Scandal With Maid

Scandal With Maid
Curhat



Sudah sejam Tamara mondar mandir di dalam kamarnya. Sekali lagi jarum jam di dinding kamar diliriknya. "Kemana sih, kamu Ken?" gumamnya menggigit bibir bawah. Entah untuk ke berapa kali Tamara menyingkap tirai jendela, tapi tidak ada tanda-tanda kepulangan.


Bosan menunggu di dalam kamar, Tamara turun ke bawah. Dia tidak bisa sendiri, kalau sedang memiliki masalah seperti ini. Tamara selalu panikan, dan dia butuh teman untuk cerita.


Tamara memiliki banyak teman, tapi itu hanya untuk bersenang-senang. Kalau dalam masalah seperti ini, jangan harap ada yang peduli, justru mereka akan kasih saran aneh.


"Ra, kamu udah tidur?" Dua kali dia mengetuk pintu, tapi tetap tidak ada sahutan dari dalam. Mana mungkin dia mau membiarkan pelayannya itu bisa tidur nyenyak, sementara dirinya sendiri kesepian dalam kekalutan.


"Rara... Bangun, dong!"


Rara tidak mungkin memekakkan telinganya lagi. Sejak awal dia sudah dengar, tapi seolah tahu tujuan Tamara membangunkannya, gadis itu memilih memekakkan telinganya. Bukan menyerah, kini justru semakin bersemangat mengetuk pintu, kalau sampai lima menit lagi pun belum dibuka, maka niscaya pintu itu akan roboh.


"Ada apa, Nona?" Wajah Rara tampak lesu. Dia tidak enak badan karena kena hujan kemarin, saat kembali ke kontrakan mereka. Setiap Sabtu Minggu, Rara memang akan menginap di rumah kontrakan bersama Sari dan Miko.


Setelah Sari keluar dari penjara, kini masalah baru datang lagi. Miko minta masuk sekolah, sementara keuangan Rara sudah menipis.


"Lama benar sih kamu buka pintu. Sini Ra, aku mau cerita!" Tamara menarik tangan Rara keluar dari sana, terus berjalan hingga ke ruang tamu.


"Ada apa, Non?" Tanya Rara setelah mereka sampai di ruangan itu dan Tamara memilih duduk di kursi panjang.


"Duduk dulu. Gak tahu kenapa ya, Ra, aku kok merasa nyaman cerita sama kamu. Kamu duduk dulu, aku mau cerita," ucap Tamara menunjuk kursi yang ada di sampingnya dengan tatapan mata. Rara menurut, menghempaskan tubuhnya di sana.


"Ra, kamu dengar sendiri 'kan apa perkataan mertuaku?" Tamara langsung masuk ke inti cerita. Dia memang paling gak pintar basa-basi dulu, terlebih kalau lawan bicara statusnya jauh dibawah dia.


"Saya tidak mengerti, Nona," jawab Rara singkat. Dia memang hanya mendengar bagian Susanti mengkritik dirinya mengenai seragam, lalu membicarakan perihal janji, menagih janji pada Tamara, tapi isi perjanjian itu Rara tidak paham sama sekali.


"Masa kamu gak dengar, Ra? Mertuaku nuntut aku harus hamil!" pekik Tamara kesal. Mengingat bagaimana cara Susanti mengancamnya, membuat Tamara ingin sekali segera melapor pada Ken. Terserah kalau pada akhirnya nanti, ibu dan anak itu akan bertengkar!


"Kalau begitu, Nona berusaha saja. Lagi pula, wajar kalau mertua Nona meminta cucu, kalian sudah menikah tiga tahun," jawab Rara santai.


Sejak mengetahui dari sahabatnya, kalau alasan Tamara belum memiliki anak hingga saat ini karena wanita itu memang tidak ingin mengandung.


"Aduh, kamu itu bego atau apa sih, Ra? Aku mana mau hamil. Bisa rusak badanku!" cemooh nya sembari memonyongkan bibir nya.


Rara menarik napas. Dia bingung dengan jalan pikiran Tamara. Wanita itu memilih menikah, harusnya memang akan memiliki anak suatu hari nanti, kan? Kalau gak mau punya anak, jangan nikah, simpel, kan?


"Terus, mau Nona gimana? Kalau emang gak mau punya anak, tinggal ngomong aja sama mertua Nona."


"Waduh, gak mungkin, dong. Kamu mau aku diceraikan Ken? Amit-amit deh. Aku gak akan mau pisah dari Ken, tapi aku juga gak mau punya anak. Ra, kamu mikir dong, apa solusi masalah ku ini!" umpatnya melipat tangan di dada.


Aneh memang majikannya ini. Dia yang punya masalah, tapi kenapa Rara yang harus mikirin solusinya. Ini semua karena hari itu Rara menyelamatkan Tamara di hadapan Ken. Perselingkuhan Tamara sempat dicurigai oleh Ken.


Pasalnya, pria itu menemukan celana dal*am pria di keranjang kain kotor, kala itu Ken baru pulang kerja dan ingin mandi, meletakkan baju kotornya di keranjang, dan mengambil kain pengaman segitiga itu.


"Tam, ini punya siapa?" tanya Ken mendatangi istrinya yang saat itu sedang ada di dapur, memastikan makan malam sudah tersedia.


Sontak Tamara dan Rara kaget bersamaan. Kedua wanita itu saat itu sama-sama memandangi cela*na dalam milik Jhon, lalu saling melempar pandanga.


Tatapan Tamara tentu saja memohon agar Rara menyelamatkannya.


"Maaf Nona, itu bukannya milik Tuan Ken yang baru Anda beli tadi siang?" ucap Rara berimprovisasi.


"Hah? Iya, benar, Sayang. Itu punya kamu, baru aku beli," jawab Tamara gugup, tapi bersyukur Ken percaya dan pria itu kembali ke kamarnya dengan meninggalkan pakaian dalam itu di tangan Tamara.


Sejak saat itu, Rara adalah malaikat penolong di hati Tamara, menganggap kalau Rara adalah tameng sekaligus jimat yang akan mampu menyelesaikan masalahnya, apapun jenisnya.


"Aku? Kok jadi aku sih Non, yang mikir?" protes Rara sembari menguap. Dia sangat mengantuk. Tidak bisakah curhat ini dilanjut besok?


"Iya, kamu tolongin aku. Itulah gunanya kamu aku gaji!!"


"Bukannya dalam job desk aku, tugasku hanya melakukan pekerjaan rumah?" Bantah Rara tidak terima.


"Sekalian dong, Ra. Kamu gak kasihan sama aku?"


"Aku kan udah kasih saran, Nona mulai aja progam hamil, jadi bisa menyenangkan hati mertua sekaligus suami."


"Sekali lagi, kau bilang aku hamil, aku pecat kamu, Ra!"


Rara hanya bisa menarik sudut bibirnya mendengar ancaman Tamara.


"Kalau gak mau hamil, Nona sama tuan Ken angkat anak aja, gimana?"


"Ogah, mertuaku pasti tahu lah!"


"Program bayi tabung? Atau pinjam rahim wanita lain. Anak itu akan tetap jadi darah daging kalian," saran Rara asal. Dia menguap lagi. Kalau punya kuasa, dia pasti sudah meninggalkan Tamara dan meringkuk di atas tempat tidur yang empuk.


"Benar juga. Aku akan coba ngomong sama Ken akan hal itu. Ide kamu brilian. Aku akan sewa seorang wanita, lalu dia akan mengandung anak ku, selama itu pula aku akan pura-pura hamil di depan mertuaku," ucapnya dengan mata berbinar. Dia begitu gembira seolah baru saja selamat dari tiang gantungan. "Ra, kau memang pelayan terbaikku. Aku gak sabar menunggu Ken pulang, untuk menyampaikan hal ini!" serunya kegirangan.


Rara sendiri menyesal, mengapa sudah memberi saran gila seperti itu dengan kata lain dia mengajari Tamara untuk berbohong pada mertuanya. tapi kalau dia tidak memberikan ide apapun percayalah Tamara akan terus mengganggunya hingga esok pagi.


di sisi lain pria Yang dinanti Tamara pulang justru berada di Bar, bersama temannya Dikta. Keduanya menghabiskan waktu dengan minum, berharap masalah yang sama-sama sedang mereka hadapi Sedikit terlupakan.


"Gue udah cerita masalah rumah tangga gue, sekarang, giliran lo yang cerita. Ada masalah apa antara Lo dan Tamara?"


"Gue selingkuh!"


*


*


*


Yuk, mampir