Scandal With Maid

Scandal With Maid
Menyusun Rencana



"Ada apa, Beb? Tumben kau datang sepagi ini? Padahal kita gak ada janji ketemu," ucap Jhon ketika mendapati Tamara berdiri di depan pintu apartemennya. Padahal tadi malam dia mengajak Tamara bertemu di klub tempat mereka bisa berkumpul dengan teman artis mereka.


Tamara tidak berniat untuk memberi jawaban atas pertanyaan Jhon, memilih melewati pria itu dan masuk ke dalam.


Bukan dengan keputusan berat dia datang ke sini. Semua telah dipikirkan dan akhirnya Tamara memutuskan bahwa hanya ini jalan yang dia punya.


Setelah pertengkaran tadi malam bersama Ken, Tamara sadar bahwa dia sudah tidak punya kesempatan. Semua sudah berubah, dunianya tidak sama lagi. Selama ini dia pegang kendali atas diri Ken, tapi malam itu, sikap dan penolakan Ken membuatnya sadar, kalau posisinya sudah berada di ujung tanduk.


Tidak ada yang terjadi malam itu diantara mereka berdua. Pertengkaran mereka semakin menjadi-jadi. Tamara sudah memohon, bahkan sampai mengancam Ken agar mau bercinta dengannya, tapi pria itu tetap pada pendiriannya, menolak.


"Maafkan aku, Tam. Kepalaku sakit, dan aku sungguh tidak bisa melakukannya malam ini," ucap Ken masih memandangi minuman dalam gelasnya. Kepalanya semakin berputar dan merasa tubuhnya melayang.


"Tapi aku mau sekarang! Aku menuntut hakku!" Seru Tamara tidak terima. Terdengar tawa pelan dari mulut Ken. Hatinya rasanya tergelitik mendengar penuturan istrinya itu. Menuntut hak katanya? Kemana saja dia selama ini? Tamara hanya mau melakukan kewajiban selama satu tahun pernikahan mereka. Memasuki tahun kedua, wanita sudah ogah-ogahan melayani Ken, bahkan kadang kala, saat kebutuhan pria itu sudah sangat mendesak, Ken tidak segan-segan memohon pada Tamara, bahkan tak jarang harus memberikan imbalan pada wanita itu.


"Kenapa kau tertawa?"


"Tidak. Aku merasa tergelitik. Teringat saat aku di posisimu saat ini, memohon belas kasihmu, tapi kau mengabaikan ku!" sambar Ken menatap Tamara dengan mata sayunya. Dia masih belum mau beranjak ke kamar, memenuhi ajakan Tamara.


"Jadi, kau ingin balas dendam, begitu?"


"Bukan. Mana mungkin aku melakukan hal sekeji itu. Hanya saja, Tam, aku gak ingin melakukannya malam ini. Hanya itu!"


Tamara merasa kurang puas, bahkan merasa terhina dengan penolakan Ken. Seumur mengenal Ken, baru kali ini dia menolak ajakan pria itu.


Tamara tidak habis pikir. Seolah semesta sedang mempermainkannya. Dulu, kala dia tidak ingin hamil, setiap malam Ken memohon untuk bercinta dengannya, tapi kini, setelah dia mengambil keputusan bulan untuk hamil, justru suaminya yang tidak mau menggaulinya.


"Aku gak mau tahu, Ken. Aku ingin bercinta dengan mu malam ini!" Paksa Tamara, mendekat menjatuhkan tubuhnya pada pelukan pria itu. Ancaman mertuanya membuat Tamara merasa frustrasi, dan satu hal yang pasti dia tidak mau kehilangan Ken. Jadi, apa pun alasannya, dia harus melakukan apapun yang diminta mertuanya, agar posisinya aman.


"Maafkan aku, Tam. Aku mohon," ucap Ken, mendorong paska Tamara hingga menjauh dari tubuhnya.


Tamara yang kalut tidak mencoba lagi, melemparkan dirinya pada Ken dengan tatapan memelas, bahkan meneteskan air mata. Ken merasa kasihan padanya, tidak tega. Ingat bukan, kalau Tamara seorang aktris, dia tentu saja tidak susah kalau harus melakoni wanita yang begitu sedih dan merasa terzolimi.


"Kalau pun kau gak mau melakukannya malam ini, temani aku tidur. Antar aku ke kamar," bisik Tamara masih mengalungkan lengannya di leher Tamara.


Ken yang memang tidak sanggup melihat air mata, akhirnya mengalah, menggendong Tamara ke kamar. Keduanya hampir saja jatuh terjerembab di ujung pintu ruang kerja, karena Ken yang berjalan tidak stabil, sempoyongan khas orang mabuk, beruntung masih bisa bertahan hingga Tamara tidak jatuh ke lantai.


Begitu sampai di kamar, Ken membaringkan tubuh Tamara. Lalu ketika ingin berbalik pergi, karena dia memang memutuskan untuk tidur di ruang kerjanya malam ini, kepala Ken yang semakin pusing membuatnya ikut jatuh terjerembab ke atas ranjang.


Tamara mengamati Ken yang sudah jatuh tak sadarkan diri. Banyaknya minuman yang dia habiskan membuat nya jatuh tertidur.


Bergegas dia membenarkan posisi tidur Ken, lalu melucuti semua pakaian yang melekat di tubuh suaminya. Sesudahnya dia menyelimuti tubuh Ken yang sudah tidak mengenakan apapun lagi.


Setelahnya, Tamara juga membuka seluruh pakaiannya, lalu berbaring di samping Ken. Kini Tamara bisa memejamkan mata dengan senyum indah melengkung di bibirnya. Satu masalah sudah teratasi!


"Jangan diam saja, Beb. Jawab dong, kenapa wajahmu ditekuk begitu? Apa suami ke*parat mu itu mengulah lagi? Oh, iya, Beb. Aku butuh duit, gak banyak 100 juta. Kau tahu sendiri tahu kan, kalau saat ini job ku sepi banget," ucap Jhon memilih duduk di samping Tamara.


Gadis yang sejak tadi diam, terus mengamati Jhon. Mencoba menguatkan hatinya, kalau jalan ini 'lah yang harus dia tempuh. Dia tidak punya pilihan lain.


Dia harus bisa memanfaatkan situasi yang ada. Saat Ken terbangun pagi ini, pria itu mendapati dirinya berbaring di ranjang dengan kepala yang rasanya ingin pecah, dan tanpa busana. Seolah itu belum cukup, Tamara memeluknya, dan sama dengan keadaan dirinya, tanpa sehelai benangpun melekat di tubuhnya. Bahkan gadis itu sengaja menurunkan bedcover hingga batas perutnya, mempertontonkan buah pepaya California nya yang begitu besar.


Ken mengalihkan pandangannya, menggerutu dalam hati. Selama hidup bersama Tamara, baru kali ini dia merasa kesal karena mengetahui bahwa malamnya mereka baru bercinta.


"Dasar bajingan kau, Ken! Kau tidak bisa mengendalikan hawa nafsumu. Bukan 'kah dalam hatimu kini hanya ada Rara?" umpatnya memaki dirinya sendiri.


Dia bergegas mendudukkan dirinya, mengusap kasar wajahnya sekaligus mengurut keningnya. Sekali lagi menoleh pada Tamara yang masih menutup mata.


Selama di kamar mandi, tidak henti-hentinya Ken mencoba mengingat peristiwa tadi malam yang dia lalui dengan Tamara. Sisa memorinya hanya menyimpan pertengkaran di antara mereka. Dia ingat kalau istrinya itu memang memintanya untuk bercinta, tapi yang Ken ingat, dia sudah menolaknya. Lantas, betapa bang*satnya dirinya mendapati pagi ini dalam keadaan tidak berbusana dengan Tamara.


Saat turun dan mendapati Rara di meja makan, Ken sudah tidak punya wajah lagi, itu 'lah sebabnya dia hanya menunduk selama sarapan. Ada rasa bersalah di hatinya untuk Rara, seolah dia sudah mengkhianati gadis itu, padahal kalau pun benar Ken bercinta malam itu, dia melakukannya dengan istrinya, bukan? Tidak ada yang salah akan hal itu.


"Aku akan memberikan apapun yang kau minta. Kau butuh 100 juta? Aku akan memberikan 200 juta," ucap Tamara menatap Ben dengan penuh jijik. Sebenarnya sudah lama dia tahu kalau pria itu hanya 'mokondo' doang padanya, tapi dasar Tamara yang hyper, tetap saja mempertahankan Jhon di sisinya.


"Serius, Beb?" tanya Jhon dengan tatapan mata berbinar penuh kebahagiaan.


"Asal kau bisa membuatku hamil!"


*


*


*


Mampir gais