Scandal With Maid

Scandal With Maid
Saling Memahami



"Ada apa? Kenapa kau terus memandangiku?" tanya Ken dengan suara parau, menarik Rara lebih dekat ke tubuhnya. Keduanya meringkuk di bawah selimut putih, tanpa mengenakan sehelai benang pun. Sejam lamanya mereka memadu kasih, bercinta dengan keringat membanjiri tubuh mereka. Bahkan Rara masih butuh waktu untuk mengatur napasnya.


Prianya itu terlalu perkasa, bisa memuaskannya begitu lama. Dia heran mengingat Tamara yang berselingkuh dengan alasan bahwa Ken tidak bisa memuaskannya.


Memangnya bercinta itu harus bagaimana? Kalau Ken yang mampu membuat Rara selalu kelelahan dan begitu mendambakan sentuhan pria itu saat mereka bercinta, lantas bagian mana yang tidak membuat Tamara puas?


"Aku ingin menanyakan sesuatu, tapi aku tidak tahu apa kau akan menyukai pertanyaanku," ucap Rara sembari memainkan jemarinya di atas dada pria itu. Dia begitu senang menyusuri dada hingga perut Ken yang begitu rata. Bentuk tubuh Ken begitu sempurna karena pria itu memang rajin berolahraga.


"Justru aku akan marah jika kau menahan pertanyaanmu itu di sini," ucap Ken menunjuk dada Rara.


"Kata orang ketika suami istri bercinta harus bisa saling memuaskan. Aku... Aku ingin tanya apa aku sudah cukup untukmu? Maksudku apa aku bisa memuaskan mu?" tanya Rara dengan malu-malu. Walaupun Ken selalu memuji tubuhnya, mengatakan bahwa tubuhnya begitu indah dan semua yang Rara miliki di tubuhnya mampu memuaskan Ken dan membuat pria itu tergila-gila tetap saja Rara ingin mendengar pengakuan.


"Dasar gadis bodoh!" ucap Ken menarik ujung hidung Rara.


"Buang pikiran buruk mu tentang apakah dirimu bisa memuaskan ku atau tidak. Harusnya pertanyaan itu sudah terjawab ketika aku terus-menerus ingin bercinta dengan mu. Kau begitu lezat, bahkan setelah pertempuran kita tadi, aku masih ingin melakukannya lagi. Apa menurutmu kau tidak bisa memuaskan ku? Kamu membuatku kecanduan, Ra!"


Jawaban Ken sudah lebih daripada cukup untuk Rara. Kini dia sudah tenang, tinggal memikirkan bagaimana agar dia bisa lebih pintar dalam memuaskan Ken di atas ranjang.


Perkataan Mbak Ayu ada benarnya juga, lebih baik menjadi pelacur suami sendiri agar tidak mencari kesenangan pada pelacur yang ada di luar sana.


Ken kembali mengeratkan pelukannya, mencium kening lalu telinga gadis itu. Namun, seketika keningnya berkerut ketika melihat kegelisahan wajah Rara, masih ada beban pikiran gadis itu yang belum dia ceritakan.


"Ra, suami istri itu harus saling memahami, harus saling terbuka kalau memang ada beban pikiranmu atau yang mengganjal di hatimu kau harus menceritakannya kepadaku. Aku tidak akan bisa mengetahui apa yang kau inginkan jika kau tidak mengatakannya. Setidaknya biarkan aku berusaha untuk bisa melakukan hal yang kau sukai dan mengabulkan semua keinginan mu," ucap Ken memutar tubuh Rara agar bisa menghadapnya.


Rara tidak tahan dengan tatapan Ken yang begitu intens kepadanya. Dia tidak bisa mengelak kali ini. Kalaupun dia tidak mengatakan yang sebenarnya Ken akan terus menggali hingga sampai menemukan kebenarannya.


"Mas, aku takut, kalau ternyata aku nantinya tidak bisa memberikan mu keturunan, apakah kau akan menceraikanku? Apa ayah dan ibu akan membenciku?" tanya Rara dengan suara serak, dia hampir menangis hanya dengan memikirkan hal itu.


Kehilangan perhatian dan kasih sayang yang selama ini diberikan kepadanya pasti akan menghancurkan hidupnya. Dia tidak akan sanggup jika menerima amarah dari Susanti kalau sampai dia tidak bisa memberikan mereka cucu.


"Dasar bodoh! Kenapa kau berpikiran aneh sejak tadi? Siapa yang merusak pikiranmu ini?" ucap Ken tersenyum dan memijit kening Rara seolah dengan begitu bisa membuat pikiran buruk yang sempat bersarang di dalam benarnya hilang. Dia tidak suka melihat gadisnya murung, terbebani dengan pemikiran yang belum tentu kebenarannya.


"Aku serius, Mas. Aku takut, bagaimana kalau aku tidak sempurna? Bagaimana kalau aku tidak bisa hamil?" kali ini Rara tidak bisa menahan air matanya yang jatuh begitu saja di pipi.


Ken menyadari bahwa tampaknya pembahasan ini cukup berat. Dia melerai pelukan mereka, lalu duduk bersila dan Rara pun mengikuti apa yang dilakukan Ken. Gadis itu harus menjepit selimut di ketiaknya agar tidak terjatuh dan mempertontonkan dada sensualnya yang selalu menarik perhatian Ken.


"Dengar, aku mencintaimu apa adanya. Aku menginginkanmu berada di sisiku, berada dalam hidupku, berbagi waktu dan kebersamaan sepanjang sisa hidupku. Aku ingin kau yang terakhir dalam hidupku. Tujuanku menikahimu karena ingin mengikat dan memilikimu hanya untuk diriku dan kalau Tuhan memberikan anak dalam keluarga kita, itu adalah bonus dan anugerah terindah, tapi kalaupun tidak, kau sudah cukup menjadi anugerah lain yang diberikan Tuhan kepadaku. Jadi, jangan pernah berpikiran kalau aku akan meninggalkanmu jika nasib kita memang tidak dikaruniai anak oleh Yang Maha Kuasa," ucap Ken, membelai puncak kepala Rara, menghapus jejak air mata yang terus mengalir di pipi gadis itu.


"Lalu, ayah dan ibu? Kau tahu sendiri kalau Ibu sudah menantikan lama seorang cucu di keluarga ini. Aku masih ingat bagaimana perkataan ibu terhadap Tamara, bahkan sampai mengancam ingin memisahkan Tamara darimu. Bagaimana kalau hal itu sampai terjadi padaku juga? Bagaimana kalau ibu memintaku untuk meninggalkanmu?" lanjut Rara di tengah isak tangisnya.


"Itu tidak akan terjadi. Aku akan memberikan pengertian kepada ayah dan ibu. Aku menyayangi mereka dan menghormati selayaknya anak pada orang tua, tapi ketika aku sudah menikah dan mengambil mu menjadi istriku, ke adalah tanggung jawabku. Apapun kekuranganmu adalah kekuranganku juga. Aku akan menjelaskan kepada mereka, tapi kalau mereka tidak bisa menerima, maka aku tidak punya pilihan lain selain pergi membawamu dari sini," jawab Ken dengan tegas.


Perasaan Rara melambung, tidak ada yang bisa dia katakan lagi. Begitu terharu dan bahagia mendengar jawaban Ken. Dia tidak peduli kalau kain yang menutupi dadanya tadi akan jatuh, buru-buru Rara lari dalam pelukan Ken, memeluk pria itu dengan erat dan menangis tersedu.


Ken tahu tangisan itu merupakan perwujudan rasa haru Rara, maka pria itu mengeratkan pelukannya, membelai puncak kepala gadis itu dan berbisik dengan merdu.


"Jangan menangis lagi tuan putri, aku ada di sini dan akan selalu ada untukmu."


***


Waktu berjalan cepat, pernikahan Ken dan Rara sudah setahun lebih, namun tanda-tanda kehamilan belum datang menghampiri Rara.


Walau tidak mengatakan apapun, tapi Rara tahu Susanti sudah mulai gelisah melihat keadaan dirinya yang tidak kunjung hamil. Wanita itu bahkan sudah melampaui batasnya, menahan lidah untuk tidak bertanya hal yang lebih sensitif kepada Rara.


"Ra, apa belum ada tanda-tanda kalau kamu ngisi?" tanya Susanti hari itu saat mereka berdua sibuk di dapur untuk membuatkan kue ulang tahun untuk Damian.


"Maaf, Bu, belum," jawab Rara singkat.


"Jamu dan obat yang Ibu berikan masih rutin kamu minum?" lanjut Susanti yang penasaran, mengapa ramuan itu tidak ampuh, padahal anak temannya, dalam tempo satu bulan mengkonsumsi obat itu sudah langsung bisa terlihat hasilnya.


Sejak pembahasan mengenai kehamilan itu ada jarak diantara mereka, tidak seperti dulu sering tertawa dan menghabiskan waktu bersama baik di dapur atau di kebun.


Rara lebih sering menghindar agar Susanti tidak mempertanyakan lagi soal kehamilannya.


Tanpa sepengetahuan Ken, Rara sudah pergi menemui seorang dokter spesialis kandungan untuk memeriksa apakah ada masalah dalam kandungannya.


Setidaknya Rara bisa bernapas dengan lega karena hasil USG menyatakan tidak ada masalah dan Rara bisa hamil. Mungkin alasan mengapa sampai saat ini mereka belum mendapatkan seorang anak karena yang Maha Kuasa belum mempercayakan kepada mereka.


"Ibu harus sabar. Satu tahun masih belum perlu terlalu dirisaukan. Percaya saja kalau pola makan ibu sehat dan rajin minum vitamin penyubur kandungan, saya yakin suatu hari ibu akan bisa hamil," ucap dokter itu.


"Terima kasih banyak, Dokter," ucap Rara dengan perasaan lega dan pamit undur diri. Dia segera pergi ke apotek rumah sakit untuk menebus resep obat yang diberikan dokter kandungan itu kepadanya.