
Wanita itu penuh ketegasan dan pastinya sangat cerewet. Rara menyimpulkan hal itu sejak pertama bertemu, dan semakin merasa yakin kala mendengar ucapannya pada Tamara. Bahkan saat dia menyajikan minuman ke hadapan wanita itu, Rara tidak luput dari tatapannya.
"Ini pelayan baru kamu?"
"Iy-iya, Bu." Jawaban singkat Tamara terdengar bergetar. Rara sempat berpikir seberapa menyeramkannya wanita ini.
"Apa kamu gak mikir, sampai-sampai ngizinin dia pakai seragam kesempitan begitu? Gimana kalau sampai Ken suka padanya?"
Hampir saja gelas yang sudah akan di letakkan di depan Bu Susanti jatuh dari tangan Rara. Wanita itu cenayang atau memang ahli nujum ternama? Kenapa dia bisa menebak?
"Oh itu, aku belum sempat beli seragam buat Rara, Bu."
Jawaban Tamara membuatnya semakin salah di mata wanita itu. Sesaat Tamara mengalihkan pandangannya pada Rara, menatap gadis itu dari atas ke bawah. Apa mungkin suaminya bisa suka pada pelayannya itu?
Tanpa sadar Tamara menggeleng pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri. Dia kenal Ken. Pria itu terlalu cupu untuk selingkuh. Tamara yakin kalau Ken sangat mencintainya. Hah, mana mungkin dia selingkuh. Dulu saja, Tamara ketahuan selingkuh juga dimaafkan Ken saking cintanya pada wanita itu.
Ken itu ibarat malaikat, bersih dan berhati suci, tidak mungkin selingkuh!
Tamara tersenyum karena buah pikirannya itu. Lalu kembali mengalihkan fokusnya pada Susanti seiring Rara yang berlalu.
"Jangan sampai kejadian, baru kau tahu rasa!" Kembali Susanti memperingatkan. Dilihat dari mana pun, Rara wanita yang menarik, terlebih bodynya yang sangat aduhai. Hanya sedikit perawatan mewah pada kulitnya dan juga perubahan status, maka dia akan sama dengan Tamara.
"Sudah, Ibu tidak mau buang-buang waktu. Sekarang, Ibu mau dengar, sudah sejauh mana usahamu? Atau jangan bilang, kau justru ingkar janji, tidak melakukan program sama sekali?" Tatapan Susanti mengunci tajam wajah Tamara hingga wanita itu tidak bisa mengelak lagi.
Habis 'lah dia kali ini! Asyik dengan rutinitas dan juga hubungan asmaranya dengan Jhon, membuat Tamata jadi lupa soal program anak yang sudah dia janjikan pada sang mertua.
Janji itu mereka pada awal tahun ini, setelah masuk tahun ketiga pernikahan mereka. Padahal Tamara lah yang awalnya membuat kesepakatan itu agar bisa diterima sebagai mantu. Susanti yang mengetahui kalau Tamara sengaja KB agar tidak hamil, membuat Susanti berang dan meminta putranya untuk menceraikan Tamara. Beruntung saat itu Ken mengerti keadaan Tamara hingga tidak menyudutkan istrinya itu di hadapan sang Ibu.
"Jangan begitu, Bu. Pernikahan itu bukan mainan, gak suka pilih cerai," jawab Ken membela istrinya.
"Jadi, kamu pikir tujuan menikah itu juga bukan karena ingin punya keturunan? Kamu mau gak punya anak? Iya, Ken? Saat kamu meminta restu menikahi wanita ini, Ibu menyetujui walau terpaksa, karena Ibu pikir wanita itu bisa membuat mu bahagia, tapi kenyataannya, wanita ini egois, tidak mau punya anak karena takut tubuhnya rusak. Kalau begitu, sekalian saja cerai!"
Penjabaran ibunya jelas masuk akal. Ken juga ingin punya keturunan, memiliki anak dari darah dagingnya sendiri. Ngapain dia menikah dengan Tamara, kalau wanita itu tidak mau mengandung anaknya?
"Jangan pisahkan kami, Ibu. Aku janji, aku akan program punya bayi. Kasih aku kesempatan, Bu," ratap Tamara yang akhirnya meluluhkan hati Susanti, memberikan satu kesempatan bagi Tamara kala itu.
"Aduh, mati aku. Kenapa sih, wanita gendut ini ingat aja, nyusahin tahu gak punya mertua bawel kayak gini!" batinnya meremas jemari tangannya.
"Tam, kamu dengar, gak?"
"Eh, iya, Bu. Maaf, tapi aku sudah coba, belum membuahkan hasil saja. Kata Ken, kemungkinan kami akan ke Singapura, untuk konsultasi sama dokter handal. Temanku yang artis, juga konsul sama dokter itu," jawab Tamara berbohong. Bodo amat masalah dosa, yang penting kali ini dia bisa bebas, lepas dari interogasi mertuanya ini.