
"Negatif!" Pekik Rara dengan air mata haru. Dijatuhkan tubuhnya di lantai, terduduk dengan tangan menggenggam erat testpack ke lima yang dia coba sejak tadi.
Pada awal pertama dia mencoba dan sudah menunjukkan hasil negatif, Rara langsung menangis gembira. Untuk memastikan hasilnya, wanita itu pun mengulangnya kembali, dan setelah alat terakhir pun menunjukkan hasil negatif, maka Rara bisa tenang.
Sebulan sudah sejak kejadian itu berlalu. Selama itu pula, Rara berusaha menghindar dari Ken, setiap pria itu punya kesempatan untuk mengajaknya bicara. Rara punya hak, dan syukurnya Ken tidak menggunakan kuasanya sebagai majikan guna memaksanya bicara.
Rara pun kini bisa bernapas lega. Dia tidak hamil!
Tidak ada lagi beban dalam hatinya. Bukan, bukan tidak ada sebenarnya, hanya saja sudah sedikit berkurang. Satu masalah yang ditakutkan sudah berakhir. Sisanya, dia hanya perlu melupakan masalah itu dan berharap kalau Tamara tidak akan tahu akan hal itu.
Rara berjalan keluar dari kamar mandi. Dia sudah mengganti pakaiannya yang basah dengan baju tidurnya. Begitu membuka pintu kamar mandi, dia dikejutkan oleh tangan kekar yang mencengkeram pergelangan tangannya dan menyudutkan ke dinding.
"Kenapa kau selalu menghindar? Apa kau tahu kalau aku semakin tidak bisa mengontrol diriku? Aku pikir... aku pikir aku sudah menyukaimu, dan ingin bersama mu," ucap Ken, tubuh Rara yang sudah menyatu dengan tembok kamarnya membuat Rara tidak punya ruang lagi untuk bisa melarikan diri dari kungkungan Ken. Akal sehatnya sudah hilang sejak malam itu. Dia semakin menderita karena begitu menginginkan Rara.
Terdengar gila, bukan? Tapi itu lah kenyataannya.
Boleh percaya ataupun tidak, setiap malam Ken memimpikan malam itu. Jelas dalam ingatannya semua yang dia lakukan pada Rara pada malam itu dan jauh di lubuk hatinya dia ingin mengulang kembali.
Persoalan Rara yang masih perawan juga membuatnya semakin ingin bertanggung jawab, tapi sayangnya Rara tidak mau.
"Aku sudah bilang, aku gak menuntut apapun pada Anda, Tuan. Harus dengan apa saya jelaskan?" pekik Rara tertahan. Dia hampir gila menghadapai pria yang kini ada di hadapannya ini. Debar jantungnya begitu kencang, dan dia malu kalau sampai Ken mendengar.
Pesona pria itu tentu saja tidak bisa ditepis. Dia sangat tergoda, tapi sekuat mungkin Rara berpegang pada pendiriannya. Ken suami wanita lain, dia tidak boleh menjalin affair pada pria itu.
Walau tekadnya sudah bulat, tapi kalau setiap hari Ken selalu memberinya perhatian, maka siapa yang bisa mengabaikannya dengan mudah. Setiap hari ada saja yang dilakukan pria itu ingin mengambil hatinya. Mulai dari membelikan coklat, makanan, bahkan bunga. Semua itu akan dia letakkan di atas meja yang ada di kamar Rara saat gadis itu tidak ada, dengan rapi dan tanpa diketahui oleh Tamara.
Ken sendiri merasa aneh akan dirinya. Dia seperti anak remaja yang kembali merasakan cinta, dan kali ini sangat berbeda dari yang pernah dia rasakan pada Tamara. Dia bukan mengatakan kalau pada Tamara tidak ada rasa cinta, sampai tiga tahun bertahan dalam rumah tangga ini, tentu saja karena cinta, apa mungkin justru karena kehormatan keluarga?
"Tapi aku gak bisa, Ra. Aku sangat menginginkan mu," bisiknya menyentuh garis tulang wajah gadis itu.
"Sadarlah, Tuan, Anda sudah beristri!"
"Aku akan bicara padanya, dan menjalankan semua, lalu meminta cerai saja," sambar Ken dengan cepat. Dia yakin apa yang saat ini dia ucapkan, bahkan sangat yakin. Kalau diawal kejadian itu dia mengucapkan hal serupa, mungkin belum sepenuhnya yakin, tapi setelah sebulan mempertimbangkannya, makan dia kini sangat yakin.
"Jangan gila. Aku gak mau bahagia di atas penderitaan orang lain!" pekik Rara kembali tertahan. Rasanya dia ingin sekali berteriak.
Tunggu dulu, benar 'kan, barusan Rara sudah mengakui kalau dia akan bahagia jika menikah dengan Ken. Artinya, dalam hati wanita itu juga sudah tercipta rasa suka pada Ken yang lebih besar dari sebelumnya.
"Aku gak peduli, yang aku tahu, saat ini aku hanya menginginkan mu!"
"Ken... Ken... Dimana kamu, Sayang?"
Terdengar suara Tamara yang tampaknya menjelajah rumah mencari suaminya.
"Ken... Dimana sih, pria ini!" seru Tamara yang tampaknya mulai kesal.
Rara semakin ketakutan. Terdengar suara langkah semakin mendekat ke arah kamarnya. Keringat sudah mulai membasahi kening Rara, dan jantungnya semakin berdebar. Ken merasakan ketakutan yang dialami gadis itu saat ini, dia tidak tega, karena secara tidak langsung dia lah yang sudah menempatkan Rara dalam situasi sulit seperti ini.
"Ra, apa kau sudah tidur? Ah, pasti gadis itu sudah tidur," ucap Tamara bermonolog, mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu kamar, lalu berbalik. Rara berusaha menebalkan pendengarannya, dan saat langkah itu semakin menjauh, barulah Rara bisa membuang napas lega yang sejak tadi dia tahan.
"Aku minta maaf, Ra. Kamu pasti ketakutan tadi, ya? Aku akan segera bicara dengan Tamara dan memutuskan untuk bercerai," ucapnya membelai lembut wajah Rara, lalu seperti kerbau dicucuk hidungnya, diam saja kala Ken mencium keningnya dengan lembut. "Beristirahat lah, Sayang," bisiknya yang mampu membuat bulu kuduk Rara merinding.
Ia masih tetap berdiri di tempatnya walau Ken sudah 10 menit lalu meninggalkan kamarnya. Panggilan sayang dari bibir Ken yang begitu merdu, mampu menggetarkan hatinya.
***
"Bagaimana kabarmu?" Tanya wanita dengan tatapan angkuhnya pada Tamara. Wanita itu baru tiba lima menit lalu, dan Rara lah yang membukakan pintu baginya.
Awalnya Rara ragu saat mengizinkan wanita itu masuk, selain tidak mengenal, Komar lagi-lagi tidak masuk hari ini, jadi tidak ada penjaga di depan, membuat wanita ini melenggang kangkung masuk ke dalam.
"Kabar baik, Bu," jawab Tamara kaku. Dia tahu, ibu mertuanya itu semakin kesal karena di buatnya menunggu. Saat datang, Tamara dengan mandi, jadi tidak bisa langsung menemui mertuanya itu.
"Ibu apa keperluan apa kemari?" tanya Tamara gugup.
"Memangnya, aku gak boleh datang ke rumah anakku sendiri? Kau keberatan?" jawab Susanti tak bersahabat. Kini kasih sayang nya pada Tamara pupus sudah. Awal pernikahan, Susanti sudah tidak menyukai Tamara. Alasannya sangat sederhana, mereka datang dari keluarga terpandang, kata raya, jadi menginginkan memiliki menantu yang anggun dan santun, berkarakter kuat, dan tidak punya rekam jejak tercela, dan Tamara dengan background keartisannya itu, tentu saja jauh dari harapan orang tua Ken, terlebih ibunya.
Namun, lambat laun, dia membuka pintu hatinya untuk mantunya itu, terlebih kala melihat Ken begitu mencintai istrinya itu. Satu tahun pernikahan, Susanti sudah membuka hati, masuk tahun kedua, wanita itu meminta diberikan cucu, dan dari infotainment di televisi, kala itu Tamara mengatakan memang sengaja menunda memiliki momongan karena ingin fokus pada karirnya, hal itu membuat Susanti berang. Dia menegur sekaligus menasehati Tamara agar mau segera memiliki anak.
Nasehat Susanti justru diputar balikkan Tamara. Wanita itu mengadu pada suaminya hingga membuat Ken marah pada ibunya demi membela sang istri. Sejak itu Susanti tidak menyukai Tamara lagi.
"Bukan begitu, Bu. Cuma, tumben ibu ke sini, tanpa memberitahu," jawab Tamara semakin mati kamus. Susah memang menghadapi mertuanya ini.
"Aku ke sini untuk menuntut janjimu!"
*
*
*
Mampir gais