Scandal With Maid

Scandal With Maid
Namanya Erlang



Seminggu sudah Rara bekerja di rumah keluarga Adiaksa. Ketekunan dan ketelatenannya membuat penilaian Susanti berubah padanya. Dia melihat kalau Rara adalah gadis baik, dan sopan. Terlebih kala mengetahui kalau Rara adalah mahasiswi, membuat Susanti dan Damian yang kondisinya sudah membaik semakin peduli pada Rara.


Selama itu pula, hidup Rara terasa tenang. Dia tidak perlu menghindari pertemuannya dengan Ken, karena saat pria itu berkunjung, Rara pasti sedang di luar. Jadi, selama seminggu penuh, mereka berdua tidak pernah bertemu lagi.


Rara tenang, tidak dibayang-bayangi dosa dan amukan Tamara, tapi bagaimana dengan hatinya? Mengapa terasa gersang?


Mereka mendukung kegiatan gadis itu, asal pagi dan juga sepulang kuliah segera mengurus Damian.


Keputusan Tamara untuk memutasinya ke ruang mertuanya ternyata memberikan ketenangan bagi Rraa. Gadis itu juga merasa nyaman bekerja di sana.


Bagi Rara yang terbaik dari semua itu adalah dia bisa jauh dari Ken.


***


"Makasih, Er," bisik Rara menjatuhkan bokongnya di bangku yang sudah diambilkan Erlangga untuknya, sesaat setelah pria itu mengangkat tasnya.


"Kenapa telat lagi? Kalau tahu gitu kan tadi aku bisa singgah buat jemput," ucap Erlangga tersenyum lembut pada gadis itu.


Rara tidak menjawab, hanya tersenyum karena tepat saat itu dosen pengampu mata kuliah itu masuk.


Rara bersyukur, sedikit demi sedikit kehidupannya sudah membaik. Jualan Sari semakin laris, dan kini dia sudah bisa kembali kuliah. Tidak perlu memikirkan biaya kuliah, karena gaji yang ditawarkan Damian dan Susanti lebih dari cukup.


Hampir dua jam mata kuliah khusus itu dia ikuti hingga dosen pengajar pun akhirnya keluar. Satu hari ini, Rara hanya mengikuti satu mata kuliah saja.


"Jadikan, kita nonton?" tanya Erlang yang sudah memasukkan semua buku dan diktat nya ke dalam tas.


Rara mengernyitkan dahi, dengan mengulum bibirnya. Dia sama sekali lupa, dan tentu saja sekarang dia jadi gak enak hati.


"Sorry, Er, aku benar-benar lupa akan janji kita," jawab Rara menyesal. Banyaknya kegiatan di kampus dan juga di rumah membuat Rara melupakan janjinya.


"Ya udah, pergi sekarang aja. Bisanya juga kamu pula sore," jawab Erlang masih ngotot ingin menagih utang.


"Tapi kali ini aku benar-benar gak bisa, Er. Aku harus cari gaun, besok malam, acara resepsi pernikahan sahabatku," jawab Rara.


"Sahabatmu?" delik Erlangga. Setahunya, hanya dia orang yang dekat dengan Rara. Gadis itu disenangi banyak teman-temannya di kampus, tapi tidak ada satupun yang dekat dengan Rara, karena gadis itu tidak punya waktu untuk nongkrong bersama mereka sehabis pulang kuliah.


"Oh, iya. Ijah mengadakan resepsi besok malam," sahut Rara pendek.


"Aku boleh ikut? Kau pasti harus punya pasangan datang ke sana, kan?"


"Sorry, Ra. Kau sudah saatnya mandiri. Cari pasangan mu sendiri yang akan menemanimu pergi ke pesta Ijah," ucap Markonah kala Rara menanyakan perihal keberangkatan mereka.


"Jadi, kita pergi sendiri-sendiri?" tanya Rara memastikan.


"Ho-oh." Hanya itu balasan terakhir dari Markonah sebelum menutup telepon kemarin.


"Kamu mau ikut? Gak malu berteman denganku?" tanya Rara sedikit ragu. Dia memang belum mengetahui latar belakang Erlang, karena dia merasa tidak perlu untuk menyelidiki atau mencari tahu mengenai status sosial seseorang, karena bagi Rara untuk berteman tidak memandang harta, jabatan, dan status selama orang itu baik dan juga sopan padanya tentu saja Rara mau berteman.


Namun, dari penampilannya Rara bisa menebak bahwa Erlang adalah anak orang kaya. Mobilnya bagus, begitupun dengan pakaiannya. Tapi, lagi-lagi harus digarisbawahi, bahwa Rara berteman dengan Erlang, bukan karena apa yang dimiliki pria itu, tapi karena sikap santun dan kebaikan hati Erlang.


"Kamu ngomong apa, sih? Memangnya kamu kenapa, hingga aku harus malu berteman denganmu? Udah, kamu bilang tadi mau cari gaun, kan? Ayo, aku temani," ucap Erlang menarik tangan Rara keluar dari ruangan.


tampaknya Erlang mengetahui banyak tempat yang indah sarang gaun yang pasti disukai oleh banyak wanita pria itu membawa Rara ke sebuah butik ternama dan meminta pelayannya yang memang mengenalnya untuk mencarikan sebuah gaun yang cocok dipakai Rara besok malam


"Er, kenapa kau bawa aku ke tempat seperti ini? Semua pakaian di sini pasti sangat mahal, aku nggak punya uang untuk membayarnya," bisik Rara saat pelayan butik itu sudah masuk ke dalam guna mengambil gaun yang dikira cocok untuk Rara.


"Kamu tenang aja, Ra. Gak semahal dugaan kamu. Lagi pula, kali ini biar aku yang bayar," jawab Erlang lembut. Dia suka sekali menatap ke dasar netra Rara, begitu tenang.


Rara bukan tidak pernah menduga kalau Erlang menyukainya. Dari semua perhatian dan juga perbuatan baik yang dilakukan Erlang padanya, mencerminkan bahwa pria tampan itu memiliki perasaan untuk nya.


Namun, Rara tidak mau menepuk dada lebih dulu. Lagi boleh sejujurnya dia juga tidak memiliki perasaan apapun kepada Erlang. Terkadang dia mengutuk diri serta kebodohannya sendiri, mengapa masih saja terikat dengan bayang-bayang masa lalunya bersama Ken, seolah dirinya tidak mampu berpisah dari pria itu.


Dia benci dirinya yang plin-plan. Awal perpisahan mereka, Rara lah yang meminta pria itu menjauh, dan kini setelah permintaannya dipenuhi oleh Ken, seolah pria itu tidak pernah mengenal Rara lagi, anehnya membuat Rara merasakan sakit di hatinya.


Namun itulah wanita. Setiap keputusan yang diambil terkadang sangat plin plan. Di bibir ingin ini, tapi lain di hati, dan untuk mengulang kembali ke masa itu tentu saja hal itu tidak mungkin dan Rara malu untuk menegur Ken lebih dulu.


Gaun berwarna biru bercampur dengan sentuhan perak menjadi pilihan Rara, lebih tepatnya Erlang lah yang memilihnya untuk gadis itu.


"Apa aku bilang, Kamu terlihat sempurna dengan gaun itu," ucap Erlang yang terpesona. Sejak tadi tidak berkedip, dan terus menyimpan Rara dalam ingatannya saat ini.


"Yang benar, Er? Gak terlalu berlebihan?" tanya Rara kurang percaya diri.


"Kami itu ya, udah pernah jadi model kosmetik terkenal, tapi masih belum percaya diri juga dengan pesona yang ada di dalam dirimu. Kamu cantik, sangat cantik," ucap Erlang meyakinkan gadis itu dan pada kalimat terakhirnya kata cantik diucapkan Erlan dengan sepenuh hati hingga bisa dirasakan oleh Rara ketulusan Erlang.


Sedikit banyak pujian pria itu membuatnya kini lebih percaya diri.


"Terima kasih, Er. Terima kasih banyak."