Scandal With Maid

Scandal With Maid
Ditahan



Ken masih berdiri di balkon kantornya, memandang jauh ke depan. Bangunan petak-petak di hadapannya sama sekali tidak membuatnya betah, tapi karena beban yang sedang dia pikirkan saat ini membuatnya termenung di atas sana, lumayan embusan angin membelai wajahnya, memberinya sedikit udara segar.


Seolah alam memahami perasaannya saat ini, langit begitu mendung. Sudah sejam satu jam lalu waktu bubar kantor, tapi dia masih betah di sana. Enggan untuk pulang dan bertemu dengan Tamara.


Panggilan gadis itu sejak tadi juga dia abaikan, begitu pun dengan panggilan ibunya yang meminta untuk mampir ke rumah.


Kembali ponsel di saku celananya bergetar. Dengan malam tangannya merogoh dan mengeluarkan benda pipih itu. Matanya membulat kala melihat nama yang tertera di layar.


"Halo, Ra, ada apa?" tanya Ken dengan penuh semangat. Betapa senangnya dia menerima telepon dari gadis itu. Dia sangat merindukan Rara. Ingin mendengar suara gadis itu.


"Maaf, Tuan Ken yang tampan. Ini Markonah."


"Markonah? Siapa kamu? Kenapa ponsel Rara ada sama mu?" desak Ken mengerutkan kening. Tidak mungkin dia salah membuat nama dalam kontaknya. Ken menjauhkan layar ponselnya, melihat kembali nama yang tertera di sana.


Ratnasari


"Maaf, Tuan Ken yang tampan, kan saya udah bilang, saya Markonah, pelayan Bu RT, di perumahan tempat Anda tinggal. Saya juga kebetulan teman Rara, dan kebetulan pula, saya memiliki wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang aduhai, dan sangat kebetulan sekali, saya ngefans banget sama Tuan," ucap wanita dari seberang sana.


"Rara mana?" sambar Ken yang tidak sabar mendengarkan celoteh Markonah yang pastinya akan lanjut kala tidak dihentikan.


"Oh, dia ada di kantor polisi," jawab Markonah. Seketika wajah Ken memucat. "Di kantor polisi katanya? Apa yang terjadi pada Rara?" batin Ken.


"Ada apa dengan Rara? Kenapa bisa di kantor polisi? Segera serloc posisi kalian!" perintah Ken tegas, segera menutup panggilan dan bergegas turun.


Gadis itu ada di depan penyidik, sedang ditanyain. Tampak wajah Rara gugup, tapi tetap berusaha tenang, walau riak matanya tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya.


Ken yang melihat hal itu ingin sekali berlari memeluk gadis itu, menenangkan Rara, mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Langkah gontai Ken masuk lebih dalam, dan berdiri tepat di belakang Rara. Gadis itu memutar kepalanya, mendapati Ken di sana yang juga melihat ke arahnya. Netra gadis itu tiba-tiba berair, hatinya bergemuruh melihat Ken, ingin rasanya berdiri dan memeluk pria itu.


Rara tidak tahu mengapa Ken bisa ada di sana. Dia tidak tahu kalau Markonah menghubungi Ken. Namun, satu hal yang di syukuri Rara akan kehadiran pria itu, bisa membuatnya tenang. Aneh, tapi dia yakin kalau kehadiran pria itu akan membantunya.


Hanya Rara yang tahu betapa dia sangat ketakutan. Kantor polisi membuatnya trauma karena pernah menemani Sari berjuang menuntut keadilan, tapi nyatanya kalah. Hal itu tentu saja membuat Rara pesimis kalau dia bisa mendapatkan keadilan.


Rara harus diseret ke kantor polisi oleh salah satu teman Rangga. Siang tadi, Ijah datang menemuinya.


"Ijah, ada apa?" tanya Rara membukakan pintu setelah beberapa kali mendengar bel berbunyi.


"Ra, aku mau minta tolong sama kamu, temani aku ketemu sama Rangga ya. Tadi dia chat, minta ketemuan di kampusnya. Aku takut kalau pergi sendiri. Lagi pula kamu kan mahasiswa, jadi tahu soal jalan kampus di kota ini," ucap Ijah gugup, meremas jemarinya saking gugupnya.


Bukan gugup karena meminta pertolongan Rara, tapi gugup karena Rangga mengajaknya untuk bertemu dan berbicara. Sejak pulang kemarin, Rangga tampak cuek padanya, tidak menyapa, hanya sebatas senyum.


Ijah jadi sedih sekali kecewa. Padahal saat melihat kepulangan Rangga, Ijah pikir pria itu akan segera mengajaknya bicara, membahas pesan yang sudah dikirim Ijah untuknya. Ini bukan masalah sepele, menyangkut anak mereka.


Rara tidak mungkin menolak apa lagi melihat wajah gembira Ijah. Seolah dia akan mengalahkan kabar suka cita dan putusan atas masalahnya.


Entah mengapa Ijah memilihnya dari semua teman-teman mereka, tapi Rara menghargai Ijah, jadi ikut serta membantunya, Kebetulan majikan Rara keduanya tidak ada di rumah, jadi dia bisa pergi bersama wanita itu.


Tiba di kampus, mereka masuk dan langsung menuju fakultas Rangga. Namun, tidak lama menunggu, bukan Rangga yang datang, tapi justru tiga orang wanita.


Tanpa kata sambutan, langsung menampar Ijah. Baik Ijah atau pun Rara pasti sangat terkejut. "Maaf, kenapa Anda menampar saya?" tanya Ijah masih memegang pipinya bekas tamparan wanita tidak jelas itu. Kupingnya yang sempat kena tampar, berdengung.


"Dasar pelayan murahan! Kau harusnya tahu diri! Apa kau pikir karena sudah melempar tubuh mu pada Rangga, maka dia akan menikahimu? Jangan mimpi!" umpatnya dengan sangat kasar. Teriakan gadis itu membuat berapa mahasiswa yang melewati mereka menoleh dan sempat berhenti ingin mencari tahu apa yang terjadi. Namun, tatapan garam gadis itu membuat mahasiswa itu pergi dan meninggalkan mereka berlima.


Mendengar perkataan gadis itu tentu saja Ijah sangat kaget. Dia hanya memberitahukan masalah mereka kepada Rangga. Bagaimana mungkin gadis itu tahu permasalahan mereka? Lagi pula siapa wanita yang sudah berani menamparnya ini? Mengapa dia begitu marah akan hubungannya dengan Rangga?


"Jangan harap karena saat ini kau hamil, Rangga akan menikah dengan mu. Buang semua mimpi mu itu!"


"Tapi, aku..." Ijah memegang perutnya. Mengapa dosa ini hanya dia yang menanggung sendiri?


"Harusnya kau sadar diri, kau hanya seorang pelayan. Bagaimana mungkin kau berpikir kalau Rangga akan menikahimu? Derajat dan status kalian sangat berbeda!"


"Anda siapa? Kenapa tahu masalah ini?" Tanya Ijah dengan suara tercekat. Dia begitu malu, ternyata dirinya yang sedang hamil di luar nikah sudah ketahui oleh banyak teman-teman Rangga.


Apa pria itu memberitahukan masalah ini pada teman-temannya? Tapi Rangga yang dia kenal bukanlah pria yang suka merendahkan orang lain, terlebih aib ini bukan hanya miliknya, kesalahan ini bukan hanya diri sendiri yang melakukannya, lantas apa tujuan Rangga membeberkannya kepada teman-temannya?


"Aku pacar sekaligus calon istri Rangga. Ternyata kau benalu sekaligus pelakor yang merayu Rangga. Sebaiknya kau bawa pergi anak haram mu itu, menjauh dari Rangga, atau kalau gak..."


"Kalau gak apa?" Sambar Rara cepat. Sudah cukup dia diam sejak tadi. Dia paham kini. Wanita yang dipanggil Lusi oleh teman-temannya itu sudah cukup jelas menggambarkan apa niatnya.


"Siapa kau? Jangan ikut campur! Oh, aku tebak, kau juga pelayan sama seperti Pela*cur ini ya? Sorry, gak level bicara dengan mu!"seru Lusi mengangkat telapak tangannya tepat di depan wajah Rara.


Singa dalam diri Rara keluar. Tidak terima temannya diperlakukan seperti itu, terlebih wanita itu juga sudah menghinanya, maka Rara perlu mengambil tindakan. Tanpa pikir panjang Rara menampar lalu menjambak rambut Lusi hingga keduanya terlibat perkelahian.


*


*


*


Mampir gais