
"Makanya kamu itu dengarkan apa kata Ibu. Sudah tahu lagi hamil muda, masih kerja gak ingat waktu! Lagian kamu ngapain di apartemen itu?" ujar Susanti dengan emosi.
Tamara yang baru keluar dari rumah sakit kemarin siang, hanya bisa menangis di hadapan kedua mertuanya dan juga Ken, suaminya. Oh, jangan lupakan Rara yang saat itu juga ikut bersama mertuanya, karena harus selalu menjaga Damian.
Ketakutan perbuatannya akan diketahui, membuat Tamara hanya bisa menangis terisak. Senjatanya sudah tidak ada, bahkan kini terancam ditendang dari keluarga Adiaksa.
"Kamu itu punya otak atau gak sih? Kemana pikiran mu kamu buat? Susah payah kamu baru bisa punya anak, sekarang kamu malah keguguran!" Lanjut Susanti belum merasa puas. Kalau mengikuti sulutan emosi, mungkin dia akan menjambak rambut Tamara karena sudah membunuh calon cucunya secara tidak langsung.
"Sudah 'lah, Bu. Tamara juga bukan sengaja, semua kita kehilangan, bukan hanya Ibu. Lebih lagi Tamara yang merupakan ibunya," ucap Ken menengahi. Dia kasihan pada Tamara yang terlihat begitu sedih kehilangan anaknya.
Mendengar hardikan Ken, Susanti jadi mingkem, walau masih banyak hal yang ingin dijejerkan untuk memuaskan amarahnya kepada Tamara atas kelakuan bodoh mantunya itu.
Rara yang duduk diam di sudut ruangan menatap wajah Ken yang diselimuti kesedihan. Dia bisa merasakan kehilangan yang dirasakan Ken saat ini.
Anak itu adalah harapannya. Calon bayi yang sudah lama dinantikan olehnya. Ingin sekali Rara memeluk dan memberi penghiburan pada Ken, tapi buru-buru ditepisnya keinginan itu, karena dia tidak punya kapasitas untuk melakukan hal itu.
"Sudah'lah. Mungkin memang belum rejeki kita, ikhlaskan kepergian janin itu," ucap Damian memutus perdebatan diantara istri dan mantunya.
Susanti pun mengalah, dia menyadari tidak ada gunanya memperpanjang perdebatan, toh, calon cucunya sudah tidak ada lagi.
"Rara, kita pulang!" seru Susanti memanggil Rara yang segera muncul dari balik pintu. Saat melintasi karpet bulu yang mewah, Rara sempat mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Ken, dan tepat saat itu juga pria itu melihat ke arahnya.
"Ayo, Tuan, kita pulang," ucap Rara memapah Damian dan memberikan tongkat pada pria itu.
Sulit untuk menggambarkan bagaimana arti tatapan Ken kepadanya. Tidak bersahabat, dan sangat diyakini Rara banyak kebencian di dalamnya.
Rara ingat dan tahu pasti alasan sikap pria itu terhadapnya karena apa yang sudah dia saksikan di kantin fakultas nya.
"Kami akan segera mengunjungi Ayah dan Ibu," ucap Ken yang mengantarkan kedua orang tuanya hingga pintu mobil mewah mereka.
Rara yang duduk di depan bersama sopir hanya bisa meremas tangannya, gugup kalau sampai pri situ nekat mengajaknya bicara.
Tebakan Rara salah lagi. Ken sama sekali tidak menghampiri bahkan terlihat tidak peduli.
***
Walau mengasihi Tamara dan berempati atas kehilangan anak mereka, tapi Ken bukan pria bodoh. Bahkan ibunya saja bisa menebak ada kejanggalan atas kecelakaan yang menimpa Tamara. Untuk apa dia ada di apartemen itu, dan siapa yang dia jumpai di sana?
"Ini Bos." Sebuah Mak berwarna coklat yang masih terikat tali kaitnya dengan rapih. Rick meletakkan dengan pelan di atas meja kerja Ken, seolah benda yang dia serahkan itu bisa hancur jika lebih kuat meletakkannya.
Ken meratap amplop itu dengan picingan mata lalu mengalirkan pandangannya pada Rick, lalu kembali ke amplop.
Tangannya terulur untuk mengambil amplop dan segera membukanya. Dia tidak ingin bertanya-tanya dalam hati lebih lama lagi, mengenai isi dari investigasi yang dilakukan Rick.
Semua isi amplop itu dia keluar bersamaan, menghamburkan di atas meja kerjanya. Beberapa foto Tamara dan juga seorang pria yang dia kenal adalah lawan mainnya di beberapa judul sinetron.
"Apa arti semua ini, Rick? Apakah kau sudah memastikan bahwa tidak ada yang keliru dari laporan ini?" tanya Ken melibat tangan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi empuk yang menjadi singgasananya, dan menatap lurus ke arah Rick, yang siap memberikan penjelasan yang diinginkan oleh Ken.
"Saya sudah menyelidiki dan mengumpulkan semua bukti yang bisa menguatkan penyelidikan saya. Maaf Bos, tapi nyonya memang ada fair dengan pria bernama John itu. Pemilik apartemen adalah pria itu, dan seringkali nyonya mendatanginya, hal itu bisa dibuktikan oleh CCTV yang memperlihatkan dengan jelas kemesraan Nyonya Tamara dan juga pria itu," terang Rick tanpa ragu.
Ken mengunci mulutnya. Tidak ada yang bisa dia katakan, hatinya remuk redam. Masalah pengkhianatan Tamara tentu saja tidak dia pedulikan. Sudah lama dia mencium perbuatan kotor istrinya itu, hanya saja saat dia ingin pisah dari Tamara, wanita itu hamil dan mengandung anaknya.
Siapa sangka setelah diselidiki, kenyataan pahit menamparnya. Anak yang selama ini dia nantikan dan selalu membuat perasaannya menghangat setiap membayangkan bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah, ternyata bukan darah dagingnya.
Dari surat pernyataan yang ditandatangani John, dan diserahkan kepada anak buah Rick yang berhasil menginterogasinya dengan menghadiahi beberapa pukulan di wajah, jelas menyatakan bahwa John mengetahui bahwa anak yang ada dalam kandungan Tamara adalah darah dagingnya dan Tamara sendiri yang membuat rencana agar dirinya hamil sehingga suami dan keluarganya menganggap bahwa anak yang ada di dalam perutnya itu adalah keturunan keluarga Adiaksa.
Ken merasa dipecundangi oleh Tamara dan juga John. Hanya demi mempertahankan posisinya sebagai nyonya Adhyaksa, Tamara memilih jalan yang salah penuh dengan kelicikan dan juga bergelimangan dosa.
Yang Kuasa sungguh baik terhadap Ken dan keluarganya, mengambil anak itu sebelum dijadikan Tamara sebagai alat untuk memenuhi hasrat dan keinginannya menguasai harta Adiaksa.
Ken meremas surat yang baru saja dia baca dan melemparkannya dengan sembarang di atas meja kerjanya. Dia ingin sekali pulang dan mencekik Tamara, agar dia menyesal sudah berbuat hina seperti itu.
"Lalu apa yang kau katakan kepada pria itu? Kau tahu bahwa aku tidak akan melepaskan nya!" Lanjut Ken melihat ke arah Rick.
"Joy sudah mengamankannya, Bos. Kami tinggal menunggu perintah Bos," jawab Rick yang sudah mengerti jalan pikiran bosnya, hingga menahan Jhon dan mengurungnya di suatu rumah sampai diberikan aba-aba apa yang akan dilakukan ada nasib pria itu.
"Kau sudah memukulnya, memberikan pelajaran kepadanya, dan aku akan mengambil bagianku nanti," ucap Ken mengepal tinjunya. Kalau Jhon ada di sini saat ini, pasti Ken tidak akan membiarkan pria itu melihat matahari esok.
"Kami siap menerima perintah, Bos," ucap Rick sedikit gentar melihat amarah bosnya itu.
"Untuk sekarang aku ingin menghukum keduanya dengan cara yang lebih tragis, yang lebih menyakitkan daripada dipukul raganya. Aku ingin memblokir semua pekerjaan yang memakai mereka. Aku ingin mereka kehilangan yang sudah mereka punya saat ini!"