
"Kalian dari mana?" tanya Ken yang tiba di rumah tepat saat Tamara dan Rara juga sampai di rumah. Pria itu menatap Tamara, lalu dengan ekor matanya melirik gadis yang begitu dia rindukan itu.
"Baru pulang syuting, Ken. Kamu juga baru sampai?" jawab Tamara menggandeng lengan Ken, menunjukkan sikap mesra. Rara ingin sekali meludah, bisa-bisanya Tamara bergelayut manja pada suaminya, seolah dia memang mencintai pria itu, padahal baru tadi dia selingkuh dengan pria lain.
"Kau mengajak... Rara?" Ada jeda sesaat. Sesulit itu hanya untuk menyebutkan nama itu.
"Iya, Ken. Kau tahu sendiri kalau saat ini aku hamil anak kita, aku gak boleh kelelahan, jadi perlu asisten pribadi."
"Bukannya kau sudah punya asisten pribadi?" delik Ken. Dia kasihan pada Rara yang lelah mengikuti Tamara. Dia merasa jadi pria brengsek yang untuk melindungi orang yang dia cintai saja tidak bisa.
"Iya, itu kan asisten di lokasi syuting, lagi pula dia mana tahu makanan dan minuman apa yang harus aku konsumsi," jawab Tamara membuat suaranya semakin manja.
Keduanya memasuki rumah, dengan bergandengan. Rara, si pelayan hanya bisa melihat dari belakang.
Tampaknya penderitaan Rara masih panjang. Ini hari ketiga dia ikut lagi ke lokasi syuting. Namun, setiap selesai, Tamara pasti menyuruhnya untuk pulang lebih dulu, memesankan ojek online.
"Ayok, Tam, kita take lagi," ucap pak sutradara. Tampaknya dia harus bersikap lembut pada pemeran utama dalam sinetronnya ini.
"Bentar lagi deh, aku lagi gak mood, nanti hasilnya gak bagus," jawab Tamara, menikmati pandangannya pada layar ponsel. Ada berita hangat di Instagram, seorang artis yang melaporkan suaminya ke polisi karena diduga kdrt sekaligus selingkuh.
Pak Sutradara hanya bisa menghela napas, mencoba bersabar hingga artis nya itu mau lagi syuting.
"Apa dia mengulah lagi?" tanya pemeran utama pria, yang masih dapat di dengar Rara. Majikannya memintanya duduk di sebelah kanan hingga dekat dengan tempat duduk lawan main Tamara.
"Biasa 'lah. Lagi viral, jadi bertingkah. Aktingnya juga biasa aja," jawab paksut dengan suara pelan, bisa bahaya kalau sampai Tamara dengar.
Hingga dua jam lebih, syuting belum dimulai karena kini Tamara minta rambutnya di creambath dulu. Semua pemeran lainnya mengumpat dan mengucap kasar pada Tamara, tapi hanya bisa disampaikan pada pak Sut.
"Wow, apa gerangan nih, sutradara kondang main ke lokasi syuting kita?" sapa pak Sut, kala melihat seorang pria datang mendekat. Rara mengamati pria itu. Tampak tidak asing, sering diwawancara di televisi, terlebih acara infotainment dan gosip.
Kedatangan pria itu membuat para pemain lainnya mencoba bersikap baik dengan menyapa dan tersenyum. Tindakan ramah yang terlalu berlebihan.
Tujuan mereka hanya satu, agar dilirik dan diberikan projek oleh sutradara kondang itu. Selain iklan, layar lebar dengan penonton yang bombastis sudah menjadi 'makanan' sutrada bertangan dingin itu.
"Ah, lu bisa aja. Gue juga lagi break, padahal udah deadline, cuma ya gitu belum bisa diteruskan. Mentok di tengah," ucapnya mengambil tempat di dekat pak Sut.
"Memangnya kenapa? Gue dengar sponsor nya gede buat produk itu? Punya perusahaan skala internasional, kan?" susul Pak Sut, yang merasa tertarik.
"Gue belum dapat model yang pas," jawabnya singkat. Tampak wajahnya mencerminkan banyak beban pikiran saat ini.
"Loh, kok bisa? Bukannya udah ada audisi kemarin?"
"Justru itu, semua gak pas. Gak dapat feel-nya."
Keduanya pun terlibat pembicaraan seru. Sesekali terdengar suara protagonis pria yang tadi duduk di sebelah Sutradara ikut nimbrung pada percakapan itu. Sampai seketika, mata Sutradara kondang yang bernama Dimas itu tanpa sengaja melihat ke arah Rara yang duduk sebaris dengan mereka.
Dia diam, menatap lebih lama lagi, lalu tanpa sadar mengukir senyum di bibirnya.
"Ini baru cocok!" pekiknya tanpa sadar.
Pak Sut dan juga protagonis itu ikut menoleh ke arah Rara. Dilihatin oleh tiga pria sekaligus membuat gadis itu kaget, gugup dan tentu saja kikuk.
"Dia?" tanya Pak Sut merasa tidak yakin. Mungkin saja sahabatnya itu salah menunjuk orang. Ada gadis lain di belakang Rara.
"Hai, aku Dimas. Nama kamu siapa?"
"Rara," jawabnya gugup.
"Kamu mau gak, jadi model iklan ku?" tanya Dimas tanpa basa-basi.
"Hah? Mas gak salah?" tanya Rara hampir saja kehilangan suaranya saking kagetnya.
"Gak. Mau ya, please. Wajah kamu itu pas banget dengan produk ini," susul Dimas cepat. Dia tidak akan melepaskan Rara, sudah lelah mencari karakter dan bentuk wajah yang pas.
Rara masih diam. Dia tentu saja bingung. Jadi model katanya? Apa mereka tidak tahu kalau dia hanya pelayan biasa?
"Terima aja, Mbak," ucap protagonis pria yang sampai sekarang masih belum Rara ingat siapa namanya.
"Benar, Mbak. Kesempatan gak datang dua kali," tambah Pak Sut.
"Tapi, saya cuma pelayan Non Tamara," jawab Rara sedikit malu.
"Aku akan minta izin padanya," jawab Dimas. Dia yakin, kalau hanya sekedar meminta izin pada artis itu pasti akan dapat.
"Tapi kalau pun gak izin dia gak papa, dong. Kamu kan bekerja sama dia, kalau dapat pekerjaan lain yang lebih bagus kan hak kamu untuk ambil," tetap si protagonis pria memberi dukungan, ternyata dia sangat baik dan ramah. Rara semakin merasa bersalah karena tidak ingat namanya.
"Ini kesempatan emas, gak datang dua kali loh. Kalau Tamara gak izinin, aku akan bantu bicara," ucap Pak Sut mengakhiri pembicaraan itu karena dari kejauhan terlihat Tamara datang mendekat.
Menyadari bahwa di sana ada Dimas, dia pun langsung mengubah milik wajahnya lebih ceria. Melangkah lebih anggun bak putri raja.
"Ada Mas Dimas, toh. Tumben main ke sini, Mas?" sapa Tamara dengan ada suara yang selamat mungkin.
"Iya nih, Tam. Lagi nyari hal penting, dan untung kemari," jawab Dimas tersenyum ramah.
"Oh, bagus deh kalau masalahnya udah beres."
"Tapi ini perlu bantuan kamu, Tam. Tolongin, ya?"
Senyum manis Tamara melengkung di bibirnya. Merasa bangga karena sutradara sekelas Dimas, meminta pertolongannya. Seketika Tamara terdiam. Dia berpikir akan satu hal. "Jangan-jangan, dia mau aku jadi modelnya atau aktris dalam film layar lebarnya?" batin Tamara tersenyum penuh harap. Ini adalah mimpinya, bisa bekerjasama dengan Dimas Jaya.
"Apa itu, Mas? Katakan saja. Aku pasti bantu," jawabnya mengedipkan sebelah matanya.
Dimas tersenyum, dia tidak kaget lagi dengan reaksi berlebihan yang dia terima dari Tamara, karena kebanyakan artis karbitan memang seperti itu, kayak gak punya malu.
"Aku ingin mengajak Rara syuting iklan produk kosmetik," ucapnya yang membuat Tamara terkejut, bahkan tidak ingat bagaimana caranya untuk sekedar menarik napas.
*
*
*
Mampir yuk