Scandal With Maid

Scandal With Maid
Kesepian



"Kau sudah pulang, Sayang?" Sambut Tamara saat kepulangan Ken. Tidak seperti biasanya, wanita itu tampak gugup, sembari melirik ke arah Rara yang saat itu membukakan pintu bagi Ken. Jelas terlihat ketakutan di mata wanita itu. Sejurus dia memberikan peringatan dari tatapan matanya.


"Kau gak ada kegiatan hari ini?" Ken membalas dengan pertanyaan, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa wajah pria itu begitu gembira melihat istrinya datang menyongsong kepulangannya. Biasanya saat dia pulang dari luar kota atau luar negeri, dia akan mendapati rumah kosong atau tidak, hanya dijaga oleh pembantu.


Rumah tangga mereka memang sudah lama menjadi dingin, tidak seperti dulu lagi ketika mereka memutuskan untuk menikah. Awalnya kehidupan rumah tangga mereka sangat bahagia penuh dengan cinta dan juga perhatian namun, setelah tahun pertama berlalu semuanya tampak berubah. Tamara sudah lebih sibuk dengan segala urusannya, mulai mengabaikan dirinya.


Pada awalnya dialah yang menyiapkan pakaian untuk dikenakan oleh Ken ke kantor, kini pria itu harus mengambil sendiri pakaiannya dari lemari, sementara istrinya yang saat itu, kadang tidak ada di rumah karena ada panggilan syuting ataupun kalau dia di rumah memilih untuk tidur daripada melayani dan mempersiapkan kebutuhan Ken untuk berangkat kerja.


Namun, semua itu dengan ikhlas dia lalui. Ken mengerti bahwa Tamara juga pasti ingin mengembangkan kemampuannya serta mengisi hari-harinya dengan aktivitas yang dia sukai, walaupun sepeserpun dari hasil jerih payah Tamara tidak pernah dipertanyakan olehnya, bahkan setiap bulannya, Ken selalu mentransfer uang ke rekening Tamara untuk kebutuhan gadis itu sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai suami, walaupun kenyataannya Tamara sudah melupakan kewajibannya sebagai istri.


"Anda buat saya terkejut, Nona," ucap Rara saat dia berbalik setelah menata menu makan malam di meja. Tamara sudah berdiri di belakangnya dan mengejutkan gadis itu.


Tamara lalu memegang pergelangan tangan Rara, menarik gadis itu menjauh, memilih kamar Rara yang memang tidak jauh dari arah dapur, tepatnya berada di belakang dapur mereka, di sana lebih aman menurut Tamara jika ingin memberikan peringatan pada Rara.


"Jangan lupakan janjimu! Kau harus ingat, jangan mengatakan apapun kepada suamiku. Aku mohon, aku tidak ingin rumah tanggaku hancur. Aku sangat mencintai Ken," ucapnya dengan ada berbisik.


Walaupun saat ini Ken tidak mungkin mendengar pembicaraan mereka karena dia sudah memastikan Ken sedang berada di kamar mandi ketika dia turun untuk menemui Rara.


Biasanya kalau mandi pria itu suka lama jadi cukup bagi Tamara untuk mengingatkan kembali pelayannya itu untuk mengunci mulutnya.


"Nona tenang saja. Aku 'kan sudah bilang kalau aku tidak akan mengatakan apapun pada tuan, tapi lucu rasanya Nona mengatakan bahwa Anda sangat mencintai Tuan Ken, tapi Nona bisa tidur dengan pria lain," jawab Rara dengan berani. Wajahnya menatap jijik ke arah Tamara namun, hanya sekilas karena dia masih menghormati Tamara sebagai majikannya.


Sial bagi Tamara karena mendapatkan pelayan seperti Rara, gadis tegas dan juga penuh keberanian. Saat kuliah saja dia ikut organisasi kemahasiswaan yang aktif di kampus menyuarakan aspirasi mahasiswa, bahkan kalau ada kegiatan turun ke jalan, dia juga ikut serta.


Pengalaman pernah dikhianati oleh ibunya membuat Tamara memandang rendah siapa saja yang sudah berkhianat.


"Aku nggak bisa menjelaskan hal itu kepadamu sekarang yang pasti walaupun aku tidur dengan pria lain hatiku tetap hanya untuk suamiku."


Saat mereka berbicara, sayup-sayup terdengar langkah suara yang diseret yang menuruni anak tangga. Bergegas Tamara segera meninggalkan Rara setelah menutup dengan kalimat penegasan.


"Ingat, jangan katakan pada Ken!"


***


"Kau sedang sibuk?" Suara bariton Ken mengejutkan Rara yang saat itu sedang mengoleskan minyak ke perut Miko. Anak itu tadi sudah tertidur, tapi terbangun kembali karena perutnya sakit. Mungkin karena tadi siang dia banyak jajan diberikan oleh Bude Yati.


Jarak perumahan lama mereka dengan kawasan elit ini tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan berjalan kaki 20 menit, jadi setiap hari Miko yang sudah terbiasa bermain bersama temannya di sana, selalu minta Rara untuk mengantarnya.


"Apa kau lihat kotak p3k?"


"Anda terluka?" tanya Rara menyelimuti Miko, lalu segera menemui Ken yang sejak tadi berdiri diambang pintu kamarnya.


"Bukan hal besar. Hanya terluka ketika membenarkan keran air di kamar mandi," jawab Ken dingin, mengalihkan pandangannya dari wajah Rara. Dia tidak ingin dianggap tidak sopan karena sudah memandangi terlalu dekat.


"Astaga, itu bukan sedikit, lidah darahnya masih mengalir!" Pekik Dara masuk kembali ke kamar. Dia ingat kemarin meminjam kotak itu dan membawa ke kamarnya. Tak lama dia kembali, lalu tanpa pikir panjang, Rara segera menarik pergelangan tangan Ken, memintanya untuk duduk di kursi yang ada di kamarnya, lalu dengan telaten membersihkan luka itu.


Selama proses itu, Ken yang juga tidak kalah terkejutnya, tapi dia tidak menolak, ikut melangkah masuk dan duduk. Mengamati wajah Rara yang terlihat sedikit panik, lalu menyaksikan betapa cekatan gadis itu mengobati lukanya.


"Kulitnya sampe terkelupas begini. Kenapa Tuan gak hati-hati?" ucapnya setelah mengikat simpul perban. "Sudah."


"Te-terima kasih," jawabnya kikuk. Seketika suasana jadi hening dan kaku. Rara menunduk. Kini dia baru menyadari bahwa mereka saat ini berada dalam kamarnya. Memang bukan berdua, ada Miko tapi kan Miko tidur dan juga masih anak kecil. Seandainya Tamara memergoki mereka berada di sana, pasti akan sangat berbahaya dan pikiran wanita itu pasti sudah menuduh mereka melakukan yang enggak-enggak.


Ken akhirnya bangkit berdiri meninggalkan kamar itu dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Sentuhan kecil itu nyatanya membuat dirinya begitu nyaman dan merasa diperhatikan. Seharusnya istrinya 'lah yang melakukan hal itu kepadanya namun, sudah pukul 10 malam dan Tamara belum juga pulang, dan kemungkinan malam ini wanita itu pasti tidak pulang lagi.


Sejak kejadian itu, Ken sering menyapa Rara. Bahkan tidak jarang mengajak gadis itu mengobrol. Setidaknya rasa kesepiannya selama ini sedikit berkurang karena kehadiran Rara yang sudi menemaninya berbincang dan yang membuat Ken semakin takjub kepada gadis itu, Rara memiliki wawasan yang sangat luas dan selalu nyambung ketika diajak bicara. Seperti sore itu dia melihat Rara yang duduk di meja makan dapur dengan menopang dagu, tampak keningnya berkerut yang Ken tebak sedang memikirkan sesuatu hal yang mengganggu pikirannya.


"Apa ada masalah? Aku perhatikan seminggu ini kau terlihat murung. Kalau kau punya masalah dan aku bisa membantu, katakan saja. Aku akan coba membantu," ucapnya sembari berjalan melewati Rara menuju kulkas dan mengambil air dingin dari dalam menuang ke dalam gelas dan masih tetap berdiri di sana mengamati Rara yang menoleh ke arahnya.


Pada awalnya Rara tidak ingin mengatakan apapun yang kini sedang mengusik pikirannya. Namun, tiba-tiba saja pemikiran tentang Ken mungkin bisa membantu membuatnya antusias dan melengkungkan senyum pada pria itu.


"Apakah Tuan mengenal seorang pengacara yang bisa membantuku?"


*


*


*


Mampir gais