
"Kau sudah pulang?" ucap Tamara yang duduk di gelapnya ruang tamu. Dia sengaja duduk di sana menunggu Ken pulang, tidak ingin menghidupkan lampu karena kini dia lebih nyaman di tempat gelap, segelap hidupnya kini.
Ken yang terkejut menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara Tamara ingin melihat lebih jelas wanita itu Ken segera meraih saklar yang menempel di dinding dan seketika ruangan menjadi terang benderang
Apa yang kau kerjakan di sini sedang apa kau di sini di dalam kegelapan kau menakutiku?" ucap Ken melangkahkan kakinya, meninggalkan Tamara dengan aksi anehnya.
perhatian seperti apapun tidak akan lagi membuatkan peduli pada Tamara cukup Sudah garis itu membohonginya menganggapnya idiot yang tidak akan tahu apa yang sudah dilakukan di belakangnya.
"Tunggu!"
Ken mengentikan langkahnya. Mendengarkan hentakan langkah Tamara yang mendekat ke arahnya, lalu gadis itu berdiri tepat di depan Ken dengan dagu terangkat seolah menantang pria itu.
"Ada apa Tamara? Aku lela, ingin mandi dan beristirahat. Kalaupun ada yang ingin kau katakan, kita bicarakan besok karena aku pun memiliki hal yang harus aku katakan kepadamu," ucap Ken dengan sikap acuh.
"Kenapa tidak sekarang saja kau katakan?" tantang Tamara. Dia menebak bahwa suaminya itu akan mengatakan hubungannya dengan Rara dan hal itu membuat Tamara semakin marah.
Tampaknya rumah tangga mereka memang tidak bisa di selamatkan lagi. Namun, Tamara dengan segudang harga dirinya tidak ingin terluka dan posisinya tidak ingin digantikan oleh seorang pelayan, jadi dia akan mencoba berjuang dan berdebat jika perlu. Semua tenaga akan dikerahkannya, kalaupun tidak dengan cara baik-baik membujuk, dan Ken tetap pada pendiriannya, maka Tamara akan melakukan apapun demi memperbaiki rumah tangga mereka, meski harus menambah dosanya lagi.
Ken yang lelah dengan retorika yang diciptakan oleh Tamara memutuskan untuk mengatakannya saat itu juga. Benar perkataan istrinya itu bahwa tidak ada yang perlu ditunggu lagi, jadi lebih baik mengatakannya. Semua permasalahan rumah tangga mereka seperti bom waktu yang menunggu detik per detik untuk meledak.
Suara mereka yang begitu keras membuat pelayan baru di rumah itu muncul di ruang tamu, memastikan bahwa yang sedang berdebat itu adalah majikannya dan ketika melihat bahwa suasana memanas, pelayan itu memutuskan untuk masuk kembali ke dapur.
Ken mengambil tempat di salah satu kursi yang ada di ruang tamu, diikuti oleh Tamara yang mengambil posisi di depannya.
"Sekarang, katakan apa yang ingin kau sampaikan," ucap Ken mempersilakan Tamara lebih dulu menyampaikan isi kepalanya.
"Aku ingin kita memperbaiki rumah tangga ini. Kita sudahi kesedihan karena kehilangan bayi kita, dan kita mulai dari awal. Aku janji akan menyerahkan seluruh hidupku untuk rumah tangga ini, melayanimu dan berada di sisimu setiap waktu. Bahkan bila perlu aku akan mundur dari dunia hiburan dan memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, melahirkan anak-anakmu dan juga mengurus kalian," ucap Tamara menurunkan satu nada suaranya agar terkesan lebih lembut.
Dia sadar posisinya saat ini, tidak boleh bersikap keras atau memaksa. Dia harus bisa mengambil empati Ken agar bisa masuk kembali ke dalam hati pria itu. Dia tidak percaya pesona nya tidak bisa mengalahkan Rara.
"Aku minta maaf Tamara, tapi sepertinya keinginanmu tidak bisa aku penuhi lagi."
"Apa maksudmu?" tanya Tamara dengan suara bergetar. Dia sempat menebak kalau Ken akan menolak permintaannya. Apa benar Rara sehebat itu, bisa menguasai hati dan pikiran Ken dalam kurun waktu hanya beberapa bulan saja?
"Aku ingin kita bercerai. Aku sudah mengurus segalanya, dan kau hanya perlu menandatangani surat perceraian itu," ujar Ken masih di nada yang sama. Menatap lekat wajah wanita yang sudah menjadi istrinya selama tiga tahun ini.
"Apa?" pekik Tamara mengepal tinjunya. Dia tidak menyangka bahwa hal ini akan datang lebih cepat. Dia tahu saat Ken mungkin sedang jatuh cinta pada Rara tapi tidak mungkin bisa secepat itu mengambil keputusan untuk bercerai dengannya.
"Bercerai? Apa yang kau katakan? Kenapa tiba-tiba saja kau memutuskan agar kita bercerai? Apa salahku? Apa kau marah karena kita kehilangan bayi itu? Kau pikir aku sengaja melenyapkannya? Aku juga sedih seperti mu, Ken. Bayi itu harapanku, buah cinta kita," ucap Tamara memulai adegan wanita tersakiti.
"Sudah 'lah Tamara. Tidak perlu berakting di depanku," ujar Ken setelah menjeda lima menit, membiarkan Tamara melakukan bagiannya.
"Aku gak akting, Ken! Kau kenapa sih? Kenapa kau tiba-tiba berubah gini? siapa yang sudah mempengaruhimu atau jangan-jangan kau sudah menghadirkan orang lain di antara kita tembak Tamara masih belum mau membukakan apa yang dia ketahui.
Ken merasa terpojok dengan pertanyaan Tamara. Dia mengakui bahwa dirinya adalah pria brengsek yang sudah tidur dengan wanita lain ketika masih berstatus suami Tamara. Namun, kesalahan bukan hanya pada dirinya dan pendosa di dalam rumah tangga itu juga bukan dirinya saja karena pada kenyataannya Tamara juga selingkuh dan yang lebih parah dia merencanakan untuk mengikat Ken dengan bayi orang lain. Wanita iblis itu bahkan memaksa Jhon untuk menghamilinya, dan diakui sebagai anak Ken, apa itu tidak perbuatan yang lebih gila lagi?
"Aku tidak dipengaruhi dengan siapapun, aku hanya melihat kenyataan yang terjadi di rumah tangga kita. Kau harus mengakui, kalau kita memang tidak cocok lagi. Sebaiknya kita berpisah, Tam. Kita bertemu baik-baik dan aku berharap kita bisa berpisah dengan baik-baik juga," jawab Ken dengan terus menatap wajah Tamara.
Ken tahu sifat Tamara, tiga tahun hidup bersama wanita itu pasti ada saja persoalan yang terjadi. Senjata Tamara selalu berperan menjadi korban, menangis bahkan sampai melukai dirinya agar Ken tidak mendebat bahkan memaafkannya.
"Aku gak mau bercerai. Ken, aku mencintaimu," ucap Tamara bangkit lalu menjatuhkan diri di depan Ken, memeluk kaki pria itu dengan Isak tangisnya.
"Sudahlah Tamara, jangan begini. Tidak ada gunanya kau memohon padaku lagi karena sejujurnya aku sudah tidak mencintaimu lagi. Aku minta maaf, tidak bisa menjadi suami yang baik, tapi kita memang harus berpisah," ucap Ken menarik tangan Tamara agar mau berdiri, tapi gadis itu menolak, tetap berlutut di depan kakinya.
Tubuh Tamara menegang, mengangkat dagunya untuk menatap Ken dengan sorot kebencian.
"Apa karena wanita itu? Aku tahu Ken, aku melihatmu dengannya. Kau menjijikkan! Kau bahkan tidur dengannya ketika masih menjadi suamiku! Apa yang akan dikatakan orang, diberitakan media, ketika mengetahui bahwa Kenzio Adiaksa, seorang CEO terkenal, yang dianugerahi predikat pria baik, dan jadi teladan, ternyata tidur dengan pelayannya?"