Scandal With Maid

Scandal With Maid
Apa mungkin Anak Jhon?



Semua kata kasar, caci maki, hinaan yang diucapkan Tamara mengenai dirinya, jelas didengar oleh Rara. Gadis itu bahkan berasumsi kalau majikannya itu sengaja mengatakannya dengan suara lantang agar Rara juga ikut mendengar apa yang mereka bicarakan.


Awalnya hanya mereka berdua, lalu beberapa pemain lainnya, bahkan cameo yang sama sekali belum pernah dia lihat di televisi ikut mendengarkan hinaan itu hingga semua pasang mata kini tertuju melihat ke arahnya.


Kalau saja yang dikatakan Tamara adalah kebenaran, mungkin Rara akan menunduk malu. Kenyataannya wanita itu mengarang sesuka hatinya demi membuat Rara terlihat buruk di depan banyak orang.


"Impian dia sih pengen punya suami yang kaya tapi ya, harusnya dia sadar diri. Sekali babu ya, tetap babu. Gitu nggak, sih?" ucap Tamara yang memancing gelak tawa teman-temannya.


"Kalau begitu kamu harus hati-hati, Tam. Jangan sampai suamimu yang menjadi target dia," sambar Fani.


"Kau tenang saja, Fan. Suamiku tidak mungkin punya selera buruk. Cantikan aku kemana-mana lagi," jawab Tamara dengan penuh percaya diri. Nyatanya jawabannya itu mengundang anggukan dan juga tepuk tangan dari orang-orang yang tampak 'menjilat' nya.


"Oke semua stand by, kita mulai take lagi, ya," ucap sang sutradara yang berhasil menghentikan para pemain sinetron itu mengatai diri Rara.


Ingin rasanya Rara menangis. Sekuat apapun dia, tapi hinaan itu mampu membuat hatinya teriris. Nasibnya yang menjadi gadis miskin dan juga seorang pelayan membuat orang-orang terpandang yang katanya punya attitude dan berpendidikan itu, membuatnya jadi bahan tertawaan.


Tiga jam Rara menunggu sampai Tamara selesai syuting. Dia hanya duduk mengamati jalannya kegiatan itu tanpa melakukan apapun untuk Tamara, yang artinya seandainya pun Rara tidak ikut, Tamara tidak akan kesusahan.


Wanita itu sama sekali tidak membutuhkan Rara. Ada atau tidak dia di sana, tidak dibutuhkan oleh gadis itu.


"Oke kita istirahat, Tam. Udah bagus, kamu boleh istirahat 2 jam lagi kita take bagian kamu untuk episode lusa," ucap sang sutradara mengacungkan jempol ke arah Tamara, memuji akting gadis itu yang memang sangat luar biasa untuk ukuran sekelas sinetron ikan terbang.


"Hai Beb, udah kelar?" sapa seorang pria menghadang langkah Tamara sekaligus menyerahkan air mineral dingin pada gadis itu. Sorot mata Rara tentu saja tertarik untuk melihat ke arah mereka, dia mengenal pria itu.


Yang membuat Rara terkejut ternyata hingga kini John dan juga Tamara belum mengakhiri hubungan mereka, bahkan tanpa sungkan di depan banyak kru John membelai wajah gadis itu.


Sadar akan keberadaan Rara, Tamara segera menyingkirkan jemari John yang tentu saja membuat pria itu terkejut.


"Ada gadis kampung itu di sini. Aku gak ingin dia menjadi curiga, karena aku udah pernah berjanji padanya untuk mengakhiri hubungan kita," bisik Tamara mencondongkan wajahnya ke arah John.


Pria itu pun mengerti lalu memberikan kode kepada Tamara, tidak lama Rara melihat Jhon melangkah meninggalkan majikannya itu menuju satu ruangan.


"Apa kita akan pulang, Nona?" tanya Rara yang sudah mendatangi Tamara.


"Belum, kita harus syuting lagi 3 jam dari sekarang. Kamu tungguin aja di situ, kalau kamu lapar atau haus minta saja sama bagian konsumsi. Bilang kalau kamu itu pelayanku agar mereka memberikannya," ucap Tamara yang segera meninggalkan Rara di ruangan tempat para kru berkumpul.


Rara menunggu, terus menunggu. Tamara tidak terlihat. Dia juga tidak diberi makanan walaupun sudah mencoba menanyakan kepada tim konsumsi yang mengatakan bahwa persediaan mereka sudah habis. Rara yang sudah sangat lapar ingin meminta izin kepada Tamara untuk pergi keluar membeli nasi bungkus.


"Maaf, apa Mas lihat Nona Tamara?" tanya Rara kepada salah satu pria yang mungkin adalah bagian dari kru sinetron yang berpapasan dengannya di koridor.


"Kamu lurus aja, nanti setelah ada pintu ketiga, kamu belok kanan. Di situ ruangan khusus Tamara," ucap pria itu meninggalkan Rara.


Dia ingin mengetuk pintu itu namun, tampaknya pintu itu tidak terkunci dengan rapat hingga dia memberanikan diri untuk mendorong daun pintu. Di sanalah dia terpaku berdiri dengan tatapan pias, melihat pemandangan yang ditawarkan oleh kedua anak manusia yang tanpa menggunakan sehelai pakaian pun.


"Nona Tamara!" pekik Rara dengan segala keterkejutannya.


Mendapati dirinya kepergok tengah bercinta dengan John, buru-buru Tamara turun dari tubuh John dengan wajah yang malu sekaligus marah. Dia mencari pakaiannya dan dengan cepat memakainya.


Rara yang sudah cukup melihat apa yang seharusnya tidak perlu dia lihat, segera keluar dari ruangan itu. Dia berjalan keluar rumah yang dijadikan tempat syuting.


Dia meludah ketika mengingat adegan yang dipertontonkan Tamara dengan pria itu.


"Apa yang dipikirkan Tamara? Bukankah dia sudah berjanji bahwa dia akan mengakhiri hubungannya dengan John? Lagi pula saat ini dia sedang mengandung anak Ken. Mengapa tega, dia melakukan hubungan dengan pria lain?" batin Rara yang masih kebingungan atas apa yang dia saksikan.


Dia seolah baru saja menangkap basah pencuri yang ingin masuk ke dalam rumah majikannya. Keringat dingin membasahi keningnya menetes mengucur melalui tulang pipi hingga jatuh ke dagu.


"Ra kita harus bicara," ucap Tamara dari arah belakang. Rara berbalik dan mendapati majikannya itu yang tersengal-sengal mengejar dirinya sampai ke teras rumah ini.


"Nona ingin mengatakan apa lagi pada saya?" tantang Rara dengan berani. Dia juga tidak terima karena Tamara sudah membohongi Ken. Dia merasa kasihan dengan pria itu. Mereka tidak bisa bersama karena memikirkan Tamara dan juga bayinya. Namun, kenyataannya Tamara bukanlah istri yang setia yang tidak pantas dihargai dan diberikan kesetiaan oleh Ken.


Namun, apapun tafsiran dalam pikiran Rara, dia toh tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya kepada Ken. Dia merasa tidak punya hak untuk membeberkan keburukan istrinya walaupun akal sehatnya mengatakan, bahwa jika dia memberitahukan kepada Ken mengenai peristiwa ini tentu saja ini menjadi alasan yang bagus bagi pria itu untuk menceraikan istrinya, tapi setelah itu apa? Dia yakin hanya ada kabar duka yang dihasilkan dari laporannya.


Berita perselingkuhan Tamara akan sampai ke telinga mertuanya dan kondisi ayah Ken yang sedang sakit parah akan semakin memburuk dan bisa saja terjadi yang terburuk.


Rara tidak mau mengambil resiko itu, tapi dia juga ingin mengingatkan Tamara bahwa wanita itu tidak bisa mempermainkan Ken sesuka hatinya.


"Aku minta maaf. Aku khilaf, Ra. Aku mohon jangan katakan apapun kepada suamiku," mohon Tamara ketika mereka berdua sudah duduk jauh dari banyak orang, di salah satu taman yang ada di samping rumah itu.


"Betapa teganya Anda Nona. Anda menghianati Tuan Ken berkali-kali, bahkan saat ini Anda sedang mengandung anaknya. Atau..." Rara terdiam sesaat. Berkutat dengan kesimpulan yang tiba-tiba datang merasukinya. Mungkinkah anak yang Anda kandung saat ini adalah anak tuan John?"


*


*


*


kuy, mampir