamarnya dengan gelas yang dia pegang.
"Raraaaaaaa," pekiknya sekuat tenaga. Kalau saja dia punya hak atas gadis itu sepenuhnya, ingin sekali menjambak Rara. Bagaimana tidak, dia yang hanya seorang pelayan, dalam sekejap waktu bisa melampaui prestasinya.
Awalnya, Tamara kira, Rara akan gugup dan melakukan banyak kesalahan ketika syuting, hingga akhirnya Dimas muak dan menggantinya. Kenyataan berbanding terbalik, hanya dalam sekali take, Rara bisa melakukan dengan sempurna, bahkan mendapat pujian dari Dimas Jaya.
"Aku sangat puas akan model ku kali ini. Ratna adalah gambaran seutuhnya wanita di negri ini. Pesona indah yang mewakili keindahan wajah negri ini," ucap Dimas di salah satu acara wawancara nya.
Rara pun kebanjiran job, diundang beberapa kali di acara infotainment, digadang-gadang menjadi calon artis terkenal.
Tamara muak menyaksikan hal itu. Ingin sekali melempar gadis itu dari rumahnya saat ini juga, tapi akal sehatnya justru melarangnya. Jika tetap menjadi pelayannya, setidaknya Tamara bisa mengintimidasi dan memperlakukan Rara sesuka hatinya sebagai pelayan yang dia bayar.
"Iya, Nona. Anda perlu sesuatu?" tanya Rara setelah muncul di kamarnya.
"Kamu ngapain aja di kamar? Lama banget datang," jawab Tamara ketus.
"Maaf, Non. Saya sedang mengerjakan tugas kuliah," jawab Rara yang sudah mulai kuliah lagi.
"Aku minta maaf, Non," jawabnya pendek.
"Bersihkan pecahan gelas itu," lanjutnya menunjuk ke arah televisi yang ada di depannya.
"Astaga, kenapa bisa pecah begini? Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Rara khawatir. Bukan pada Tamara, tapi lebih pada bayi yang dia kandung.
"Udah, gak usah banyak tanya kenapa. Aku baik, kenapa? Kamu maunya aku terluka, ya?" umpat Tamara memasang wajah jutek.
Rara tidak menjawab, dia memilih diam dari pada berurusan dengan wanita itu. Rara menyadari mungkin Tamara yang semakin suka marah-marah karena bawaan bayi dalam kandungannya. Kata orang hormon wanita hamil pasti meledak-ledak.
"Aku mau makan buah. Aku harus banyak konsumsi buah, agar anak kami ini sehat. Kau tahu, Ken selalu menciumi perutku dan gak sabar untuk bertemu dengan anaknya," ucap Tamara mengelus perutnya. Tatapan sinis ke arah Rara tentu saja ingin memanas-manasinya.
Orang yang ditugaskannya mengikuti Ken, memberikan info kalau awal bulan lalu, Ken mendatangi kampus Rara, dan terlihat bicara dengan gadis itu. Cara menatap dan juga belaian Ken di rambut Rara, jelas menyatakan kalau mereka ada fair.
Saat itu, Tamara cukup terkejut, dia marah. Ucapannya yang mengatakan kalau suaminya tidak mungkin menyukai Rara seolah menamparnya. Dia marah sekaligus malu. Suaminya terpincut oleh pelayan mereka sendiri.
Tamara marah, dan guna melampiaskan amarahnya, dia perlu menyalurkan hasratnya, dan lagi-lagi Jhon yang menjadi pelabuhan gairahnya. Malam itu dia tidak pulang, bercinta dengan Jhon hingga pagi.
Setelah memikirkan cukup lama, Tamara membuat kesimpulan. Dia tidak mungkin melabrak Rara, memakai dan menjambak selingkuh suaminya itu, karena Rara juga memiliki kartu As tentang dirinya.
Jadi, dia harus bermain pintar. Dia akan balas dendam dengan menyiksa mental gadis itu secara perlahan.
"Sebentar, Nona, saya ambilkan," jawab Rara keluar dari sana. Ternyata bukan hanya itu yang menjadi tugasnya siang itu. Dia harus membuatkan makan ini itu yang pada kenyataannya tidak dimakan oleh Tamara, dan terakhir meminta gadis itu untuk memijitnya. Semua Rara lakukan dengan ikhlas.
Baru saja Rara mengempaskan tubuhnya di kursi belajar, teriakan Tamara terdengar kembali. Dua jam penuh wanita itu menyiksanya.
"Ada apa Nona?"
"Ganti pakaianmu, temani aku ke rumah sakit!" perintahnya merapikan dandanannya. Lipstik merah dioleh di bibir tipisnya, lalu tersenyum ke arah cermin, memuji kecantikannya sendiri.
"Rumah sakit? Siapa yang masuk rumah sakit, Non?" tanya Rara gagap. Tidak mungkin terjadi hal buruk pada Ken, kan?
Tamara melihat ke arah Rara melalui refleksi cermin yang ada di depannya. Dia mendengus kasar. "Cih, kau pasti mengkhawatirkan Ken, bukan? Dasar ja*lang!" pekiknya ingin memakai Rara, tapi tetap dia tahan.
"Kau gak usah banyak tanya, buruan, Ra!" perintahnya tegas!
*
*
*
mampir yuk