
"Kalian? Kenapa Kalian bisa datang bersamaan?" pekik Tamara penuh selidik. Satu jam sejak tiba di rumah, dia menunggu kedatangan Rara, karena ada yang ingin dia suruh, tapi ternyata gadis itu tidak ada. Begitu pun dengan Ken, sudah jam pulang kerja, tapi belum juga pulang.
Dari Komar, Tamara mendapat info kalau keduanya belum pulang. Rara tadi izin, menemani Ijah pergi.
"Maaf, Non. Saya... saya dari rumah Bu RT, ngobrol sama Markonah," jawab Rara kikuk.
Ken bisa merasakan ketegangan gadis itu, bulu tengkuknya tampak meremang. Ken ingin melindungi Rara kalau sampai istrinya itu marah.
"Kamu itu kalau pergi, izin dong ke aku. Lagian ngobrol kok sampe malam gini? Kerjaan kamu udah selesai, belum?" Hardik Tamara. Tatapannya masih mengunci ke arah Rara. Untuk sesaat hatinya seolah membisikkan sesuatu, tapi tidak mungkin. Hanya kebetulan. Lagian suaminya juga masih berpakaian lengkap, pastinya baru pulang nongkrong bareng Dikta.
"Sudah'lah Tam, kamu kok ngomel aja. Rara punya hak buat pergi, apa lagi hanya sebatas ke rumah tetangga," sambar Ken, menarik tangan Tamara untuk naik ke atas.
Lebih baik menarik tangan Tamara, agar Rara terbebas dari omelan wanita itu.
"Kamu apa-apa, sih, Ken? Aku lagi tegur Rara, biar dia gak kebiasaan!"
"Kamu tuh yang gak punya hati. Masa dia mau main sama temannya gak bisa. Lagian dia pergi juga karena kamu gak di rumah, gak ada lagi yang mau dia kerjakan. Aku ingatkan Tam, jangan kasar padanya. Mungkin dia bekerja sebagai pelayan di rumah ini, tapi tetap dia pekerja, punya hak bebas juga!"
"Loh, kamu kok belain dia? Tumben-tumbenan kamu peduli sama pelayan. Beberapa kali ada pelayan di rumah ini, bahkan namanya aja kamu gak tahu. Oh Tuhan, jangan bilang apa yang dikatakan ibu kamu itu benar?!" pekik Tamara menutup mulutnya dengan tangan, matanya membulat mengintai mimik wajah Ken.
"Apa?" tantang Ken.
"Ibu mu bilang, bisa aja kamu nantinya suka sama Rara!"
Ken ingin sekali menjawab perkataan Tamara. Ujung lidahnya sudah siap membeberkan semua fakta yang ada. Dia sudah bertekad, akan mengakui dosanya, berkata jujur dan memilih untuk berpisah. Namun, dia ingat perkataan Rara, untuk tidak membukanya sekarang, terlebih karena memikirkan kesehata ayah Ken yang saat ini sedang sakit.
"Kau gila!" Umpat Ken, duduk di tepi ranjang, membuka sepatunya, dengan sikap acuh tak acuh.
"Jawab aku, apa mungkin suka pada Rara? Aku tahu dia biasanya aja dan pastinya bukan tipeku. Mana mungkin ada pria mau sama gadis kampungan seperti dia, tapi ada pepatah bilang, walau setiap hari dikasih makan daging, kalau dilempar ikan asin juga pasti kucing doyan," ucap Tamara masih ingin menuntut kejujuran Ken yang pastinya tidak mungkin dia dapatkan.
Tamara masih berdiri di hadapannya, berkacak pinggang menanti jawaban.
"Sudah 'lah. Aku malas melayani omong kosong mu. Jangan menuduh orang berselingkuh, atau jangan-jangan justru kamu yang sudah ada main dengan pria lain... Lagi?" jawab Ken berdiri, kini keduanya saling berhadapan.
Seketika nyali Tamara yang sejak tadi membara, ciut seketika. Gelagapan dan takut. Mungkin omongan Ken hanya tebakan semata, tapi bagi orang yang sudah berkhianat, pasti akan merasa tidak tenang, selalu dihantui rasa bersalah dan seolah aib yang dia sembunyikan dapat terdeteksi.
Dan Ken menggunakan kata lagi, diakhir kalimatnya yang hampir selesai. Seolah pria itu mencoba mengingatkan Rara akan sepak terjangnya di masa lalu.
Tamara mundur. Dia memberikan ruang untuk Ken melangkah. "Aku mau mandi!"
***
Sejak pertengahan itu, Tamara semakin tersiksa. Sikap suaminya semakin dingin, dan bahkan tidak mau lagi menyentuhnya. Kalau Tamara mulai menggoda, Ken akan menolak dengan dingin, mengatakan kalau dia sedang capek.
Bagi Tamara tidak masalah. Kebutuhan biologisnya bisa dia dapatkan dari Jhon. Setiap hari juga mereka melakukannya agar Tamara bisa cepat hamil.
Namun, Tamara yang tersiksa merasa perlu mengubah siasat nya. Tepat saat mendengar suara mobil Ken memasuki halaman, gadis itu mulai memainkan perannya.
Saat Ken masuk kamar, suasana sangat gelap, dari cahaya bulan yang menerobos jendela kamar, Ken mendapati sosok istrinya yang duduk di atas tempat tidur.
Tamara mengangkat wajahnya, air mata sudah banjir di pipinya. "Ken, Pak Herman membatalkan kontrak kerja sama yang sudah kami tandatangani," ucapnya tersedu-sedu. Terlihat kesedihan di mata gadis itu.
Ken bisa mengerti kesedihan Tamara. Bagi gadis itu, dunia akting adalah setengah nyawanya. Dia kenal Herman, produser yang sudah lama memakai Tamara dalam sejumlah sinetron.
Dua bulan lalu, Tamara pernah bercerita tentang dirinya yang diajak main layar lebar. Wanita itu begitu gembira menyambut berita itu dan sudah tidak sabar untuk mulai syuting. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana sedihnya Tamara.
"Sudah 'lah, Tam. Jangan nangis lagi. Nanti kau sakit. Ikhlaskan saja, nanti juga akan ada tawaran yang lebih baik lagi," ucap Ken mengelus lengan Tamara.
Tidak ingin membuang kesempatan, Tamara masuk dalam pelukan Ken, membenamkan wajahnya di dada pria itu.
Dalam hati sudah menghitung detik-detik langkah yang ditunggu oleh Tamara sebagai mana sudah diaturnya.
"Ra, nanti kalau tuan sudah pulang, kamu siapkan teh, dan bawa ke kamar ya. Jangan langsung antar, dia pasti sedang mandi, jadi kurang lebih setelah 15 menit dia naik ke atas kamu antar minuman itu," ucap Tamara menjalankan bagian rencananya.
Entah benar atau tidak suaminya melirik Rara, menurut Tamara dirinya perlu menunjukkan pada Rara, kalau Ken adalah miliknya seutuhnya.
Satu... Dua... Tiga...
"Nyonya, ini teh nya," ucap Rara yang berdiri diambang pintu, membawa nampan berisi satu gelas teh hangat. Dari tempatnya, Rara bisa melihat dengan jelas kegiatan kedua manusia yang ada di dalam kamar itu.
"Letakkan aja di atas meja itu, Ra," ucapnya lembut, menahan senyum yang ingin muncul di bibirnya. Ken yang terkejut, ingin menarik diri, tapi batal dia lakukan karena pegangan tangan Tamara di pinggangnya sangat erat, lagi pula gadis itu sedang sedih.
Semua jadi tampak serba salah. Dia ingin menurunkan tangan yang ada di punggung Tamara, tapi merasa enggan, takut Tamara tambah curiga dengan reaksinya. Jadi, Ken memilih untuk tidak berbalik melihat ke arah Rara.
Dalam hatinya, Ken mencoba menerka reaksi Rara. Terdengar dentingan gelas yang di letakkan di atas meja kaca.
"Ada lagi yang Anda butuhkan, Nona?" tanya Rara mencoba mempertahankan intonasi suaranya.
"Gak ada, Ra. Oh, iya, besok pagi, aku saja yang buatkan sarapan untuk Ken," ucapnya sembari mendongak menatap wajah Ken, lalu mencium bibir Ken tepat di depan Rara. Jelas kalau Tamara memang ingin menunjukkan adegan itu di hadapan pelayannya itu.
Setelah pintu ditutup, barulah Ken bisa mengembuskan napasnya. Sejak Rara berada di ruangan itu, Ken menahan napas, memikirkan apa tanggapan Rara nantinya.
"Aku mandi dulu, Tam," ucap Ken melepaskan diri.
Tamara hanya mengangguk lemah. Hatinya memuncah karena skenarionya berjalan mulus.
*
*
*
Mampir gais