Scandal With Maid

Scandal With Maid
Kecemasan Rara



"Ra, jangan banyak-banyak makan nanasnya, ntar becek loh, jadi gak enak mas Ken mainnya," celetuk Markonah yang meledek Rara yang begitu terlihat lahap memakan buah nanas yang dipeluk ke dalam sambal kacang gula merah.


"Ih, apaan sih, Mar. Gaje deh kamu," ucap Rara tertawa. Sahabatnya itu paling bisa kalau meledeknya.


"Tapi benar loh, Ra. Iya kan, Bude?" kali Ini Munaroh yang menimpali ucapan Markonah. Rara yang terpengaruh tanpa sengaja melirik ke arah Bude. Saat menangkap anggukan kepala wanita paruh baya itu, spontan Rara melepaskan kembali potongan nanas yang tadi sempat dia jepit dengan jarinya.


Buah itu terasa segar hingga membuat Rara ingin lagi dan lagi, apalagi kalau sudah dicocol ke dalam sambalnya.


"Nih ya, Ra. Buah nanas itu katanya bisa bikin becek milik perempuan, jadi pas main jadi kurang sedap, dan suami gak puas. Jangan sampai mas Ken gak puas sama pelayanan mu," goda Markonah lagi.


"Benar, kamu gak takut kalau suami kamu nanti cari perempuan lain? Mana suami kamu itu tampan, kaya raya lagi," timpal salah satu tetangga mereka yang ikut hadir di sana. Sejak kedatangan Rara tadi wanita itu terus menatapnya dengan sini.


Rara ingat sepertinya wanita itu turut datang ke pestanya bersama bude dan juga beberapa tamu undangan yang dibawa Sari.


Ucapan wanita itu yang begitu to the poin dan tanpa menyaring terlebih dahulu kata per-kata membuat semua orang yang ada di sana menatapnya dengan terkejut. Wanita itu tampak tidak peduli bagaimana perasaan Rara setelah mendengarnya.


Walaupun itu hanya sebuah lelucon atau katakanlah itu sebuah nasehat tidak seharusnya wanita itu mengatakan se-gamblang itu kepada Rara. Bagaimana perasaan Rara menanggapinya? Semua wanita di dunia ini tentu takut kalau suaminya sampai berselingkuh, terlebih karena alasannya tidak merasa puas terhadap pelayanan istri.


Rara diam walaupun berusaha untuk tidak memikirkannya tapi perkataan wanita itu telah menghujam hatinya dan merasuki pikirannya hingga membuatnya tidak tenang.


Semua kemungkinan bisa terjadi. Dia masih pemula dalam hubungan suami istri. Namun, banyak nya yang terjadi pada masa sekarang ini sudah menggambarkan bahwa apapun bisa saja terjadi.


Banyak wanita di luar sana yang bersedia menggantikan tempatnya dan dengan sukarela mengangkang untuk menyambut Ken di ranjang mereka, wanita yang bahkan lebih sempurna dari dirinya.


Pemikiran itu membuatnya semakin takut bahwa rumah tangganya bisa saja kandas di tengah jalan. Apa yang terjadi dalam rumah tangga Ken dan Tamara sebelumnya menjadi contoh untuk dirinya betapa Tamara yang tidak puas pada Ken, mencari kesenangan di luar sana bersama pria lainnya.


Bukan tidak mungkin kalau Ken juga bisa melakukan apa yang pernah dilakukan Tamara.


"Hei, kok malah jadi bengong? Kamu kepikiran ya? Udah cuekin aja. Mbak yakin Ken tidak akan seperti itu. Dia begitu tulus mencintaimu, yang perlu kamu perhatikan adalah tetap memberikannya perhatian dan jangan terlalu keras padanya. Turuti apa kemauannya dan di saat yang tepat kamu juga harus tegas. Jangan karena ingin menyenangkan hatinya justru mengorbankan perasaanmu," ucap Sari yang memahami kegelisahan adiknya.


Sari menatap sinis ke arah tetangganya itu. Sebenarnya dia tidak diundang untuk datang acara kumpul mereka. Namun, namanya tetangga ketika melihat pintu rumah orang lain terbuka dan di sana ada berkumpul beberapa orang wanita tentu saja menarik perhatian dan akhirnya dia ikut nimbrung bersama mereka.


"Ra, mudah kok mengatasi kebosanan suami, caranya cuma satu, apapun permintaan suami di atas ranjang, kamu harus mengikutinya, mau minta gaya apapun kamu harus bisa mengimbanginya," celetuk Markonah yang sudah lebih dulu berumah tangga dari Rara. Namun sayang, harus kandas karena suaminya sudah meninggal.


"Iya benar Ra, contohnya suami Mbak, betah aja sama Mbak karena apapun permintaannya selalu Mbak turutin. Dia meminta gaya apa, oke-oke aja walaupun terkadang kita jijik melakukannya," sambung Mbak Ayu tetangga samping rumah mereka.


Sejam kemudian pembicaraan berputar soal ranjang. Rara hanya diam mendengarkan dan ketika ada yang bertanya kepadanya dia akan mengangguk dan tersenyum, mencoba untuk menghalau pikiran buruk yang mulai bersarang dibenaknya.


Benar kata Sari, Ken tidak seperti itu mudah-mudahan saja. Dia hanya bisa mendoakan suaminya tetap menjadi orang yang sama seperti ketika pria itu menyatakan cinta kepadanya.


Pukul 05.00 sore Ken datang menjemput Rara. Semua mata tertuju kepada pria itu. Tentu saja penampilan dan wajah tampannya selalu menarik perhatian kaum hawa.


"Hore, Om Ken datang. Aku ikut ya, Bu," teriak Miko dari dalam rumah ketika melihat Ken yang duduk di salah satu kursi di teras, sementara para wanita duduk lesehan di lantai.


Anak itu sejak tadi asyik dengan tontonannya di televisi, hanya kedatangan Ken yang bisa membuatnya berpaling dari film animasi anak, si kembar yang botak dari negri tetangga.


"Jangan sekarang Miko, Om sama Bunda Rara lagi ada kerjaan. Nanti kalau mereka udah nggak sibuk, Miko baru boleh ikut," ucap Sari menahan putranya yang merengek ingin ikut bersama Ken.


"Biar aja Mbak, nggak apa-apa kok kita bawa Miko," ucapkan menatap Rara.


Namun, Sari tetap bersikeras tidak mengizinkan anaknya untuk ikut bersama pengantin baru itu. Dia tidak ingin merusak momen di antara keduanya.


Sari harus mengamankan pernikahan adiknya, tidak boleh gagal seperti pernikahannya sebelumnya. Kalau Miko ikut mereka akan tidur bertiga karena Sari tahu Miko tidak bisa tidur sendiri. Kalau sudah begitu Ken dan Rara tidak akan punya waktu untuk berduaan dan membuat bayi.


Dengan bujukan dan iming-iming akan datang hari Minggu nanti akhirnya Miko mau melepas tangan Ken dan keduanya pun pamit pulang.


"Ada apa, Sayang? Kenapa dari tadi diam? Apa acara temu kangennya tidak menyenangkan?" tanya Ken menoleh ke arah Rara. Sejak tadi gadis itu memilih untuk diam dan memandangi jalanan dengan pandangan kosong.


"Ra," kembali Ken meminta perhatian gadis itu, tampaknya lamunannya begitu jauh hingga tidak mendengar panggilan Ken.


"Ya, Mas? Maaf, tadi Mas bilang apa?" tanya Rara membenarkan posisi duduknya. Dia merasa bersalah karena larut dalam pikirannya sendiri sehingga mengabaikan suaminya.


"Kamu kenapa ngelamun? Apa tadi ada masalah? Kok pulang-pulang cemberut, jadi pendiam begini?" tanya Ken yang mencoba menyelidiki apa yang membuat Rara gelisah.


"Gak ada kok, Mas. Cuma mikirin tugas yang tadi dikasih dosen, harus dikumpul secepatnya. Nanti bantuin aku ya, itupun kalau Mas nggak lagi repot," jawab Rara mencari alasan, walau tidak semuanya bohong karena tiba-tiba saja dia ingat bahwa ada tugas yang belum dia kerjakan.


Ingat akan tugas, Rara memikirkan Erlang. Harusnya tugas itu mereka kerjakan bersama sebagai tugas kelompok tapi sejak dibagi kelompok oleh dosen Erlang yang tidak masuk susah untuk dihubunginya.


Rara tidak tahu apa yang terjadi dengan pria itu. Kalau memang masih kesal atau kecewa kepadanya atas sikapnya yang memilih Ken dan memutuskan hubungan mereka, seharusnya Erlang mengatakan kepadanya.


Setahu Rara mereka sudah baikan dan melepaskan unek-unek mereka masing-masing. Rara sudah jujur begitupun dengan Ken yang sudah bicara dengannya, lantas apalagi yang membebani Erlang untuk berteman dengan Rara?


***


Rara tersenyum melihat hasil tugas yang sudah selesai dikerjakan oleh Ken. Tidak sia-sia dia memiliki suami yang pintar, tugas seperti itu hanya urusan kecil bagi Ken.


"Terima kasih ya Mas, suami aku memang paling hebat," ucap Rara memeluk Ken dari belakang. Pria itu masih fokus untuk mengirimkan tugas itu ke email Rara lalu setelahnya menutup laptop dan berbalik melihat ke arah Rara.


"Tidak ada yang gratis nona, aku mau minta bayaran ku!" ucap Ken yang dimengerti Rara. Gadis itu mencoba tersenyum walau terlihat aneh karena dipaksakan. Bagaimana menjelaskan pada Ken, kalau dia tidak siap malam ini?