
Rara mengutuk sikapnya yang tidak bisa menahan diri dengan melempar tubuhnya ke pelukan Ken. Parahnya pria itu menyambut pelukan itu dengan merangkul Rara, hingga persekian detik Rara tersadar akan sikapnya.
"Maafkan aku, Tuan. Aku gak sengaja. Aku begitu gembira dengan kabar itu, hingga tanpa sengaja memeluk Tuan," ucap Rara masih dengan wajah bersemu merah.
Siapa yang tidak akan gembira, harapannya yang terbesar kini sudah dikabulkan. Dia akan segera berkumpul dengan Sari dan yang terpenting Miko akan bertemu dengan ibunya.
Ken yang juga tidak bisa menyembunyikan rasa malunya hanya bisa mengangguk kaku. Dia tahu kalau hal itu sangat besar artinya bagi Rara, tapi tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa dia akan mendapatkan pelukannya.
Sejak malam gadis itu meminta bantuannya, ada dorongan dari dalam hatinya untuk membantu. Tidak menunggu lama, besoknya pria yang memiliki tinggi 185 sentimeter itu segera mengurus Rick, asistennya untuk memanggil Bill, pengacara pribadi Ken untuk mengurus masalah Sari.
Kasus itu tidaklah sulit untuk pengacara sekelas Bill yang sudah lama melintang di dunia pengadilan. Hanya saja kasus itu sedikit alot karena ternyata orang yang menjebloskan Sari ke dalam penjara merupakan seseorang yang mempunyai uang dan juga kuasa, tapi tentu saja masih di bawah pengaruh dan kekuasaan Ken, jadi sangat mudah untuk memerintahkan mereka mencabut tuduhannya terhadap Sari.
Lagi pula sebenarnya tidak ada terjadi percobaan pembunuhan itu, justru yang melakukan penganiayaan adalah istrinya karena merasa cemburu pada Sari yang mendapat perhatian khusus dari sang Ceo. Hal itu diketahui setelah Bill meminta anak buahnya untuk mengintegrasi CEO berumur 40 tahun itu.
"Jadi, apakah Anda masih ingin menuruti keinginan istri Anda memenjarakan pelayan itu walaupun Anda tahu bahwa di sini Anda lah yang coba merayunya?" Bentak Bill pada pertemuan kedua di kantor pria itu.
"Saya..." Tio begitu sulit menjelaskan pada Bill, ingin membantah, tapi nama besar dibalik Bill tentu saja membuat nyali Tio ciut.
"Sekarang saya sudah mempunya bukti serta rekaman atas pembicaraan kita. Semua ada di tangan Anda. Jika ingin tetap memperpanjang masalah ini, maka saya akan menjadi pengacara wanita itu, dan saya pastikan kalau Anda sekeluarga akan malu akan skandal yang anda ciptakan dengan pelayan Anda sendiri. Lalu dengan teganya kalian menumbalkan dirinya, demi membalaskan dendam dan rasa kesal istri Anda padanya!"
Hanya itu yang dikatakan Bill, ya walau dengan sedikit tekanan dan intonasi tinggi. Namun, terbukti mampu membuat Tio berjanji akan segera mencabut laporannya.
***
"Kau mengirimkan pesan kalau ada hal serius yang ingin kau katakan, ayo cepat, apa yang akan jadi topik gibahan kita kali ini?" Sosor Markonah tidak sabar. Wati, Munaroh dan juga Ijah juga tidak sabar menunggu Rara buka suara.
Semuanya bergegas menyelesaikan pekerjaan mereka di rumah, agar bisa segera 'merapat' di tempat warung jus yang ada di dekat komplek perumahan itu.
"Mbak Sari akan bebas!" Seru Rara dengan binar cahaya di matanya. Hal yang ingin dia wartawan dengan meminjam toak mesjid bila perlu.
Semua bola mata wanita yang duduk mengelilingi meja bulat dengan payung pantai di atasnya itu terbelalak, membulat dengan sempurna.
"Alhamdulillah," sahut Ijah, benar-benar merasa gembira untuk Rara. Dia sangat kasihan pada Miko yang sangat merindukan ibunya dan terus menanyakan keberadaan sang ibu.
"Tuan Ken memang hebat. Selain tubuhnya yang perkasa, aku yakin dia pasti sangat hot di atas ranjang," celetuk Munaroh meraba lehernya sendiri, membayangkan kalau yang saat ini menyentuhnya adalah Ken.
"Ih, sama dong. Dari semua majikan di komplek elit Glamor Jaya ini, cuma Tuan Ken yang paling ganteng, mana kaya raya lagi," timpal Markonah.
"Aku malah suka berfantasi kalau pria yang sedang menyentuhku itu adalah Tuan Ken," sambar Wati yang terbakar mendengar cerita teman-temannya yang ternyata sama-sama memiliki hasrat terpendam pada Ken.
Rara yang mendengar hanya bisa tersenyum kecil setelah terkejut diawal. Dia tidak heran, wajar kalau pria itu menjadi idola kaum Hawa, tidak hanya dari kalangan atas tapi juga kalangan bawah seperti mereka.
Rara ingin sekali menceritakan insiden tidak sengaja yang membuatnya spontan melompat memeluk Ken, tapi nanti pasti akan menjadi heboh. Dia tidak mau kalau nanti kabar itu merambat hingga terdengar pada Tamara.
Keempat temannya itu berhati baik, tapi jujur, Rara tidak bisa menjamin mulut mereka.
***
"Benar," jawab Ken tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
"Dalam rangka apa? Tumben kau mau peduli dengan masalah orang lain?" delik Tamara masih menunggu Ken menoleh ke arahnya, tapi tetap saja Ken hanya fokus pada laptopnya.
"Ken!" pekik Tamara kesal. Dia baru saja sadar kalau Ken menganggapnya tidak ada di ruangan itu.
Pekikan itu akhirnya membawa Ken pada wajah Tamara. "Ada apa sih?"
"Kamu aneh. Aku tanya, kenapa kau tiba-tiba mau peduli masalah orang lain? Terlebih ini masalah pelayan!"
Ken melepas kaca mata bacanya, lalu menutup laptop dan meletakkan di atas nakas lalu mulai menoleh pada Tamara.
"Dia itu pelayan kita. Dia dalam kesusahan, dan lagi pula kau sendiri yang bilang kalau belakangan ini Rara sering murung dan melamun. Pakaianmu kurang licin disetrika, dan kau pula yang bilang, kasihan melihat nasib kakaknya. Jadi, aku simpulkan bahwa pekerjaan terganggu karena beban pikiran yang saat ini melandanya, dan aku memutuskan untuk menolongnya, agar dia bisa fokus bekerja!"
Penjelasan panjang lebar dari Ken tampaknya tidak bisa membuat Tamara puas. Dia terbengong sesaat, lalu bunyi pesan di ponselnya, menariknya kembali ke dunia nyata.
Pesan dari Jhon, yang buru-buru dia hapus setelah dibaca. "Pesan dari siapa?"
"Ah, gak penting, hanya pesan pemberitahuan produk dari Tel*Kom*sel," jawabnya tersenyum kecil.
Ken menatap Tamara, bara dalam hatinya seolah menyala. Dibelainya lembut wajah gadis cantik itu, lalu Ken mengecup leher jenjang nan mulus istrinya lama dan penuh perasaan. Lalu saat akan sampai di dadanya, Tamara menarik tubuhnya sedikit menjauh dari wajah Ken.
"Ada apa, Tam? Aku pengen, kita udah dua Minggu gak begituan," ucap Ken mengulurkan kembali tangannya ke leher Tamara, ingin menarik gadis itu itu mendekat pada bibirnya.
"Sorry, Ken. Aku capek banget. Besok ya, Sayang. Pasti. Aku ada syuting besok pagi, jadi harus cepat bangun," jawabnya menolak memberikan kewajiban pada suaminya.
"Tapi ini cuma memakan waktu setengah jam, Tam. Aku minta hakku sebagai suami," ucap Ken masih dengan menahan kesabaran. Bagiamana tidak, dia seorang lelaki normal, sudah beristri, tapi kebutuhan biologisnya sering diabaikan istrinya.
"Iya, Sayang. Besok aja ya. Aku lagi gak mood," jawab Tamara kembali menolak, lalu mengecup bibir Ken sekilas sebelum membaringkan tubuhnya. Bahkan teganya, wanita itu tidur sambil memiringkan tubuhnya, tepat membelakangi Ken.
Dengan hati terbakar, Ken hanya bisa mengamati punggung istrinya tanpa mengatakan apapun. Dia mencintai Tamara dan sangat menyayangi gadis itu. Mengabulkan keputusan istrinya untuk menunda kehamilan juga salah satu bentuk rasa sayangnya kepada Tamara yang tidak ingin memaksakan kehendaknya.
*
*
*
Mampir gais