
"Jangan pikir kau bisa menjadi milik si brengsek itu! Kau hanya akan jadi milikku!" ucap Ken dengan intonasi meninggi, menarik tangan Rara yang ingin melintas dari depannya setelah mereka tiba di rumah.
"Lepaskan, Mas. Kamu apa-apaan, sih? Gak cukup tadi ketahuan sama Bu Susanti?" delik Rara melotot pada Ken mengungkung tubuhnya.
Tampaknya amarah pria itu belum reda juga, padahal jarak tempuh hampir satu jam. Pertemuan itu memang membuatnya uring-uringan, terlebih melihat kedekatan ibunda Erlang pada Rara.
Jelas sekali kalau wanita itu sangat menyukai Rara, berharap kalau Rara akan jadi dengan anaknya. Hal itu tentu saja membuat Ken mati kutu, begitu pun Susanti yang kehilangan lidahnya. Belum lagi saat akan berpisah, Erna mencium pipi Rara dan menuntut kedatangan gadis itu ke rumah mereka.
Akibatnya, sepanjang jalan Ken hanya diam, tapi caranya membawa mobil jelas menunjukkan perasaan dongkol yang dia rasakan sekarang.
"Aku gak peduli. Apa kau lihat, Ibu juga kecewa kalau kau memilih si brengsek itu?"
"Erlang, namanya Erlang. Berhentilah mengatainya si brengsek!" sambar Rara yang kesal, tidak sekalipun Ken menyebutkan nama Erlang dengan bibirnya, seolah najis memanggil namanya.
"Terserah!" balas Ken memukul dinding dengan kepalan tangannya, semakin kesal karena Rara begitu entengnya mengatakan nama Erlang.
"Tunggu dulu, apa ibu Susanti tahu, mengenai... mengenai hubungan kita? Maksud ku hubungan yang pernah ada di antara kita?" tanya Rara segera merapat. Dia baru sadar kalau tadi Ken mengatakan kalau ibunya akan kecewa kalau sampai dirinya menerima Ken.
"Semuanya! Tidak hanya ibu, ayah dan semua orang, bahkan Tamara!" jawab Ken yang akhirnya mundur, memberi ruang diantara mereka.
Rara begitu terkejut, tidak menyangka sudah sejauh itu, bahkan Tamara juga tahu!
"Kok kamu gak cerita?" cicit Rara dengan nada bergetar. Dadanya bergemuruh, antar gembira atau malah sedih. Gembira karena ternyata orang tua Ken menerima hubungan mereka bahkan mendukungnya, dan sedih karena merasa bersalah sudah mengkhianati Tamara.
"Non Tamara pasti sedih sekaligus marah padaku. Aku sudah mengkhianati kepercayaannya dengan pacaran bahkan tidur dengan suaminya," celetuknya menutup mata, malu dan juga mengutuk kebodohannya di masa lalu, tapi mau bagaimana lagi, dia udah terlanjur cinta.
"Jangan pikirkan perasaan dia! Sebelum kita berkhianat, dia juga sudah melakukan hal yang sama, bahkan sampai hamil!" sambar Ken, tidak sudi Rara terus merasa bersalah.
"Mas tahu?" celetuk Rara tanpa sadar.
Ken yang terkejut melihat reaksi wajah Rara dan juga ucapan wanita itu, membuat Ken memicingkan matanya.
"Kau sudah tahu? Sejak kapan?" Desak Ken yang mulai menduga kalau perselingkuhan Tamara benar sudah lama dilakoni wanita itu. Mungkin sebelum dia mengenal Rara.
Terjerat oleh ucapannya sendiri, Rara jadi bingung harus menjawab apa. Dia tidak menyadari kalimatnya, yang berakhir membuatnya justru terperangkap dalam kecurigaan Ken.
"Jawab, Ra!" hardiknya membuat Rara meringis.
"Aku... aku gak tahu, Mas. Jangan paksa aku!" ucapnya merengek.
"Jawab pertanyaanku, atau aku tidak akan mempercayai mu lagi!"
Kini Ken semakin yakin bahwa istrinya itu sudah selingkuh jauh sebelum kejadian yang terakhir itu.
"Sekali lagi aku bertanya padam, Ra. Katakan, apakah kau tahu bahwa Tamara sudah selingkuh dengan Jhon di belakangku? Apakah kau pernah melihat mereka berselingkuh?" kecam Ken yang tiba-tiba saja ingat bahwa pernah di awal Rara bekerja, istrinya itu begitu bersikap jutek dan sesuka hati memerintah Rara, tapi pada masuk bulan kedua Rara bekerja dia bersikap lembut, bahkan mengizinkan Miko main di depan rumah.
"Ra!" Kali ini Ken benar-benar marah. Dia merasa dipecundangi selama ini oleh Tamara, bahkan sejak lama.
"Aku cuma pernah melihat Non Tamara bersama Tuan Jhon, tapi sekali aja itupun tanpa sengaja," jawab Rara spontan, yang ketakutan terlihat kemarahan yang begitu nyata di mata Ken.
"Sekali?" Intonasi Ken semakin meninggi tapi terkesan mengintimidasi.
"Dua kali." Lagi-lagi Rara menutup mulutnya. Mengutuk bibirnya yang keceplosan. Dia ingat peristiwa di lokasi syuting, dan begitu saja langsung meluncur dari bibirnya.
"Dimana kau melihatnya?" Desakan Ken semakin nyata, dia kembali mendekat.
"Di rumah sama di lokasi syuting. Udah dong, cuma itu yang aku tahu," jawabnya merasa bersalah. Rumah tangga Ken dan Tamara memang sudah hancur tapi aduannya kepada Ken bisa saja membuat keadaan semakin memburuk. Rara tidak ingin dianggap sebagai pengadu.
"Kenapa selama ini kau diam, Ra! Seandainya dari awal kau memberitahukan ku apa yang kau lihat, mungkin anak yang tidak bersalah itu juga belum tentu hadir!"ucap Ken menghitung umur bayi itu dengan apa yang diceritakan Rara.
Kini lagi Rara berada di posisi sulit. Sebenarnya majikannya tidak hanya Tamara, tapi juga Ken saat itu. Namun, tidak etis baginya seorang pelayan memberitahukan perselingkuhan Tamara kepada Ken yang hanya akan menciptakan pertengkaran yang hebat.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Ken yang sudah terluka dan kini semakin terpuruk, pergi meninggalkan Tamara. Derap langkah pria itu terdengar menyentak. Rara menutup matanya, menghitung di dalam hati. Langkah itu sudah membawakan Ken pada anak tangga menuju kamarnya.
***
"Ada yang ingin Ibu bicarakan denganmu, Ra. Kemari sebentar," ucap Susanti mendatangi kamar Rara. Gadis itu bangkit dan mengikuti langkah Susanti yang ternyata membawanya ke ruang keluarga. Di sana sudah ada Damian yang ikut menunggu, tampaknya apa yang akan mereka bahas dengan Rara sangat penting.
Rara coba menebak apa yang akan mereka bahas dengan mengikutsertakan Rara di sana. Apa mungkin seperti yang dikatakan Ken kemarin bahwa orang tuanya sudah mengetahui mengenai hubungan mereka di masa lalu dan ingin memperjelasnya?
"Duduk, Ra," ucap Bu Susanti dengan lembut. Rara semakin canggung bila berhadapan dengan majikannya itu, belakangan ini wanita itu memperlakukannya dengan begitu lembut, bahkan terkadang dia mau mendatangi Rara yang saat itu ada di dapur sedang membantu koki di rumah itu memasak untuk makan malam dan mengajak Rara berbicara.
Banyak yang mereka bahas dan sepertinya mereka satu frekuensi karena kenyataannya Rara bisa membuat Susanti tertawa terbahak-bahak mendengar tutur cerita gadis itu mengenai banyak hal.
Tubuh Rara semakin menegang kala Damian ikut mengamatinya secara intens. Guna menurunkan rasa gugupnya, Rara meremas tangannya, menanti salah satu diantara majikan itu buka bicara.
"Ra, kami sudah tahu hubungan mu dengan Ken, jadi kami memanggil ingin memperjelas padamu. Ibu tidak ingin perasaan Ken hanya bertepuk sebelah tangan," ucap Susanti to the point. Tampaknya wanita itu tidak ingin berlama-lama, terlihat wajahnya begitu tidak sabar dan tidak tenang sebelum mengatakan niatnya pada Rara dan sekaligus mendapatkan jawaban dari garis itu.
"Apa kau mencintai putra kami?" sambar Damian mendahului istrinya.