
Langkah Rara terhenti di samping Ken yang sudah sejak tadi gelisah menunggunya di atas pelaminan. Namun, begitu melihat Rara muncul dengan gaun kedua yang dia pakai malam ini, yang mampu menyihirnya hingga kehilangan kata-kata, baru'lah dia dapat bernapas dengan lega.
"Kau sangat cantik, Ra. Aku begitu beruntung memiliki istri secantik dirimu," bisiknya mencium kening Rara, tidak peduli dengan pandangan beberapa tamu yang tepat melihat ke arah mereka.
Kebanyakan pria akan merasa tenang setelah melakukan ijab kabul, pengambilan sumpah atas wanita yang dinikahinya, karena kini dia lah pemilik sang pengantin wanita, tapi tidak dengan Ken. Setelah acara sakral itu pagi tadi, yang berlangsung lancar dan penuh haru, ditambah sedikit berdrama, karena semua teman-teman Rara sesama pelayan datang.
Dia ingin acara penting itu dihadiri orang-orang yang memang peduli dan menyayanginya. Baru 'lah saat acara resepsi, Rara mengundang teman-teman kampusnya.
Markonah tidak bisa menghentikan tangisnya. Berulang kali memeluk Sari setelah menatap haru kala mendengar Ken mengucap sumpahnya.
"Si ganteng itu akhirnya sah menjadi milik Rara. Aku akan membuat perhitungan pada adikmu itu, Mbak. Dia sama sekali gak cerita kalau selama ini dia sudah menjalin asmara dengan kekasih impian ku," ucap Markonah disela isak tertahannya.
Sari hanya bisa tertawa pelan, sembari memberi kata penghiburan pada Markonah. Secara tidak langsung, sebenarnya Markonah yang menjadi jembatan untuk Rara bisa bertemu dengan Ken dan pada akhirnya berjodoh lalu kini menjadi pasangan suami istri.
Kalau saja waktu itu Markonah tidak membawanya untuk bekerja di rumah Ken, mungkin saja pernikahan ini tidak akan pernah terjadi.
Dari tempatnya Rara menatap Markonah dan memberikan senyum serta mengangguk hormat kepada sahabatnya itu. Dia tahu bahwa Markonah menyimpan kekecewaan atas sikapnya yang tidak terbuka kepadanya, tapi nanti setelah selesai acara pesta pernikahan ini, dia akan menemui Markonah dan menceritakan semuanya sekaligus memohon maaf karena merahasiakan semua ini.
Acara sesi foto pun dimulai. Fotografer mengarahkan para anggota keluarga terlebih dahulu melakukan sesi pemotretan lalu setelahnya untuk para tamu undangan dan juga sahabat.
Foto pertama untuk keluarga besar Adiaksa. Pengantin diapit oleh Susanti dan juga Damian yang tampak begitu gembira. Sejak tadi tidak putus-putusnya melepas senyum.
Setelahnya Sari dan Miko mengambil tempat di sebelah Rara. Berulang kali fotografer itu mengingatkan Sari untuk tidak menangis, tapi gadis itu susah untuk melakukannya. Dia teringat kepada ayah mereka yang pasti begitu bangga dan ikut berbahagia menyaksikan pernikahan Rara dengan pria yang dicintainya.
"Mbak yang gaun ungu, jangan nangis dong, kurang bagus di kamera, jadi agak nge blur," ucap sang fotografer.
"Maaf," ucap Sari malu. Rara menoleh ke arah Sari yang tepat berdiri di sampingnya, meremas erat tangan Rara. Dia bisa merasakan bahwa kebahagiaan yang besar setengah dirasakan Sari hingga tidak mampu membendung air mata bahagianya.
"Mbak pasti teringat ayah, ya? Jangan nangis Mbak. Ayah pasti lihat kita dari surga," ucap Rara dengan suara serak, tenggorokannya tercekat menahan air mata. Sari mengangguk lalu menarik napas panjang sebelum memasang senyum yang pas di wajahnya untuk diambil gambar mereka.
Kalau tadi acara foto bersama keluarga terkesan sarat dengan kesedihan dan air mata bahagia, berbeda ketika sesi foto bersama teman-teman Rara dan juga Ken.
Bisa ditebak, kalau kehebohan terjadi ketika berfoto bersama Markonah, Munaroh, Wati dan juga Ijah yang turut hadir walau dalam keadaan hamil besar.
Tubuh Rara bisa lelah, tapi hatinya begitu memuncah, hingga pegal yang dirasakan di tubuhnya bisa diabaikan. Gaun yang dipakai begitu berat, tapi dia tetap berusaha untuk tersenyum kepada semua orang yang menghadiri acara pernikahannya dengan Ken.
"Selamat ya, buat kalian. Doaku yang paling tulus untuk kebahagiaan mu, Ra," ucap Erlang yang datang malam itu. Dia mencoba menguatkan dirinya untuk menghadiri acara pernikahan Rara, walaupun terasa berat tapi akhirnya langkahnya berhasil sampai ke tempat itu.
Tidak akan mudah bagi seseorang untuk menghadiri acara pernikahan mantannya. Rara salut kepada Erlang yang memiliki jiwa satria.
"Selamat untukmu juga. Ingat, Ken, apa yang aku ucapkan saat kita bicara di kampus dulu. Aku harap kau adalah pilihan terbaik Rara, yang akan selalu membahagiakannya. Jangan pernah aku dengar kau menyakitinya," ucap Erlang ketika tiba giliran menyalami pria itu.
Kalimat itu tidak dapat didengar oleh Rara karena Erlang membisikkan saat dia memeluk Ken.
Walau terkesan Erlang mengucapkan dengan nada memerintah dan Ken paling tidak suka diperintah, tapi akhirnya pria itu mengangguk, karena kenyataannya apa yang dikatakan Erlang sangat benar.
Tidak hanya karena janjinya pada Erlang untuk membahagiakan Rara, dia mempunyai kewajiban untuk melakukan hal itu karena kini, Rara bertanggung jawabnya.
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa lama sekali berpelukan?" ucap Rara mengamati punggung Erlang yang sudah menjauh, kembali ke mejanya bersama teman-teman satu angkatan Rara.
"Rahasia para lelaki," jawab Ken tersenyum, dan kembali tangannya tidak bisa berhenti untuk tidak membelai pipi gadis itu.
"Aku mencintaimu, Ra. Sangat," bisiknya pelan yang berhasil membuat blush on Rara semakin terlihat jelas di pipinya. "Sayang, kau sudah lelah? Kita pamit undur diri ya? Aku akan bilang sama Ibu," lanjut Ken yang melihat kelelahan di wajah Rara.
"Eh, jangan dong. Biarin aja, Mas. Aku masih tahan kok. Lagi pula, masih banyak tamu yang mau salaman dan ngasih ucapan selamat buat kita,' ucap Rara menepuk-nepuk pelan punggung tangan Ken.
Banyaknya para tamu yang datang ke atas panggung untuk memberikan ucapan selamat kepada mereka membuat Ken merasa sangat bosan. Kalau bukan karena Rara mencegahnya untuk tetap bertahan di atas sana, dia pasti akan memilih sudah menemui ibunya dan memaksa agar dia dan Rara bisa turun dan undur diri, untuk beristirahat di kamar hotel yang sudah disiapkan untuk tempat mereka beristirahat.
"Mas," desis Rara mengencangkan pegangan tangannya pada Ken kala matanya menangkap siluet Tamara yang baru saja memasuki aula.
Wanita itu langsung mencari keberadaan pengantin dan ketika sudah melihat, Tamara bergegas mendatangi mereka ke pelaminan, ingin menyalami serta mengucapkan selamat untuk Rara dan Ken.
"Akhirnya kalian menikah juga, ya. Selamat untuk kalian berdua," ucap Tamara mulai dengan menyalami Rara terlebih dulu. "Selamat berbahagia, Ra. Aku titipkan Kenzio padamu. Semoga kalian menjadi pasangan yang selalu berbahagia sampai kakek nenek," lanjut Tamara tulis, mencium pipi kiri kanan Rara.
"Makasih, Mbak, sudah datang," balas Rara dengan senyum. Ucapan tulus dari Tamara ternyata mampu membuat perasaannya tenang. Kini tanpa beban dia bisa menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Ken.
"Selamat, Ken. Aku ikut gembira untukmu. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku, dan aku yakin, Rara adalah pilihan tepat," ucap Tamara menjabat tangan Ken begitu erat dan lama. Saat menatap Rara, tidak bisa ditepis bahwa Tamara kembali ke masa itu, mengingat hari dimana dia begitu bahagia menjadi pengantin yang cantik berdiri di samping Ken, sama seperti Rara saat ini.
Namun, lagi-lagi dihempaskannya bayangan itu. Dia tidak ingin tersiksa dengan batinnya, yang terus menyalahkan dirinya sendiri karena kebodohan yang dia lakukan.
Tamara 'lah yang sudah menghancurkan rumah tangganya sendiri. Apa yang sudah diperbuat, selayaknya dipertanggungjawabkan karena begitulah orang dewasa hidup, bukan?
"Terimakasih, aku juga mendoakan yang terbaik untukmu," balas Ken melepas tangan Tamara, karena kini tangannya hanya milik Rara, istrinya.