Scandal With Maid

Scandal With Maid
Membantu



"Kau serius, Ra? Majikanmu akan membantu Mbak keluar dari tempat ini?" Pekik Sari bersemangat. Ini adalah kabar terbaik yang dia dengar selama berada di penjara itu.


Rara mengangguk. Dia terharu melihat kakaknya yang begitu gembira mendengar kabar bahwa Ken mau membantu mencarikan pengacara. "Iya, jadi Mbak harus tetap di sehat, jangan melakukan tindakan bodoh lagi," jawab Rara dengan raut sedih.


Harusnya dia tidak punya jadwal kunjung hari ini, tapi ketika sipir wanita yang bekerja di sana yang kebetulan adalah tetangga mereka mengabarinya tentang keadaan Sari yang saat ini di rawat di rumah sakit, karena melakukan percobaan bunuh diri. Namun, nasib baik masih berpihak pada Sari, petugas yang saat itu sedang memeriksa sel menemukan dirinya yang sudah terbujur kaku karena menenggak cairan pembersih lantai, yang entah dari mana bisa dia dapat.


"Aku janji, Ra. Aku bertahan, asal majikanmu itu bisa tepat janji, mengeluarkan ku dari tempat ini. Aku takut, Ra. Kalau pun aku masih tahanan titipan, tapi aku takut. Orang-orang di tempat ini sangat menyeramkan," ucapnya menggenggam tangan Rara.


Dua hari masuk sel, dia langsung dianiaya oleh dua orang yang satu sel dengannya. Setiap barang, baik makanan atau uang yang dititipkan Rara untuknya selalu diambil oleh mereka.


Sebenarnya janji itu benar adanya. Ken memang berjanji membantunya setelah mendengar kepedihan di hatinya. Bahkan saat bercerita mengenai keadaan Sari, tanpa sadar Rara meneteskan air mata, menunduk untuk sesaat, tidak berharap Ken melihat air matanya.


Satu penilaian Ken padanya. Rara mencoba untuk tegar. Dia tidak ingin dikasihani, walau meminta pertolongan.


"Aku hanya punya tabungan dua juta, Tuan. Aku mohon, Anda mau membantu. Aku tahu uang itu tidak akan cukup membayar jasa pengacara itu. Anda bisa meminjamkan aku uang dan memotong dari gajiku," ucap Rara dengan segenap harga dirinya.


***


Belum ada kabar dari Ken, sudah seminggu berlalu, tapi Rara masih tetap sabar. Dia yakin majikannya itu bukan pria yang suka ingkar janji.


"Ra, kok lama banget belanjanya?" tanya Wati. Pandangan beberapa pelayan di komplek itu yang juga sedang belanja sayur dan ikan seperti biasa ikut mengarahkan pandangannya pada Rara.


Ada enam orang pelayan yang berteman dekat dan begitu kompak. Mereka merasa senasib sepenanggungan sebagai seorang pelayan, jadi saling membantu, dan kadang bertemu untuk berbagi cerita seputar masalah yang terjadi di rumah tempat mereka kerja, dan gosip apa yang berhubungan dengan majikan mereka.


"Iya, Nih. Miko rewel, dia demam sejak semalam," jawab Rara singkat, mulai memilih sayur segar dan juga ikan yang ad di gerobak mang Ujang si penjaja sayur dan juga bahan memasak lainnya.


"Kasihan. Kau udah bawa ke bidan? Mungkin dia rindu ibunya, jadi sakit. Anakku di kampung biasanya begitu," jawab Munaroh, pelayan pak RT yang paling semok dengan status janda anak satu.


"Bisa jadi," timpal Markonah. "Oh, iya, gimana Ra, udah dapat kabar dari pak Ken?"


Rara menggeleng lemas. Dia paham maksud pertanyaan Markonah. Mereka sempat membahas pada pertemuan dua hari lalu. Para pelayan itu seolah membuat satu geng, yang akan melakukan pertemuan setiap tiga kali seminggu, atau bisa lebih, tergantung dengan masalah atau kabar yang ingin di bedah bersama-sama, curi-curi waktu setelah semua pekerjaan selesai dan majikan tidak ada di rumah.


"Sabar, ya, Ra. Aku berdoa, semoga kakakmu cepat bebas," lanjut sahabatnya itu yang diangguk oleh yang lain.


"Kalian mau dengar gak, kalau Tomi, akhirnya ketahuan punya selingkuhan," bisik Markonah, yang sedang membahas kekasih majikannya itu. Markonah memang menjadi pelayan wanita kaya raya yang sudah sangat berumur dan memiliki status sebagai seorang janda.


"Kau serius?" Ijah yang sejak tadi nyimak semua pembicaraan mereka. Diantara keempat teman Rara, hanya Ijah yang paling lembut dan tenang. Ijah yang punya nama lengkap Khodijah itu menjadi role model bagi mereka menjadi wanita idaman nan kalem pilihan para pria, tentu saja sangat berbeda dari ke tiga teman Rara yang lain, yang bringas dan bar-bar, sama dengan Rara.


Usia mereka yang hampir seumuran, membuat kelimanya bisa menjadi cepat akrab dan menjadi sahabat. Rara yang walaupun lebih tinggi pendidikannya dari mereka berempat, ya, walaupun belum sarjana, tapi Rara pernah jadi mahasiswa, dan saat ini masih terdaftar di kampusnya, berbeda dengan keempat sahabatnya yang lain, tak satupun diantara mereka yang lulus SMA. Namun, gak itu tidak menjadikan Rara malu dan ogah berteman dengan mereka. Markonah, adalah teman SD nya, Wati tetangganya juga sekaligus teman bermain mereka, jadi wajar kalau Rara sejak dulu menganggap mereka teman, apapun kondisi dan status mereka.


"Apa?" pekik Wati.


Kalau sudah menggosip begini, mereka bisa memakan waktu cukup lama, hingga setengah jam, tahan hanya berdiri di tepi jalan, sementara kang sayurnya saja sudah pergi dari sana.


"Malam itu Nyonya Yaris benar-benar hancur hatinya," cerita Markonah dengan menggebu-gebu. Dia sangat menikmati wajah pada sahabatnya kala mendengar cerita seru seperti yang dia sampaikan ini.


"Kasihnya majikanmu, Konah. Tapi salahnya dia juga. Ngapain Bu Yaris pacaran sama brondong, ya pastilah dipermainkan. Tomi pasti hanya ingin menguras hartanya," timpal Wati menaikkan satu alis ke atas. Menurutnya, dia memang ia ingat, Tomi hanya perlu uang Bu Yaris saja. Dia pria mata keranjang. Wati ingat, kala Tomi pulang dari rumah Bu Yaris, pria itu bahkan pernah menggodanya.


Semua pelayan yang mendengar penuturan Wati mengangguk setuju, begitu pun dengan Rara. Sering ikut pertemuan dengan para sahabat uniknya ini membuat Rara semakin hobi bergosip.


"Jadi, apa yang saat ini dilakukan Bu Yaris? pasti down banget deh," sambar Rara memberikan tebakan. Dia sangat tahu gimana rasanya sakit hati di tinggal orang yang kita sayangi.


"Mmm, dia lagi ke salon. Katanya ingin mempercantik diri, biar bisa segera dapat brondong, yang bahkan usianya dibawah Tomi," jawabnya tegas.


Hampir saja keempat teman Markonah lainnya terjungkal kaget, tebakan mereka yang menganggap Bu Yaris sedih, nyatanya salah total.


"Udah dulu ya. Aku mau masak dulu," ucap Rara yang melirik jarum jam di pergelangan tangannya.


"Iya juga. Aku pun pamit. Kita bubar jalan," lanjut Markonah segera mengangkut barang belanjaan tadi yang sempat dia letakkan di bawah.


Rara segera mengeksekusi belanjanya. Memeriksa sayur bayam yang rencananya akan dia rebut saja dan memberikan taburan bawang goreng di atasnya sebagai hiasan. Masih ada waktu tiga jam lagi sebelum Ken pulang. Dia ingin menemui pria itu. Bukan, bukan karena rindu, lagi pula mana mungkin rindu!


Tidak terasa, pekerjaan yang banyak dan tentu saja membuat wajah Rara sedikit berminyak tadi, rampung juga. Hanya tinggal sayur bayam yang belum dimasak.


"Tuan Ken, selamat datang," Sapa Rara yang sudah tampak segar karena habis mandi hanya ingin terlihat rapi di depan pria itu.


"Eh, Ra. Kau sudah lama menungguku tampaknya," jawab Ken. Sebenarnya dia sudah tahu apa yang dinantikan gadis itu dari dirinya. Hanya saja, Ken suka menggoda Rara dengan membuat gadis itu kesal dan ngambek.


"Pengacaranya?"


"Oh itu. Kau tenang saja. Minggu depan kakakmu akan keluar."


*


*


*


Mampir gais