
"Sedang apa kau di sini? Kalian..." Susanti menatap kedua anak Adam dan hawa itu secara bergantian. Syok? Tentu saja. Dia tidak pernah berpikir kalau akan memergoki putranya di kamar pelayan.
"Kami sedang berbincang, Bu," jawab Ken santai. "Sebaiknya kita bergegas, Ibu, hari sudah mendung," lanjutkan sembari pergi meninggalkan kedua wanita yang dia kasihi itu.
Sepanjang perjalanan menuju supermarket terdekat dari rumah, Susanti terus mengamati Rara yang duduk di sebelah Ken yang sedang mengemudi. Susanti merasa sudah dipermainkan oleh keduanya di rumah nya sendiri.
"Kenapa wajah Ibu cemberut? Senyum dong, Bu," ucap Ken merangkul pundak Susanti, berjalan di belakang Rara yang memasukkan belanjaan ke troli. Untuk keperluan Damian, Rara sudah sangat hafal apa yang harus dibeli, itulah juga alasan mengapa Susanti mengajaknya pergi berbelanja bukan Pelayan yang lain.
"Ibu masih marah kepadamu. Apa yang sudah kau lakukan di kamar Rara? Tidak bisakah kau bersabar sedikit saja? Kau harus ingat Ken, perceraianmu dengan Tamara belum selesai! Apa kata orang nantinya? Kau mau selamanya dituding sebagai suami suka berselingkuh?" ucap Susanti masih manyun.
Dia sadar gelora yang sedang dirasakan putranya itu terhadap Rara, tapi tetap saja di rumahnya harus ikut aturan yang berlaku, tidak ada boleh yang melakukan maksiat di dalam rumahnya.
"Ibu, hapus pikiran buruk di dalam benakmu. Aku dan Rara tidak melakukan apapun yang melanggar norma serta aturan yang ada. Aku sadar aku terlalu mencintainya dan ingin segera memiliki gadis itu, tapi aku juga masih punya akal sehat. Aku sadar posisiku, tidak mungkin melakukan hal yang Ibu pikirkan itu, sebelum aku menikah dengannya," jawab Ken meyakinkan ibunya.
Susanti bukan tidak percaya kepada putranya sebagai orang tua wajar kalau dia sangat was-was. "Lantas kapan sidang perceraian itu akan dimulai?" lanjut Susanti mengganti topik pembicaraan.
"Itulah sulitnya, Tamara masih belum mau menandatangani surat perceraian itu, walaupun aku sudah berulang kali minta padanya. Dia masih bersikeras ingin rujuk," terang Ken dengan hembusan napas berat.
Rasanya niat untuk menghalalkan Rara masih sangat sulit, perlu waktu dan kesabaran sampai perceraiannya dan Tamara bisa terlaksana.
"Katakan padanya, tidak ada gunanya kalian bersama lagi. Dari segi manapun kalian sudah tidak cocok lagi dan ibu juga tidak ingin kau kembali padanya," sambar Susanti dengan tegas.
Keasyikan berbincang, tanpa sadar mereka sudah kehilangan Rara yang tadi ada di depan mereka. Sejauh mata memandang, tidak menemukan sosok Rara. Entah sudah berada di lorong belanjaan sebelah mana gadis itu.
Buru-buru Ken dan juga Susanti mencari keberadaan Rara dan setelah melewati dia lorong, akhirnya menemukan gadis itu berada di lorong ke lima, paling depan, tepat di tempat buah segar dan sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya dan seorang pria muda yang memegang troli.
"Udah belanjaannya, Ra?" sapa Susanti setelah berada di dekat mereka. Wanita itu dengan tegas mengamati sosok wanita dan juga pria yang ternyata pernah berkunjung ke rumahnya.
"Loh, kamu bukannya teman Rara?" tanya Susanti kepada Erlang yang membalas dengan mengulurkan tangan kepada Susanti lalu mencium punggung tangan wanita itu dengan penuh hormat.
Ken yang melihat adegan itu tentu saja mencebikkan bibirnya dan memutar bola mata tanda jengah.
"Benar Tante, saya teman kuliahnya Rara dan ini, kenalkan Mama saya," jawab Erlang memperkenalkan wanita yang ada di sebelahnya.
Kedua wanita itu saling melempar senyum dan berjabat tangan. Situasi terasa semakin canggung, terlebih di antara kedua pura itu dan juga Rara.
Kini Susanti sadar bahwa Erlang adalah orang yang juga mendekati Rara. Dia ingat pria itu pernah datang bahkan Susanti menyuruh Rara untuk menjamunya di ruang tamu.
Ternyata saingan putranya bukanlah pria sembarangan. Erlang adalah putra pemilik dua stasiun TV swasta dan juga perusahaan raksasa yang ada di negri ini.
Hal wajar jika banyak pria menyukai Rara. Lihat saja sekelas Erlang Dinata juga menyukai Rara yang lembut dan apa adanya. Susanti yakin bahwa Erlang juga sudah mengetahui pekerjaan Rara yang seorang pelayan di rumahnya, tapi tetap masih mengharapkan cinta gadis itu.
Namun, walau begitu, Susanti yang sudah mulai menyukai Rara, terlebih ketika mengetahui bahwa putranya juga jatuh cinta pada gadis itu tentu saja akan ikut berjuang merebut hati Rara, tidak ada yang boleh memisahkan dengan Ken.
"Tante senang banget bisa ketemu dengan Rara. Setiap hari Erlang pasti cerita mengenai Rara, bahkan rencananya mau membawa Rara makan malam Sabtu ini ke rumah ya?" ucap Erna dengan begitu lembut. Dia menatap Rara dengan penuh kelembutan seorang ibu yang membuat Rara begitu teduh perasaannya
"Hah? Oh, iya, Tante. Aku juga senang bisa ketemu Tante," jawab Rara kikuk sembari cengengesan.
Jawaban Rara tentu saja membuat Ken merasa tidak senang. Pria itu berusaha mengacaukan pertemuan pertama antara Rara dan juga Ibu Erna. Dengan jahilnya Ken meletakkan tangannya di paha Rara yang kebetulan duduk di sampingnya. Mengelusnya dengan perlahan, hingga membuat gadis itu hampir saja memekik kaget.
"Apa yang kau lakukan?" bisik Rara menyenderkan tubuhnya hingga bisa dekat pada Ken, agar apa yang dia ucapkan tidak terdengar oleh orang lain.
"Jangan bersikap manis kepada Ibu si breng*sek itu! Kau tidak perlu tebar pesona, karena bagaimanapun yang akan jadi mertuamu adalah ibuku!" bisik Ken membalas Rara.
"Oh, jadi Erlang mau mengajak Rara kenalan sama semua anggota keluarga ya?" ucap sesuatu Susanti ikut nimbrung dalam percakapan itu.
Ingin sekali rasanya Susanti mengatakan kepada Erna bahwa Rara hanya mencintai putranya dan mereka akan segera menikah, tapi kenyataannya dia harus menahan lidahnya karena itu tidak mungkin dia katakan saat ini. Ken saja belum bercerai dengan mantan istrinya.
Seketika di dalam hatinya Susanti membuat list antara Erlang dan juga Ken. Di satu sisi Ken sudah kalah karena berstatus duda sementara Erlang masih perjaka ting-ting, di poin kedua mereka sama-sama unggul karena keduanya memiliki kekayaan yang hampir sama. Jadi, nilai sementara 2-1 dengan Erlang yang lebih unggul.
Masuk ke poin ketiga kali ini menurut Susanti Ken bisa unggul. Pada poin ketiga yaitu orang yang dicintai oleh Rara dan pria itu adalah Ken, jadi skor saat ini adalah dua sama.
"Ibu, kenapa diam aja? Dari tadi Ibunya pria letoy itu bertanya pada Ibu," bisik Ken ke sebelah kanan tempat Susanti duduk.
"Kau jangan ribut! Ibu sedang membuat list antara kau dan juga Erlang. Jangan takut, nilai kalian sama-sama kuat. Tinggal satu poin lagi yang harus kau kejar, agar bisa memenangkan hati Rara," jawab Susanti dengan bisikan juga.
"Ibu jangan khawatir, aku yang pasti menang, aku kan sudah pernah mencetak gol dengan Rara!" jawab Ken yang mendapat cubitan di pinggangnya.