Scandal With Maid

Scandal With Maid
Hamil



"Aku ingin melanjutkan kuliahku," ucap Rara memulai pembicaraan mereka setelah sampai di warung bakso yang kini menjadi tempat favorit mereka.


Ken menoleh dengan menopang dagu, menatap Rara dengan tatapan terpukau. Satu hal baru lagi yang dia ketahui tentang gadis itu. "Kau seorang mahasiswi?"


Mendengar pertanyaan Ken yang terkejut, membaut Rara tersenyum. Dia jadi malu, bukan bermaksud untuk membanggakan diri.


Rara hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu.


"Jurusan apa, Ra?"


"Management, Mas. Tapi ya itu, Nona Tamara ngizinin gak, ya?" Kalau jadi kuliah, berarti cuma bisa kerja pagi-pagi sekali dan sore aja," jawab Rara jadi hopeless. Apa mungkin ada majikan yang mau memperkejakan pelayan yang tidak bisa full time.


"Bisa. Nanti aku ngomong sama dia. Kamu harus lanjut kuliah mu. Kamu pintar, jangan sampai putus di tengah jalan. Sayang, kalau kamu butuh sesuatu, baik itu uang kuliah atau keperluan lainnya, kamu ngomong ya, sama aku, jangan sungkan." Ken mengambil tangan Rara dan menggenggam erat. Menautkan jemari mereka lalu mencium punggung tangannya.


***


"Kalian darimana? Kenapa pulang bersamaan lagi?" pekik Tamara yang menunggu di teras rumah. Satu jam lalu dia tiba di rumah dan mendapati kalau rumah itu sudah kosong.


Wajah Rara pias. Ini salah Ken. Setelah makan bakso, Rara sudah bilang gak usah singgah ke kontrakan mereka, tapi Ken yang baru mendengar penjelasan dari Rara mengenai asal usul Miko, merasa perlu memberikan sesuatu pada anak itu.


Saat malam bersejarah itu, Ken sudah tahu Rara bukan ibu Miko, tapi baru tadi 'lah Rara memberitahu siapa ayah dan ibu Miko. Mereka membeli banyak mainan dan keperluan sekolah, mengantarnya ke kontrakan.


Tentu saja Ken diminta tinggal di dalam mobil saja. Rara tidak ingin menimbulkan banyak tanya dari Sari yang jujur saja belum bisa dijawabnya saat ini.


"Kamu kenapa, sih? Kalimat kamu seolah curiga sama ku!" ucap Ken memicingkan mata. Rara hanya bisa terdiam. Dia merasa bersalah lagi, walau tadi Ken sudah bilang kalau harus membuang perasaan bersalah itu, karena cinta mereka tulus.


Mungkin jalannya salah, tapi bisa saja Tamara juga melakukan hal yang sama. "Aku yakin, dia punya selingkuhan. Hati kecilku mengatakan hal itu. Aku juga pernah membaca pesan di ponselnya dari seorang pria, pesan mesra bak sepasang kekasih. Aku sempat menanyakan hal itu, tapi Tamara bilang, itu hanya kru film yang biasa memanggil sayang padanya di lokasi syuting. Tapi tetap saja, hatiku bilang dia bohong," tukas Ken tadi, memohon agar Rara jangan merasa bersalah karena hubungan mereka.


"Terus apa lagi alasan kalian bisa pulang bareng? Ini sudah kali kedua!" bentak Tamara. Dia ingat harus bersikap lembut dan menjadi korban dari setiap pertengkaran mereka hingga Ken merasa bersalah, buru-buru dia duduk di kursi lalu menangis terisak.


"Aku terlalu mencintaimu, Mas. Aku takut kehilangan mu. Salahkah aku yang menaruh curiga? Ini sudah kali kedua kalian pulang bersama," ucapnya mulai terisak.


Ken melemah. Dia merasa bersalah kini. Dugaan Tamara benar, mereka baru jalan bersama. Ah, berat menjalani skandal ini!


"Maafkan saya, Nona. Saya kebetulan bertemu di depan rumah Bu RT," jawab Rara berusaha tenang.


"Memangnya ada apa di sana? Kamu ngerumpi lagi ya? Kamu ini kerja gak becus, kalau memang udah gak niat kerja, bilang aja!" hardik Tamara mengangkat wajahnya. Air mata sudah memenuhi pipinya.


"Bukan begitu, Non. Tadi saya dan Markonah, menjenguk Ijah, pelayannya Bu Yeyet, sedang sakit di klinik, jadi perginya bareng," jawab Rara mencari alasan. Dia yakin, kalau Tamara tidak mungkin akan menanyai Markonah.


"Sudah 'lah, jangan urusi Rara, yang penting dia sudah mengerjakan tugasnya," ucap Ken. Tamara mengangguk. Dia mengalah, agar Ken melihat sisi lembut dan pemaafnya.


"Gendong aku, Mas," ucap Tamara tersenyum. Membuat nada suaranya manja.


"Aku capek, Tam," tolak Ken, tapi Tamara sudah mengalungkan lengannya di leher Ken.


"Apa yang kau lihat lagi? Segera siapkan makan malam!" perintah Tamara menoleh pada Rara yang tertangkap basah melihat mereka.


***


Waktu berlalu, Dua bulan sudah Ijah tinggal di kontrakan Sari. Dia bekerja membantu Sari berjualan sarapan di depan kontrakan mereka sembari menunggu mendapatkan pekerjaan baru.


Markonah bilang, ada keluarga yang memerlukan pelayan. Awalnya ditawarkan pada Sari, karena sudah lama wanita itu mencari pekerjaan, tapi karena sudah terlalu lama menunggu dan membuka warung makan, akhirnya Sari memutuskan untuk membuka usaha sendiri saja, walau untuknya kecil, tapi dia nyaman melakukannya, tidak ada tekanan dari majikan, hingga Markonah menawarkan pekerjaan itu pada Ijah.


"Besok Kau sudah mulai bisa bekerja," ucap Markonah yang kali ini berkumpul di kontrak Sari.


"Tapi ingat, Jah, jangan terlalu lelah. Saat ini kau sedang hamil," ucap Rara mengelus perut Ijah.


"Iya, Ra. Makasih. Kamu sendiri, jadi dari kampus?" lanjut Ijah. Semua orang kini melihat ke arah Rara, menunggu jawaban. Sejak bulan lalu Rara mengatakan niatnya mau kuliah, beruntung setelah dibicarakan oleh Ken pada istrinya, Tamara mengizinkan Rara untuk kuliah lagi, dengan catatan tidak ada waktu santai, pulang kuliah harus kembali bekerja, dan Minggu juga harus masuk kerja.


Rara menyanggupi, apapun akan dia lakukan asal bisa melanjutkan kuliahnya.


"Bulan depan aku mulai masuk kuliah lagi. Berkas sudah aku urus, dan uang kuliah juga udah aku bayar," jawab nya tersenyum.


"Mbak ikut senang dengarnya, Ra," ucap Sari bangkit memeluk adiknya dan yang lain ikut memeluk Rara juga.


Sudah pukul tiga sore, Rara, Markonah, Munaroh dan Wati pamit untuk pulang ke rumah majikan mereka masing-masing.


Sepanjang jalan, Rara yang kini sudah berjalan sendiri karena memang rumah majikannya yang paling ujung, memikirkan beratap hidupnya kini banyak berubah, terlebih setelah mengenal Ken.


Semua yang dilakukan pria itu, mulai membantunya meminta izin pada Tamara, memasukkan Miko ke sekolah dasar membuat Rara semakin menyimpan perasaan yang besar pada pria itu. Ya, kini dia sangat yakin kalau dia mencintai Ken.


Entah 'lah, sampai kapan mereka akan sanggup berhubungan seperti ini, tapi untuk berpisah pun Rara sangat takut.


Rumah masih gelap, pertanda Tamara belum pulang. Bergegas Rara memasak makan malam. Tepat pukul lima sore, Tamara pulang.


Ada yang berbeda dengan wajahnya, terlihat binar gembira. "Mungkin dapat job baru," batin Rara saat berpapasan dengan Tamara saat menaiki anak tangga.


Selang setengah jam, Ken pulang. Rara yang membukakan pintu. Ken tersenyum lembut padanya, mengucapkan kata i love you, tanpa suara, hanya gerakan bibir, tapi bisa sampai ke dasar hati Rara. Gadis itu membalas dengan senyuman dan tertunduk malu.


"Kau sudah pulang, Sayang?" sapa Tamara menuruni anak tangga dengan cepat, lalu menghambur dalam pelukan Ken, menangkup wajah Ken dengan kedua tangan nya dan mendaratkan cium yang cukup lama di bibir pria itu.


"I got good news! Aku hamil, Ken!"


*


*


*


Waduh, Tamara hamil? Benar gak ya gais? Btw mampir yuk