
Hai, aku bawa lagi satu novel keren lainnya, yang pasti bakal suka. Mampir ya, jamin gak nyesal, makasih
Cuplikan Bab*
Bangun lebih awal dibadingkan penghuni rumah lainnya sudah menjadi rutinitas Haura setiap pagi. Setelah melaksakan sholat subuh wanita itu bukannya tidur, malah mengaji sebelum menyiapkan keperluan sang suami untuk berangkat bekerja.
Kini Haura sedang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suaminya, senyuman wanita itu mengembang sempurna melihat hidangan di atas meja telah lengkap.
Baru saja akan memanggil sang suami, pria itu sudah sampai di meja makan dengan setelah kemaja putih juga jas dokter di tangannya.
Harun lantas duduk di salah satu meja sambil tersenyum.
"Wangi banget masakannya Ra," kata Harun.
"Aku sengaja buat makanan kesukaan mas Harun hari ini, oh iya bekal juga sudah aku siapkan." Haura ikut duduk di hadapan suaminya setelah menyiapkan makanan.
Sesekali wanita dengan pakaian tertutup itu tersenyum melihat betapa lahapnya Harun menyantap sarapan.
Usai menemani sang suami sarapan, Haura mengantar pria itu hingga di depan pintu.
"Kalau butuh apa-apa langsung hubungin mas ya, ingat jangan terlalu keras bekerja kamu baru saja sembuh." Mengusap kepala Haura yang tertutup kain.
"Iya Mas, hati-hati di jalan."
Haura memejamkan matanya ketika Harun mengecup keningnya begitu lembut. Wanita berhijab itu melambaikan tangan untuk mengantar kepergian sang suami, setelahnya membalik tubuh hendak masuk kerumah.
Namun, langkah Haura terhenti melihat mertua juga adik iparnya bersedekap dada tidak jauh dari pintu.
"Bunda sudah bangun? Haura sudah menyiapkan sarapan untuk bunda dan Vivian, ayo!" Mengajak tanpa sungkang ibu mertua juga adik iparnya.
"Hm." Dengan angkuhnya Elena dan Vivian berjalan menuju meja makan tanpa menyapa Haura sedikitpun.
Menikah karena dijodohkan juga membangun rumah tangga bersama Harun tanpa cinta, tidak membuat Haura Ariana menderita. Namun, satu yang sering kali membuat Hauran menangis diam-diam tanpa diketahui suaminya.
Yaitu perlakuan ibu mertua juga adik iparnya yang sering kali semana-semana jika Harun sedang tidak ada di rumah.
Langkah Haura menuju dapur semakin lebar ketika mendengar suara pecahan kaca. Wanita itu terkejut bukan main melihat makanan yang dia masak susah payah berserakan di atas lantai yang semula bersih.
"Maksud kamu apa, Vi? Mas Harun juga tadi memakan hidangan yang ... Aaakkkhhhh." Karena mendapat dorongan tiba-tiba dari Vivian, tubuh Haura limbung sehingga terjatuh dan tangannya mengenai beling.
"Bisa saja kan kamu mau meracuni kita karena ingin mengambil harta kak Harun! Dasar wanita tidak tahu diri, anak pembantu!" Hardik Vivian.
Sementara Elena hanya diam memperhatikan bagaimana putri kesayangannya membentak dan menyakiti Haura.
Sejak awal Elena dan Vivian tidak pernah menyukai keberadaan Haura di rumah ini, sebab yang harusnya menikah dengan Harun adalah Vivian bukan anak pembantu seperti Haura.
"Untuk apa aku merebut harta mas Harun? Sementara aku adalah istrinya," jawab Haura bangkir dari lantai dengan tangan mengeluarkan darah, juga gamis yang dia kenakan kotor karena sisa makanan.
"Vivian sudah! Wanita tidak tahu malu sepertinya mana mengerti. Kau, buatkan kami sarapan yang enak!"
"Tapi Bunda, tangan aku ...."
"Luka kecil seperti itu saja kau mengeluh, sini!" Menarik tangan Haura kasar dan mencuci tangan yang teluka.
"Lima menit semua harus jadi tanpa bantuan pelayan!" Usai mengeluarkan titahnya, Elena dan Vivian meninggalkan dapur.
Kedua wanita itu tidak suka jika melihat Haura bahagia bersama Harun, terlebih kehadiran Haura bisa mencegah keduanya untuk mendapatkan harta kekayaan Ayah Harun yang telah meninggal dunia.
"Harusnya yang menikah sama kak Harun itu aku."
"Sabar sayang, bunda akan pastikan Haura keluar dari rumah ini karena diusir oleh Harun. Hanya kau yang pantas bersanding dengannya." Elena tersenyum licik.
Jika dia tidak bisa merebut harta keluarga Edelweis melalui suaminya, maka dia akan mengurasnya melalui anak tirinya sendiri.
Dengan menikahkan Vivian dan Harun, maka tentu saja harta kekayaan keluarga Edelweis akan jatuh ke tangannya, terlebih jika putrinya berhasil hamil dan menjadi cucu pertama di rumah ini.
"Bunda, bagaimana kalau Haura mengadukan perlakuan kita?"
"Jika ingin, dia sudah melakukannya sejak lama Sayang. Dia itu terlalu lugu dan sok suci."