Scandal With Maid

Scandal With Maid
Nge date Dadakan



Ancaman ibu Rangga tentu saja membuat Ijah semakin merasa terpuruk. Kesedihan dan juga ketakutan semakin membelenggu hatinya.


Satu jam yang diberikan Yeyet padanya untuk berkemas digunakan Ijah untuk pergi dari sana, membawa beberapa helai pakaian dalam tas kecilnya.


Mungkin ini yang terbaik, dia pergi dari keluarga itu. Tidak ada yang tahu kepergian Ijah malam itu. Dengan mengendap-endap dia pergi dari pintu samping.


Tempat pertama yang dia tuju sebuah warung bakso yang dia lewati. Perutnya terasa sakit dan dia butuh waktu untuk beristirahat sejenak. Dalam kesendiriannya saat ini yang bisa dilakukan Ijah hanya menangis, menyesali perbuatannya. Cinta dan juga gelora asmara sudah membuatnya tidak berpikir lurus dan juga bisa menahan diri, hingga tidak bisa dihindari jatuh dalam dosa.


Itu lah sebabnya, perlu penguasaan diri. Boleh mencintai seseorang tapi juga harus bisa menjaga harga diri sebagai seorang wanita, terlebih jangan sampai melakukan dosa.


Namun, nasi sudah menjadi bubur. Anak yang ada dalam kandungannya ini tidak bersalah, tapi dia juga bingung harus apa. Mau pulang ke desa, dia takut dengan ayahnya, lagi pula ibu tirinya juga tidak akan menerimanya dengan keadaan seperti ini.


Setelah lama berpikir, Ijah memutuskan untuk mencari klinik yang sempat dia cari di media sosial tempat aborsi bayi. Entah mengapa sejak mengetahui kalau dia hamil, Ijah kepikiran untuk mencari tempat seperti itu.


Tanpa menunggu lagi, Ijah memesan taksi online dan bergegas menuju tempat itu.


***


Melalui lokasi yang dikirimkan Munaroh, mereka bertiga sampai di klinik itu. Tempat yang suram, dan membuat siapapun yang berkunjung bergidik ngeri.


"Apa yang sudah kau lakukan? Apa kau sudah gila?" hardik Markonah saat tiba di ruangan Ijah. Rara menyikut lengan gadis itu, memberikan tatapan mengingatkan kalau saat ini Ijah bukan butuh penghakiman, tapi justru rangkulan yang bisa menenangkan.


"Bagaimana keadaan mu, Jah?" tanya Rara lembut. Dia ikut prihatin. Nasib Ijah hampir saja dia alami. Kalau saat berhubungan dengan Ken waktu itu membuatnya hamil, mungkin saja saat ini dia yang ada di atas ranjang itu.


"Sudah mendingan, Ra. Makasih ya, kalian mau datang. Dan maafkan aku karena gak cerita sama kalian sebelum mengambil ini," ucap Ijah menunduk. Air matanya kembali jatuh.


"Jadi, kau mencoba bunuh diri dengan cara apa?" Sambar Markonah tidak sabar.


"Aborsi!" jawab Munaroh mewakili. Terlihat dia juga kesal pada Ijah.


"Apa?"


"Apa?"


"Apa?"


Ketiga sahabatnya itu sontak kaget dan memekik kaget bersamaan.


"Jadi, bayi mu sudah gak ada lagi?" Tatapan Wati turun ke atas perut Ijah yang masih rata.


"Gak jadi. Niat awalnya begitu," kembali Munaroh yang mewakili.


Terlihat wajah lega pada ketiganya. Raut wajah kesal yang sempat ditunjukkan Markonah tadi akhirnya sirna.


"Jah, mungkin kami tidak bisa banyak membantumu, tapi kami mohon, jangan ambil tindakan berbahaya untuk hidupmu. Kamu yang tabah ya, Jah. Semua pasti ada jalan keluarnya," ucap Rara menepuk lembut lengan Ijah.


Setelahnya Ijah pun bercerita. Semua alat sudah dipersiapkan oleh bidan dan asistennya, tapi entah mengapa di detik terakhir, Ijah seolah tersadarkan, mendapat bisikan agar dia tidak membunuh janin dalam perutnya.


Hingga sore mereka menemani Ijah di klinik. Rara mengusulkan untuk sementara Ijah tinggal di rumah kontrakan mereka bersama Sari. Besok dia akan datang menjemput Ijah, karena hari ini dia harus beristirahat di klinik.


"Kalian pulang lah, aku akan menjaganya. Saat ini majikanku lagi ada di luar negri," ucap Wati yang disetujui oleh yang lain.


Saat mengobrol, ponsel Rara berdering. Wajahnya memucat kala membaca nama si penelpon. "Kenapa gak diangkat?" tanya Markonah menoleh pada Rara.


"Gak penting, dari marketing produk paling, yang nawarkan produk mereka," jawab Rara asal, buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas tangannya.


Kembali ponselnya berdering, dan Markonah yang penasaran mengulurkan tangan ingin mengambil ponsel Rara dari dalam tas. Buru-buru Rara bangkit ke luar kamar untuk menjawab panggilan itu.


"Maaf, lagi bersama teman-teman di klinik."


"Siapa sakit? Kamu baik-baik aja, kan?" Sambar Ken panik.


"Aku baik, Mas. Ijah yang lagi dirawat. Nanti ya aku cerita," jelasnya.


Melihat Markonah datang, buru-buru Rara menutup teleponnya tanpa berpamitan. "Kamu lagi ngobrol sama siapa, sih? Setahuku, kau belum punya pacar," selidik Markonah. Dia kenal betul sahabatnya itu.


"Teman, nanya kapan balik ke kampus. Kamu tahu sendiri, aku cuma mengajukan cuti hanya satu semester, dan sebentar lagi akan berakhir," jawab Rara cepat. Beruntung otaknya encer, jadi cepat mencari jawaban.


"Oh, ya udah kita masuk, pamitan biar pulang," ucap Markonah kembali ke ruangan Ijah.


Saat akan melangkah, satu pesan kembali masuk. Tampaknya Ken mengerti keadaan Rara saat ini, dan mengapa gadis itu segera mematikan teleponnya.


'Aku akan menjemputmu, kirim lokasinya.'


'Gak bisa. Markonah ngajak pulang bareng.'


'Cari aja alasan lain, pokoknya aku mau ketemuan sama kamu. Aku kangen!'


Tanda seru pada akhir kalimat Ken tampaknya berarti tidak ingin adanya penolakan. Memikirkan sikap posesif dan kata rindu yang diucapkan Ken, menghasilkan rona merah di pipinya. Dia juga gak bisa membohongi isi hatinya, kalau dia ingin jalan berdua dengan Ken.


"Kita pulang?" Tanya Markonah bersiap.


"Iya," jawab Rara singkat.


Ketiganya naik taksi online yang Markonah pesan. Di tengah jalan, Rara mengirim pesan, menyampaikan pada Ken untuk bertemu di toko buku yang akan mereka lalui. Toko buku yang jarang dikunjungi.


"Aku turun di toko buku Pintar, ya," pinta Rara mencoba tenang. Markonah selalu berhasil memergokinya kalau sedang berbohong.


"Untuk apa? Ya udah, kita bareng aja turun di sana, kita temani," jawab Markonah yang diangguk Munaroh setuju.


"Eh, gak usah. Kalian pulang aja. Kalau jadi, mau ketemuan sama Ani, teman kuliah ku," jawab Rara melepas senyum.


Rara turun di depan toko buku yang sudah dia sebutkan tadi. Tidak ada bantahan lagi dari kedua temannya, hingga membuatnya lega.


Saat dia masuk ke dalam toko itu, senyum pria yang sangat tampan menyambut kedatangannya. Tanpa malu oleh pemilik toko buku itu, Ken menyongsong dan memeluk tubuh Rara.


"Aku merindukanmu. Ingin sekali rasanya menyimpanmu dalam saku jasku, hingga bisa membawamu kemana pun aku pergi," ucapnya memeluk lebih erat.


Rara menyesap wangi parfum Ken yang sangat dia sukai. Terasa lembut dan menggetarkan hatinya. Dia menikmati pelukan hangat itu, membiarkan tubuh larut dalam pelukan Ken.


"Aku juga sangat merindukan mu, Mas," jawabnya setelah Ken melerai pelukan mereka.


*


*


*


Mampir gais