
Pukul satu pagi, Ken baru menginjakkan kaki di rumah. Kepala sempoyongan, tapi syukurnya dia masih bisa membawa mobil dengan selamat sampai ke rumah.
Saat sudah memasuki rumah, dia menoleh ke arah pintu sebelah kiri, jalan menuju dapur lalu ke arah kamar Rara. Dorongan untuk menemui gadis itu sangat besar. Dia merindukannya. Sangat, namun perjanjian diantara mereka sudah dia 'tanda tangani' sebagai bentuk persyaratan agar Rara tidak keluar.
"Kenapa harus begini, Ra? Aku pikir kau mau aku ajak bertemu karena sudah menerima ku. Kenapa justru mengancam akan berhenti?" tanya Ken dia hari lalu, setelah mereka bertemu di taman kota, tempat yang kemungkinan tidak akan ada orang yang mengenali mereka datang ke sana.
Setelah membujuk puluhan kali, akhirnya Rara bersedia datang bertemu Ken. Membicarakan masalah mereka berdua.
"Aku tidak punya pilihan lain. Anda yang memaksaku untuk mengambil keputusan itu. Tuan, sadar 'lah, Anda sudah punya Istri!" seru Rara dengan perasaan terbelenggu. Dia juga menderita dengan keadaan begini.
Kejaran kata pelakor, membuatnya semakin tertekan. Mungkin saat ini Tamara tidak tahu, tapi esok? Lusa? Wanita itu pasti mendapatkan kebenarannya.
"Aku gak bisa jauh dari mu, Ra."
"Apa yang Anda mau dari saya?"
"Aku ingin kita menikah. Aku menyayangimu, Ra!"
"Lantas, bagaimana dengan nyonya Tamara?"
Seketika Ken diam. Dia bukan tidak berani menceraikan Tamara, bahkan sudah bulat tekadnya. Hanya saja bayangan tentang kesehatan ayahnya yang saat ini memburuk, membuat Ken labil. Bagi kedua orang tuanya, nama besar sangat penting. Kalau dia melawan, nyawa ayahnya jadi taruhan.
"Aku akan bicara padanya. Aku menyadari kalau rasa cintaku pada Tamara, kini sudah pupus."
"Maaf, aku gak bisa, Tuan."
"Aku harus apa? Sakit di sini, Ra, setiap kali aku ingin mendekatimu, mengajakmu bicara, bahkan sekedar menegur, tapi gak bisa," ucap Ken menyentuh dadanya.
Rara hanya diam. Bisa apa dia? Malu mengakuinya, tapi kenyataannya dia juga sudah menyukai Ken, hanya saja dia sadar posisinya, sadar kalau hubungan itu dijalin juga tidak mungkin.
"Maaf, Tuan. Aku tetap pada keputusanku. Aku akan berhenti bekerja," jawab Rara menunduk.
Membayangkan gadis itu jauh darinya saja sudah membuat Ken merasa semakin sakit di dada. Napasnya sesak. "Apa yang harus ku lakukan agar kau tetap bekerja? Aku tahu kau butuh pekerjaan ini. Kasihan Miko!"
Sampai sekarang Ken belum menemukan jawaban, siapa ayah Miko, karena setelah malam itu, jangankan untuk bicara baik-baik, tegur sapa saja Rara tidak mau membalas. Dan semua hadiah pemberian pria itu, hanya karena merasa dosa membuang makanan dan juga bunga yang indah, makanya Rara membawanya pulang.
Rara merenung. Apa yang dikatakan oleh Ken benar adanya. Dia sangat membutuhkan pekerjaan ini, terlebih hingga saat ini Sari belum mendapatkan pekerjaan.
"Jangan pergi, aku mohon." Ken sadar dirinya mungkin sangat tampak lemah di hadapan Rara saat ini, memohon padanya tanpa memperdulikan harga dirinya.
Baginya perasaan yang saat ini melanda hatinya sangat berbeda. Sepenting itu kehadiran Rara bagi dirinya.
"Aku akan tetap tinggal, seperti kata Anda, aku memang sangat butuh pekerjaan itu, tapi ada syaratnya." Terdengar Rara menarik napas panjang, lalu perlahan melepaskannya.
"A-apa, Ra?"
"Kita sepakat lupakan apa yang terjadi diantara kita, dan saya mohon agar Anda menjaga jarak. Lupakan lah, karena aku tidak pernah menyukai Anda!"
Pernyataan Rara cukup jelas. Hasilnya? Sakit dan teriris, tapi Ken harus terima. Dengan sisa harga dirinya, dia mengangguk.
Dengan langkah lesu, Ken menarik dirinya beranjak dari sana. Langkahnya diseret menaiki anak tangga. Tamara yang sudah terlelap, akhirnya terbangun merasakan kehadiran Ken.
"Kau baru pulang?" tanya Tamara dengan suara serak, diliriknya jarum jam, sudah setengah dua pagi.
"Maaf, membangunkan mu!" Ken melenggang ke dalam kamar mandi. Memilih untuk mengguyur tubuhnya dengan baik dingin di pagi hari.
Tamara memilih turun dari ranjang, bergerak gelisah di tengah ruangan menunggu suaminya keluar.
"Kau dari mana? Aku mencium bau alkohol, aku minum sampe mabuk?" Tamara tidak bisa menahan suaranya lagi. Selama mengenal Ken, baru pertama kali ini dia melihat Ken se-kacau ini.
"Aku hanya minum sedikit. Menemani Dikta!" Jawabnya cuek, melenggang ke arah lemari, mengambil satu kaos untuk dipakainya. Tamara bak anak ayam, terus mengikuti Ken yang kini sudah keluar dari kamar menuju ruang kerjanya.
"Kau ada masalah apa, sih? Ngomong dong, Ken! Jangan buat aku semakin pusing. Gak kamu, gak ibu kamu, sama aja, suka buat kepalaku pusing!"
"Ibu? Ada apa dengan ibu?" Ken menoleh ke belakang, mendapati Tamara yang berdiri di tengah ruang kerjanya dengan tangan dilipat di dada.
"Ibumu datang, dan memaksa aku untuk hamil. Aku harus apa Ken?"
Ken terdiam sesaat. Dia ingat perjanjian ibunya dengan Tamara, yang harusnya sudah hamil tahun ini. "Aku tidak bisa menolong mu. Kau kan yang tidak menginginkan punya anak?"
"Kok jawaban kamu kayak gitu, sih?" Tamara berang. Intonasinya sudah naik di atas 7 oktaf mungkin. Jamin semua orang di rumah itu pasti mendengar, tidak terkecuali Rara. Gadis itu sama sekali belum tidur, bahkan dia mendengar suara mobil Ken saat tiba di rumah.
Tamara tidak percaya kalau Ken akan lepas tangan dengan permasalahannya. Dia semakin tidak mengenal pribadi Ken lagi. Dulu, setiap Tamara merengek, pasti pria itu akan segera pasang badan, apapun masalahnya.
"Jadi aku harus jawab apa?" Desak Ken. Memilih duduk di kursi bulat, dekat mini barnya. Seolah minuman yang dia habiskan di bar bersama Dikta tadi belum cukup, Ken mengambil botol dari tempat penyimpanan dan menenggak isi gelasnya.
Tamara dalam diam nya terus mengamati Ken. Nalurinya berkata ada yang salah dengan suaminya ini. Ken tampak sudah tidak peduli padanya. Seketika ketakutan muncul di raut wajah Tamara. Bagaimana pun dia sangat mencintai Ken, terlepas dia suka berselingkuh dengan beberapa pria. Dulu saat berselingkuh dengan pemilik salah satu stasiun televisi swasta, Ken mengetahuinya, mampu memaafkannya, dan terus mencintainya. Namun, kini mengapa perasaannya mengatakan Ken sudah tidak mencintainya lagi?
"Aku ingin kita bicara serius. Aku mohon Ken, hentikan, jangan minum lagi! Kau sudah terlalu mabuk!"
"Aku baik-baik saja, Tam. Kalau ada hal serius yang ingin kau bahas, please, besok aja, ya!"
Tidak terima dengan sikap cuek dan antipati Ken, Tamara memutar otak. Sekali lagi dia tidak mau kehilangan Ken, apapun alasannya.
Tamara mendekat, lalu seketika memeluk Ken dari belakang. Menunjukkan sensualitasnya yang selalu mampu melumpuhkan Ken. "Aku ingin bercinta dengan mu malam ini, Ken. Beri aku anak. Aku ingin hamil!"
*
*
*
Mampir gais