
Harapan Ken yang ingin menyenangkan Rara dengan mengajak gadis itu honeymoon, harus kandas kali ini. Dia pikir gadis itu akan menjerit kegirangan karena diajak jalan-jalan ke luar negeri, tapi kenyataannya justru ditolak.
"Aku bukan gak mau, Mas. Lusa aku mid tes semester," ucap Rara mencoba membujuk Ken agar tidak ngambek lagi. Jemari gadis itu masih bermain dengan dasi yang dikenakan Ken pagi ini.
"Aku bisa kok ngomong sama dosen mu, atau bila perlu sama rektor kampus mu, biar bisa dikasih izin gak masuk beberapa hari," tukas Ken masih berusaha mengubah pemikiran istrinya.
Pria itu lagi dimabuk cinta. Dia mencintai Rara, perlu diragukan lagi. Namun, setelah malam pertama, bukan, malam nerusin tepatnya karena yang pertama sudah di dp di awal kala itu, Ken semakin cinta dan tidak ingin jauh dari Rara. Kalau boleh meminjam bahasa Rara, Ken saat ini terlalu obsesi pada dirinya.
Ingin terus berduaan dan berbagi cinta, menghabiskan malam-malam romantis mereka. Intinya, Ken ingin aktif memproduksi bayi!
"Mas apa-apaan, sih. Memangnya aku anak SD pake dimintai izin sama orang tua atau wali? Please, Mas, ngertiin aku," jawab Rara menangkup kedua pipi Ken, dan menarik ke depannya lebih dekat hingga tepat menyentuh bibirnya. Usahanya berhasil walau harus jinjit agar bisa menyentuh bibir pria itu.
"Jadi, kapan kita bisa berbulan madu? Kau tahu sendiri, aku tidak muda lagi, Ra. Aku ingin punya anak darimu," ujar Ken membelai wajah cantik Rara setelah pagutan mereka lepas.
Rara mengirim senyum yang membuat hati Ken terasa damai. Nyaman sekali setiap memandang Rara. "Kita tunggu hari yang baik, aku janji kalau urusan kampus sudah kelar, kita pergi, kemana pun kamu ajak aku pasti ikut," ucap Rara, berharap rasa kesal Ken bisa berkurang.
Ken mengalah. Dia tidak bisa memaksakan kehendaknya pada Rara. Bukankah suami istri itu harus saling mengerti?
"Yang rajin belajarnya. Ingat, sekarang sudah jadi istri kenzio Adiaksa. Jangan sembarangan bicara dengan pria lain, terlebih pria dengan inisial 'E'," ucap Ken memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Rara sebelum gadis itu membuka pintu mobil.
"Mas apaan sih? Bukannya udah ngomong, udah baikan juga, udah saling mengutarakan isi hati sama Erlang, kok masih menganggapnya sebagai musuh, sih?" tanya Rara mencubit gemas hidung Ken lalu menggesekkannya dengan hidungnya Ken yang terpancing alasan tuhan Rara segera memegang tengkuk gadis itu dan menariknya agar bisa lebih dekat dan mencium garis itu dengan penuh gelora.
"Kita ke hotel aja, yuk, Sayang. Setiap kamu sentuh, apalagi setiap kamu ciuman sama kamu, aku pasti jadi pengen," bisiknya dengan kilat kabut gairah di matanya.
"Jangan aneh-aneh deh, kamu Mas, kayak nggak ada bosan-bosannya sih kamu. Padahal tadi malam udah berapa kali coba," jawab Rara menggeleng-gelengkan kepalanya, sembari mengulum senyum. Suaminya itu selalu bisa membuatnya tersipu. Dia suka Ken yang terus terang, blak-blakkan seperti ini.
"Salah kamu sendiri, kenapa begitu nikmat," jawab Ken kembali mencium bibir Rara, yang sudah menjadi candu bagi pria itu.
Rara jadi tidak bisa melepaskan ingatannya atas apa yang mereka lalui sejak malam pernikahan mereka hingga hari ini. Sudah empat hari berlalu, tapi Ken tetap saja seolah tidak pernah bosan untuk mengulang hal itu, kalau hanya melakukannya sekali sehari mungkin Rara masih menganggapnya hal yang biasa tapi pria itu selalu meminta jatah padanya setiap malam hingga subuh, mengulang permainan itu hingga tiga kali.
Rara tahu itu hak suaminya dan sebagai istri sudah kewajibannya melayani Ken dan membuat pria itu puas, lagi pula sejujurnya Rara juga menyukai cara Ken menyentuhnya di atas ranjang.
"Udah, ah. Aku pergi, mata kuliah jam pertama, dosennya killer," ucap Rara mendekat dan kembali menyatukan bibir mereka sekilas, lalu segera turun sebelum Ken mulai bereaksi lagi.
***
Di anak tangga ketiga, Rara berpapasan dengan Erlang, pria itu baru saja dari ruang kelas mereka tampaknya.
"Er, mau kemana? Bukannya ada mata kuliah Pak Sugi pagi ini?"
"Hei, Ra. Kayaknya aku gak bisa masuk. Ada urusan mendadak. Titip absen ya, Ra. Aku pergi dulu," ucap Erlang berlalu meninggalkan Rara. Ada yang berubah dari sikap Erlang belakangan ini. Pria tampak menjaga jarak dengannya.
Pulang kuliah, Rara berencana ke rumah Sari, ada janji dengan teman-temannya. Sejak menikah, Rara juga belum pernah pulang ke sana. Markonah sudah berulang kali menghubungi Rara mengingatkan gadis itu akan janjinya menemui mereka setelah acara pernikahan itu.
Jadi setelah mengirimkan pesan kepada Ken guna meminta izin, Rara segera bergegas pergi ke rumah kakaknya.
"Akhirnya kau datang juga, kami pikir kau sudah lupa jalan ke sini," sindir Markonah memutar bola matanya saat Rara tiba di sana.
Ternyata rumah kakaknya saat ini sangat ramai. Dia pikir hanya ada teman-temannya saja di sana tapi ternyata ada Bude yang dulu menjadi tetangga mereka bersama tiga orang wanita yang juga tetangga mereka.
Rara jadi ragu untuk menunjukkan buah tangannya takut tidak akan cukup bagi mereka, tapi Markonah yang penasaran, langsung merampas dari tangan Rara. Hanya ada satu kotak coklat berisi enam buah. Sebenarnya itu juga untuk Miko.
"Ya elah, udah jadi istri bos besar juga, masa bawa oleh-oleh cuma segini," celetuk Markonah membuka paper bag coklat dari tangan Rara.
"Itu bukan buat kamu, Mar. Itu pesanan Miko, kemarin anak itu minta dibelikan coklat yang lagi viral katanya. Aku kan nggak tahu kalau kamu suka coklat," jawab Rara asal sembari tersenyum dan mengedipkan mata.
"Dih, alasan!"
Pembicaraan itu terputus ketika Wati dan juga Mbak Sari keluar dari arah dapur, membawa nampan berisi banyak buah yang sudah dipotong seukuran jari kelingking sementara Wati membawa mangkok yang berisi cabe yang sudah diulek dengan menambahkan gula merah.
"Wah, ada rujak party, nih," ucap Rara gembira. Sangat kebetulan karena dia juga sudah dua hari ini menginginkan makan rujak tapi belum kesampaian. Sebelum ke rumah Sari, dia juga singgah ke warung rujak yang sering dia lewati setiap pergi ke kampus, tapi Rara belum beruntung karena rujak itu sudah habis padahal hari masih siang.
"Kamu udah datang, Ra," sapa Sari, duduk di dekat adiknya itu.
"Iya, Mbak. Baru aja," jawabnya menarik tangan Sari dan mencium punggung tangan wanita itu.
Makanan sederhana, dan berkumpul bersama orang-orang yang hidupnya sama dengan mereka membuat kenyamanan itu tercipta. Sederhana, tapi bisa menumbuhkan keakraban diantara mereka.
Rara akan selalu rindu untuk pulang ke tempat itu karena di sana dirinya bisa menjadi Rara yang apa adanya, tidak perlu memikirkan apakah sikapnya sudah benar, tidak akan menyinggung orang di sana seperti yang selama ini dia takutkan selama tinggal bersama mertuanya.
Susanti memang tidak pernah mengeluh atas sikapnya, bahkan tampaknya mertuanya itu begitu sangat menyayanginya dan memberikan perhatian lebih kepada Rara. Tidak segan-segan Susanti akan memasak makanan untuk Rara dan meminta gadis itu untuk menghabiskannya. Perhatian yang sudah lama tidak dia dapatkan dari seorang ibu.
Rara selalu berusaha untuk bersikap baik dan menjadi menantu yang bisa menyenangkan hati kedua mertuanya. Namun, jauh di lubuk hatinya ada rasa takut kalau suatu hari mertuanya akan kecewa kepadanya, begitupun dengan Ken.
Rara tahu perhatian yang diberikan oleh Susanti kepadanya tidak lebih karena wanita itu juga menginginkan Rara cepat memberikan mereka cucu.
Rara takut dirinya tidak sempurna, tidak bisa memberikan keturunan untuk Ken nantinya. Beberapa artikel yang dia baca membuatnya semakin yakin bahwa ada masalah dalam rahimnya. Menstruasi yang tidak lancar datang setiap bulan, menjadi salah satu beban pikiran Rara.
Bagaimana kalau nanti dia memang tidak bisa memberikan keturunan untuk Ken Apakah dia akan dicerai dan dibuang oleh keluarga itu?