
"Aku ingin mengenalkan mu dengan orang tuaku," ucap Erlang menggenggam tangan Rara erat. Keduanya memilih duduk di sudut kantin tempat biasa mereka makan siang. Hari ini Rara hanya mengikuti dua mata kuliah, jadi selepas ini, dia bisa pulang.
Rara diam seribu bahasa. Apa yang harus dia katakan pada Erlang. Dia menyetujui bertemu dengan pria itu sehabis kelas justru ingin mengatakan niatnya untuk berpisah.
Dia sudah mencoba selama satu bulan bersama Erlang namun, perasaan itu tidak berubah, hanya menganggapnya sebagai sahabat, sementara di sisi lain cintanya kepada Ken semakin besar.
"U-untuk apa?" tanya Rara mengutuk kebodohannya. Mengapa bertanya lagi, tentu saja Erlang ingin lebih serius padanya.
"Aku ingin ayah dan ibuku mengenalmu dan memberi restu. Dengar, Ra," ujar Erlang menyerongkan duduknya. "Aku tahu kita baru pacaran, dan masih harus mengenal satu dengan yang lain lebih lama, tapi aku ingin serius, aku ingin menikahimu," lanjut Erlang.
"Hah? Menikah?" Bola mata Rara membulat. Mereka bahkan baru sebulan pacaran, udah ngajak nikah.
"I-ya, gak papa, kan?"
"Gak papa, sih, cuma kita kan baru sebulan pacarannya," jawab Rara dengan suara lemah.
Akhirnya sampai dua jam ngobrol, Rara tidak jadi mengatakan niatnya untuk putus dari Erlang. Dia bukan mau mempermainkan pria itu, cuma tidak tega kalau merusak kegembiraan Erlang saat ini, biarlah dia menunggu beberapa saat lagi.
Namun, sejujurnya, dia ingin putus dari Erlang bukan karena Ken, dia juga tahu kalau hubungannya dengan Ken tidak punya ujungnya.
"Pikirkan permintaan ku tadi. Aku tunggu jawaban dari mu," ucap Erlang menahan tangan Rara yang ingin membuka mobil.
Erlang selalu mengantarnya pulang kuliah. Sering Erlang mengajaknya jalan, nonton bahkan ingin membelikan barang-barang yang disukai para gadis, tapi Rara selalu menolak dengan alasan harus bekerja.
Rara mengangguk, lalu bergegas ke luar dari dalam mobil. Setelah Erlang berlalu barulah dia masuk ke dalam rumah.
"Enak benar ya, baru pulang udah jam segini?" hardik Ken yang memang melihat Erlang mengantar Rara pulang, belum lagi cara pria itu yang bersikap lembut pada Rara.
"Apaan, sih! Kenapa kamu ada di sini?" tanya Rara balik bertanya. Dia belum memaafkan pria itu karena perbuatannya tempo hari setelah mengantarnya pulang. Belum memaafkan karena sudah mengajaknya pergi setelah disuruh Susanti mengantarnya pulang, Ken malah mencuri cium saat mereka tiba di depan kontrakan Sari.
"Memangnya kenapa?"
Rara mengamati penampilan Ken, tampaknya pria itu baru bangun. Apa dia tidur di sini kemarin malam? Ada apa ini? Kenapa dia tidak pulang ke rumahnya?
"Gak kenapa," jawab Rara mengakhiri tanda tanya di benaknya, lalu melangkah pergi menuju kamarnya.
"Aku belum selesai bicara!" Ken sudah memegang tangan gadis itu, hingga langkahnya terhenti.
"Apa ada perintah, tuan? Eh, tapi seharusnya aku gak perlu mendapatkan perintah dari mu, karena kamu bukan majikanku," jawab Rara cuek.
"Ini rumah orang tuaku. Apa kau pikir seluruh hartanya akan jatuh ke panti asuhan? Ingat nona, hanya aku anak mereka. Artinya semua yang ada di rumah ini akan jadi milikku, termasuk kau, Sayang," ucapnya tersenyum menyeringai.
Rara menyentak tangannya lalu pergi meninggalkan Ken. Namun, pria itu tidak menyerah, mengikuti Rara hingga ke kamar.
"Apa yang kau lakukan? Ngapain di sini?" pekik Rara terkejut, saat berbalik menutup pintu, Ken sudah ada di depannya.
"Kau sudah bilang putus padanya?" tanya Ken terus melangkah masuk hingga Rara mundur teratur.
"Hah?"
"Jangan asal ngomong. Erlang pria baik, bahkan memperlakukan wanita sangat lembut," ucap Rara menyindir Ken yang suka bertindak sesukanya pada Rara, memaksa kehendaknya dan suka mengambil keputusan sepihak.
Ego Ken sebagai lelaki terluka, dia menerobos masuk lebih ke dalam ruangan itu hingga tubuh Rara terbentur tembok dan dengan cepat Ken mengunci gadis itu dengan menutup ruang geraknya.
"Aku udah bilang, putuskan dia. Kau hanya milikku. Bagian mana yang gak kau pahami?"
"Gak bisa gitu dong. Kamu gak bisa maksa kehendak mu pada orang lain!" protes Rara. "Lagi pula sejak kapan aku jadi milikmu?"
Kalimat Rara yang terakhir jelas membuat Ken kesal. Gadis itu kembali tarik ulur omongannya. Bukankah sudah sering Ken mengatakan perasaannya pada Rara?
"Jadi kau belum putus dengannya?"
"Belum!"
Wajah Ken semakin dekat, membuat Rara semakin terpojok. Untuk mendorong ke belakang tidak bisa karena sudah mentok dengan tembok. Embusan napas wangi mint itu, begitu segar menyapu wajah Rara hingga membuat tengkuknya meremang. Mereka terlalu dekat bahkan sangat dekat, ujung hidung keduanya hampir bersentuhan kalau salah atau dari mereka bergerak.
"Aku minta segera putus dengannya, atau..."
"Atau apa?" tantang Rara dengan pelan. Degup jantungnya benar-benar gak karuan saat ini.
"Ra, Rara... Kau sudah pulang?" teriak Susanti dari luar kamar.
"I-tu... Itu ibumu, bagaimana ini?" tanya Rara panik. habislah dia kali ini bagaimana kalau mertuanya menemukan mereka berada di kamar ini. cukup sudah tak marah mencapnya sebagai pelakor jangan sampai Susanti juga membenarkan karena mendapati mereka berdua.
"Biarin aja, sekalian Ibu menangkap basah kita, paling juga nanti dinikahi, dari pada berbuat zinah," jawab Ken cuek, tapi tetap memelankan suaranya.
Ken harus menggigit bibirnya, karena Rara baru saja mencubit pinggangnya atas balasan dari ucapannya barusan.
"Ra... Kau di dalam? Kata pak Min kamu udah pulang," kembali Susanti memanggil, kali ini sekalian mengetuk pintu kamarnya.
Ken yang lagi lengah, akhirnya bisa di dorong oleh Rara. Gadis itu merapikan pakaiannya, lalu membuka pintu.
"Maaf, Nyonya. Tadi lagi di kamar mandi," jawabnya gelagapan.
"Oh, aku ingin mengajakmu belanja ke supermarket, persediaan menu makanan bapak sudah habis," ucap Susanti tersenyum. Belakangan ini dia semakin baik pada Rara, terlebih setelah dua hari lalu Ken mengatakan bahwa dia sangat mencintai Rara.
Perbuatan mereka kala itu memang salah. Dia mabuk hingga melakukannya dengan gadis itu. Namun, berjalannya waktu, Ken menyadari kalau dia sudah jatuh cinta pada Rara, dan ingin serius terhadap gadis itu.
Awalnya Susanti tentu saja tidak menyetujui niat putranya yang ingin mempersunting Rara, terlebih urusan perceraian dengan Tamara juga belum selesai namun, setelah mereka selesai rapat keluarga, lalu saat sebelum tidur, Damian mengatakan bahwa mereka tidak perlu ikut campur dengan urusan putranya. Kalaupun memang Ken memilih untuk hidup bersama Rara maka tugas mereka hanya bisa mendoakan agar keduanya berbahagia.
Susanti tidak mempermasalahkan status Rara yang seorang pelayan. Setelah bekerja di rumah mereka, Susanti bisa melihat watak Rara. Sesungguhnya gadis itu baik, cerdas dan juga berhati lembut, bahkan saat mengurus suaminya yang sedang sakit, Rara melakukannya dengan tulus bukan seperti pelayan sebelumnya yang merasa jijik merawat Damian.
"Baik, Nyonya," ucapnya masih dengan keringat dingin.
"Ibu, biar aku mengantar kalian," ucap Ken keluar dari persembunyiannya.